Suara orang berdo’a terdengar jelas dari pendopo kecil dari sebuah pegunungan di Kecamatan Imogiri, Bantul Yogyakarta, Minggu (8/2) sore. Itu adalah suara para peziarah di makam raja-raja Mataram. Komplek makam itu dikenal dengan nama Imogiri.
Pertama kali memasuki Imogiri, mata ini ditunjukkan dengan tembok-tembok besar berrwarna kusam yang berdiri kokoh di atas gunung. Beberapa abdi dalem berbusana Jawa lengkap menyambut dan melayani para peziarah.
Memasuki gapura pertama, peziarah akan melihat makam Sultan Agung Hanyokrokusumo. Makamnya tidak seperti pada umumnya. Bentuknya sangat besar dan terdiri dari tumpukan batu bata yang tertata rapi. Namanya juga raja, walaupun sudah meninggal pun masih tetap dimuliakan.
Untuk bisa sampai di atas, peziarah bisa melewati ratusan bahkan ribuan anak tangga. Atau bisa juga menggunakan jasa ojek. Saya sendiri mengendarai motor, jadi tidak perlu ojek atau menaiki tangga. Di pendopo kecil di dalam komplek makam saya bertemu dengan salah seorang rombongan ziarah dari Blitar. Perempuan setengah baya itu terlihat lelah karena sudah empat hari melakukan perjalanan wisata realigi. “Dari Banten, rombongan menuju ke Imogiri. Setelah itu tujuannya adalah ke Ponorogo,” katanya.
Minggu sore makam sudah tutup. Bukan berarti kok sia-sia tujuanku datang ke Imogiri ini. Esensi dari kegiatan ziarah adalah berkunjung. Dan ini sudah kulakukan. Berdo’a juga tidak harus dekat. Jarak tidak menjadi masalah, apalagi cuma terhalang sebuah pintu besar.
Peziarah diperbolehkan mengambil air keramat dari kendi peninggalan keraton. Menurut salah seorang petugas kebersihan di sana, air dalam empat kendi besar itu diganti setiap satu tahun sekali. “Kendi itu merupakan hadiah dari luar keraton,” tuturnya.
Imogiri, Kerajaan di atas Gunung
Suasana sore itu tampak sepi. Para pedagang hanya duduk menunggu dagangannya sambil berharap ada peziarah yang membeli dagangannya. Hari semakin sore. Suasana di komplek makam pun semakin sepi. Para pedagang besiap membawa pula seluruh dagangannya. Begitu pula dengan saya yang harus segera pulang.
Sebelum pulang sempat pula saya mengelilingi komplek makam Imogiri. Dalam istilah setempat komplek makam disebut dengan “benteng.” Saya sempat mengelilingi benteng. Dari salah seorang petugas kebersihan yang kutemui saya menjadi tahu bahwa setiap Jum’at dan Selasa Kliwon banyak ornag yang melakukan seperti apa yang kulakukan, yaitu mengelilingi benteng. Selain dua hari itu, ada lagi yaitu pada malam satu Suro.
Makam Imogiri tebagi dua komplek. Di sebelah barat adalah makam seluruh keluarga dan kerabat Pakubuwono (PB) dari Kasunanan Surakarta. Di sebelah timur adalah makam keluarga dan kerabat Hamengkubuwono (HB) dari Kasultanan Yogyakarta. Saat terjadi gempa di Yogyakarta tahun 2006, Imogiri pun tidak luput dari musibah itu. Perlu waktu sepuluh bulan untuk memperbaiki makam raja yang juga termasuk benda cagar budaya (BCB).
Seluruh abdi dalem yang bertugas di Imogiri adalah masyarakat asli dukuh Pajimatan, Girirejo, Imogiri. Begitu juga dengan pedagang yang ada di komplek makam raja ini. Kehadiran makam raja ini cukup berpengaruh bagi pendapatan masyarakat setempat. Entah itu dari perdagangan, jasa ojek, parkir maupun jasa kamar mandi.
Komplek pemakaman raja ini terletak di Pajimatan, Girirejo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Saya menyebutnya komplek ini sebagi istana di atas gunung karena memang bangunannya sangat megah. Tembok tebal dan pintu yang penuh dengan ukiran menjadi ciri Imogiri. Selain itu, ribuan tangga juga menjadi tantangan tersendiri bagai para peziarah yang ingin bisa sampai di atas.
Inilah makam raja Jawa. Dia tidak hanya menjadi raja ketika masih hidup di dunia. Bahkan ketika sudah meninggal pun, status sebagai orang besar masih di bawanya. Dari bawah, Imogiri terlihat berdiri sangat indah dan kokoh. Inilah makam raja Jawa yang agung. Sebagaimana ketika masih hidup, ketika meninggal pun di makamkan di kerajaan, kerajaan di atas gunung.
*Diambil dari catatan harian edisi, Minggu, 13 Februari 2011 pukul 14.50 WIB. Ditulis ulang dengan berbagai perubahan seperlunya.
Jumat, 01 April 2011
Jalan-Jalan ke Bumi Kutai
Selasa (8/3) lalu saya berada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selama sepekan saya mengkuti Kongres PMII ke-17 di Pulau Borneo.
Saya ingat bahwa di bumi Kalimantan ini pernah terdapat sebuah kerajaan tertua di Nusantara ini. Kerajaan itu adalah Kerajaan Kutai. Kerajaan yang bercorak Hindu ini memiliki bukti sejarah tertua. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam.
Meski saya berada di Kalimantan Selatan, dan (mungkin) bukan wilayah Kerajaan Kutai, namun saya bisa berimajinasi bagaimana kerajaan Kutai dulu. Di zaman yang sudah modern ini saja keadaan Kalimantan masih sangat sepi. Jumlah penduduk masih sepi dan lahan yang gersang. Tidak berlebihan jika saya mengatakan peradaban di Kalimantan ini lebih rendah jika dibandingkan dengan Jawa. Padahal umunya kerajaan itu memiliki peradaban yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah yang masih hutan belantara.
Dengan adanya fakta ini, bisa jadi ada peradaban yang lebih tua daripada Kutai, Kalimantan Timur. Bisa jadi peradaban tertua itu adalah di Jawa. Atau Jawa menjadi pusat peradaban saat itu karena bumi Kalimantan yang kurang subur sehingga peradaban itu berpindah ke Jawa.
Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh. Maklumlah pada saat itu belum banyak tradisi untuk menulis. Jadi ada kesulitan untuk mengetahui keadaan masa lampau.
Keberadaan kerajaan ini hanya diperoleh dari Yupa (prasasti dalam upacara pengorbanan) yang berasal dari abad IV. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Nusantara. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.
Nama Maharaja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara putranya yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu. Hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa kata “Warman” berasal dari bahasa Sangsekerta. Kata itu biasanya digunakan untuk ahkiran nama-nama masyarakat atau penduduk India bagian Selatan.
Aswawarman mungkin adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar “Wangsakerta” yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki tiga orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.
Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur. Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, sehingga menyebabkan sangat sedikit orang yang mendengar namanya.
Sesuai dengan ilmu sejarah yang menyebutkan bahwa not document not history. Artinya sejarah itu sangat tergantung dari sumber (evidence). Tanpa ada bukti maka tidak ada sejarah. Bukti tersebut bisa berupa artefak, monumen, dokumen atau sumber tertulis lainnya. Dan yang perlu diingat, sejarah adalah ilmu yang empiris, artinya terbuka untuk dikaji ulang dan bisa dibuktikan.
Seandainya di kemudian hari ditemukan sumber sejarah yang lebih kuno lagi daripada Kerajaan Kutai, maka keberadaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Nusantara akan gugur dengan sendirinnya. Artinya sejarah itu seperti hipotesis atau dugaan sementara yang bisa dikaji ulang. Namun pertanyaannya, siapakah yang mampu menggali sumber sejarah di abad ke IV itu. Jika para ahli saja sudah merumuskan hal itu, maka mau apa lagi. Tidak salah jika “sejarah itu adalah kebenaran yang disepakati.”
Menurut Rafles, salah seorang peserta Kongres PMII dari Kutai yang saya temui, dia menjelaskan bahwa ada mitos yang menyelimuti kerajaan tertua di Nusantara tersebut. “Masa berakhirnya karena kerajaan tersebut ditimbun menggunakan karang oleh seorang yang sakti,” jelasnya.
Memang mitos itu hanya sekadar cerita rakyat yanng tidak sepenuhnya bisa dijaddikan sumber sejarah. Mitos itu ada karena masyarakat belum mengenal tulisan (masih tradisi lisan) atau mitos itu diciptakan untuk melegitimasi sebuah kekuasaan. Selain itu, di Kalimantan timur masih terdapat mitos lain, yakni kepercayaan masyarakat sekitar bahwa siapa yang meminum air Sungai Mahakam akan kembali ke tempat itu untuk kedua kalinya. “Masalah waktu tidak ada batasannya,” lanjut mahasiswa Universitas Palangkaraya ini.
Samarinda adalah ibukota dari Kalimantan Timur merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia. Pulau ini memiliki kekayaan batu bara nomor satu menyusul kemudian Kalimantan Selatan. Namun mengapa pulau ini tidak lebih ramai dan berkembang sebagaimana Pulau Jawa.
Ditulis di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (10/3) pukul 12.05 WITA
Saya ingat bahwa di bumi Kalimantan ini pernah terdapat sebuah kerajaan tertua di Nusantara ini. Kerajaan itu adalah Kerajaan Kutai. Kerajaan yang bercorak Hindu ini memiliki bukti sejarah tertua. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam.
Meski saya berada di Kalimantan Selatan, dan (mungkin) bukan wilayah Kerajaan Kutai, namun saya bisa berimajinasi bagaimana kerajaan Kutai dulu. Di zaman yang sudah modern ini saja keadaan Kalimantan masih sangat sepi. Jumlah penduduk masih sepi dan lahan yang gersang. Tidak berlebihan jika saya mengatakan peradaban di Kalimantan ini lebih rendah jika dibandingkan dengan Jawa. Padahal umunya kerajaan itu memiliki peradaban yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah yang masih hutan belantara.
Dengan adanya fakta ini, bisa jadi ada peradaban yang lebih tua daripada Kutai, Kalimantan Timur. Bisa jadi peradaban tertua itu adalah di Jawa. Atau Jawa menjadi pusat peradaban saat itu karena bumi Kalimantan yang kurang subur sehingga peradaban itu berpindah ke Jawa.
Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh. Maklumlah pada saat itu belum banyak tradisi untuk menulis. Jadi ada kesulitan untuk mengetahui keadaan masa lampau.
Keberadaan kerajaan ini hanya diperoleh dari Yupa (prasasti dalam upacara pengorbanan) yang berasal dari abad IV. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Nusantara. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.
Nama Maharaja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara putranya yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu. Hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa kata “Warman” berasal dari bahasa Sangsekerta. Kata itu biasanya digunakan untuk ahkiran nama-nama masyarakat atau penduduk India bagian Selatan.
Aswawarman mungkin adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar “Wangsakerta” yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki tiga orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.
Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur. Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, sehingga menyebabkan sangat sedikit orang yang mendengar namanya.
Sesuai dengan ilmu sejarah yang menyebutkan bahwa not document not history. Artinya sejarah itu sangat tergantung dari sumber (evidence). Tanpa ada bukti maka tidak ada sejarah. Bukti tersebut bisa berupa artefak, monumen, dokumen atau sumber tertulis lainnya. Dan yang perlu diingat, sejarah adalah ilmu yang empiris, artinya terbuka untuk dikaji ulang dan bisa dibuktikan.
Seandainya di kemudian hari ditemukan sumber sejarah yang lebih kuno lagi daripada Kerajaan Kutai, maka keberadaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Nusantara akan gugur dengan sendirinnya. Artinya sejarah itu seperti hipotesis atau dugaan sementara yang bisa dikaji ulang. Namun pertanyaannya, siapakah yang mampu menggali sumber sejarah di abad ke IV itu. Jika para ahli saja sudah merumuskan hal itu, maka mau apa lagi. Tidak salah jika “sejarah itu adalah kebenaran yang disepakati.”
Menurut Rafles, salah seorang peserta Kongres PMII dari Kutai yang saya temui, dia menjelaskan bahwa ada mitos yang menyelimuti kerajaan tertua di Nusantara tersebut. “Masa berakhirnya karena kerajaan tersebut ditimbun menggunakan karang oleh seorang yang sakti,” jelasnya.
Memang mitos itu hanya sekadar cerita rakyat yanng tidak sepenuhnya bisa dijaddikan sumber sejarah. Mitos itu ada karena masyarakat belum mengenal tulisan (masih tradisi lisan) atau mitos itu diciptakan untuk melegitimasi sebuah kekuasaan. Selain itu, di Kalimantan timur masih terdapat mitos lain, yakni kepercayaan masyarakat sekitar bahwa siapa yang meminum air Sungai Mahakam akan kembali ke tempat itu untuk kedua kalinya. “Masalah waktu tidak ada batasannya,” lanjut mahasiswa Universitas Palangkaraya ini.
Samarinda adalah ibukota dari Kalimantan Timur merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia. Pulau ini memiliki kekayaan batu bara nomor satu menyusul kemudian Kalimantan Selatan. Namun mengapa pulau ini tidak lebih ramai dan berkembang sebagaimana Pulau Jawa.
Ditulis di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (10/3) pukul 12.05 WITA
Sabtu, 11 Desember 2010
Membedah Karya Oswald Spengler dan Arnold Toynbee
A. Karya Oswald Spengler
Pemikiran sejarah visioner dari filusuf sejarah Oswald Spengler (1880-1836) tertuang dalam karya monumental yaitu Decline of the West (keruntuhan dunia Barat). Karya yang diterbitkan pada 1918.
Dalam karyanya, Spengler meyakini adanya kesamaan dasar dalam sejarah kebudayaan besar dunia, sehingga memungkinkan ia dapat memprediksi secara umum tentang jalannya sejarah masa depan (the course of future history). Predeksi Spengler terutama menyatakan bahwa kebudayaan Barat telah menemui ajalnya (doom), setelah ia melihat awal dan berakhirnya kebudayaan Barat (the beginning of the end). Ia percaya bahwa setiap kebudayaan berlangsung melalui sebuah siklus mirip dengan siklus kehidupan organisme. Kebudayaan dilahirkan, tumbuh kuat (grow strong), melemah (weaken), dan akhirnya mati (die).[1]
Oswald Spengler yang dilahirkan di Blankenburg, Jerman Tengah berpandangan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan keruntuhan. Proses perputaran itu memakan waktu sekitar seribu tahun. Dalam karya monumentalnya Spengler meramalkan keruntuhan Eropa. Ramalan itu didasarkan atas keyakinan bahwa gerak sejarah ditentukan oleh hukum alam (fatum), yang dalam bahasa Jerman disebut schiecksal.
Dalil Spengler ialah bahwa kehidupan sebuah kebudayaan dalam segalanya sama dengan kehidupan tumbuhan, hewan, manusia dan alam semesta. Persamaan itu berdasarkan kehidupan yang dikuasai oleh hukum siklus sebagai wujud dari fatum. Fatum adalah hukum alam yang menjadi dasar segala hukum kosmos, setiap kejadian, setiap peristiwa akan terjadi lagi dan terulang lagi.
Tiap-tiap masa pasti datang menurut waktunya, Itulah keharusan alam yang mesti terjadi. Seperti halnya historical materialism, paham Spengler tentang kebudayaan pasti runtuh apabila sudah melewati puncak kebesarannya. Oleh sebab itu keruntuhan suatu kebudayaan dapat diramalkan terlebih dahulu menurut perhitungan. Suatu kebudayaan mendekati keruntuhan apabila kultur sudah menjadi civilization (kebudayaan yang sudah tidak dapat tumbuh lagi). Apabila kultur sudah kehilangan jiwanya, maka daya cipta dan gerak sejarah akan membeku.[2]
Lebih lanjut Spengler membedakan dua pengertian yakni kultur dan zivilisation. Istilah pertama adalah kebudayaan yang masih hidup, sedangkan yang kedua adalah peradaban, atau kebudayaan yang telah mati. Dalam Decline of the West terangkum filsafat Spengler yang terangkum dalam tiga konsep yaitu relativisme, pesimisme dan determinisme.
Pesimisme berati perkembangan masyarakat ditentukan oleh fatum, bukan manusia sehingga manusia hidup dalam sikap pesimis. Tidak mampu merubah keadaan. Dalam dunia Islam termasuk kelompok Jabariyah. Selanjutnya, determinisme berarti manusia tidak bisa menentukan jalannya sejarah. Perjalanan sejarah ditentukan oleh faktor dari luar diri manusia. Dan yang terakhir adalah relativisme. pandangan ini berarti merupakan konsekuensi bahwa sejarah tidak memiliki patokan yang jelas dan masing-masing kebudayaan memiliki isinya sendiri-sendiri. Dengan demikian suatu kebudayaan tidak pernah bisa dimengerti oleh kebudayaan lain.
B. Arnold Toynbee (1881-1975)
Karya utama dari filusuf Inggris, Arnold Toybe adalah A Study of History. Tulisan ini banyak menimbulkan perdebatan panjang sejak zaman Hegel (1770-1831). Karya ini terdiri dari 12 jilid. Tiga jilid pertama terbit tahun 1934, tiga jilid kedua terbit tahun 1939, selanjutnya jilid tujuh sampai sepuluh terbit 15 tahun kemudian.
Dasar karya besarnya tersebut adalah saat dimulainya Perang Dunia I. Toynbee sadar akan adanya kesamaan antara sejarah Yunani dan Romawi kuno dengan masa itu. Dengan demikian dia beranggapan mungkin ada kesamaan pola dimanapun dalam sejarah umat manusia, seperti halnya yang tercantum dalam Decline of the West karya Oswald Spengler. Prediksi Spengler terutama menyatakan bahwa kebudayaan Barat telah menemui ajalnya (doom) setelah dia melihat awal dari berakhirnya kebudayaan Barat. Spengler menggambarkan sikap pesimitis peran manusia dalam mempertahankan kehidupannya.
Arnold Toynbee tidak puas dengan teori Spengler. Alasannya karena Spengler hanya mempelajari di peradaban yang sangat tidak memadahi dan pesimitis. Sehingga dalam karyanya A Study of History Toynbe menyatakan pemikiran visionernya untuk menjawab persoalan timbul-tenggelamnya peradaban dengan teorinya Challenge and Response (tantangan dan jawaban). Ia memberi contoh tentang kelahiran peradaban Mesir yang menurut pendapatnya merupakan sebuah respon terhadap tantangan kegersangan lingkungan alam sekitarnya yang mengancamnya, yaitu Padang Pasir Sahara. Dihadapkan pada tantangan ini, Mesir Kuno mengeringkan rawa-rawa di wilayah Sungai Nil bagian selatan dan diterusan dengan segala respons positif sehingga melahirkan peradaban besar dalam sejarah.[3]
Toynbe lebih menekankan peran manusia yang memiliki kekuatan untuk mengubah perjalanan masa depan dan tetap menjaga peradapan dari kehancuran. Ini tentu berbeda dengan Spengler yang beranggapan bahwa kehidupan kebudayaan manusia sama dengan kehidupan mahluk lainnya. Menurut Toynbe, unit yang tepat dalam studi sejarah bukanlah negara-negara bangsa (nation-states) atau periode, tetapi masyarakat secara keseluruhan. Dia meneliti sedikitnya 21 kebudayaan di dunia. Hasil dari temuannya itu menunjukkan bahwa timbul dan tenggelamnya kebudayaan disebabkan adanya Challenge and Response.
Peradaban, menurut Toynbe, tumbuh karena adanya respon terhadap rangkaian tantangan-tantangan yang menjadikan sebuah spirit, seperti halnya di Mesir. Manusia merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dengan kekuatannya, manusia mampu menjawab tantangan yang ada. Itulah yang menyebabkan mengapa peradaban masa lampau mencapai panggung kemajuan yang tinggi.
Arnold Toynbe adalah seorang filusuf sejarah yang berpandangan bahwa pola sejarah adalah siklis. Artinya sejarah itu berulang polanya. Adapun tujuan akhir sejarah menurut Toynbe adalah terciptanya masyarakat yang humanis kultural.
C. Pendekatan Visioner Dalam Sejarah
Pendekatan visioner, seperti halnya yang dianut oleh Spengler dan Toynbee merupakan suatu pendekatan yang menjadikan sejarah tidak hanya berorientasi untuk masa lalu saja, melainkan untuk menyeimbangkan orientasi prespektif historisnya ke masa depan (future history).
Sejarah yang menjadikan masa lalu untuk masa lalu menurut Kunotowijiyo disebut antikuariannisme sejarah[4], artinya masa lalu untuk kepentingan masa lalu itu sendiri. Lain halnya dengan sejarah yang berorientasi pada masa depan. Menurut Djoko Suryo, Guru Besar UGM, Pendekatan Visioner diantaranya adalah pendekatan ini bertujuan untuk menyusun gambaran sejarah masa yang akan datang (future history) berdasarkan data dan fakta sejarah yang tersedia pada masa kini dan lampau, baik melalui analisis interdisipliner, multidisipliner, multidimensional, maupun monodisipliner kajian sejarah kritis[5].
Pemikiran visioner antara Spengler dan Toynbee yang tertuang dalam masing karya keduanya yaitu Decline of the West dan A Study of History memiliki perbedaan dan persamaan.
Perbedaan yang terlihat adalah peran manusia dalam menghadapi kehidupan. Menurut Spengler manusia sebagai obyek sejarah tidak memiliki kemampuan untuk mengubah jalannya sejarah. Perkembangan masyarakat dan kebudayaan tidak dapat diketahui tujuan dan arahnya secara pasti. Adanya hukum fatum itu menjadikan manusia bersifat pesimis. Lain halnya dengan Toynbee yang melihat bahwa manusia memiliki kekuatan untuk mengubah perjalanan masa depan dan menjaga peradaban Barat dari Kehancuran
Persamaan di dalam karya keduanya adalah sama-sama meyakini bahwa pola sejarah bersifat siklis. Teori siklis atau siklus berpendapat bahwa sejarah itu bergerak melingkar. Setiap peristiwa historis akan selalu berulang kembali. Semboyan terkenal dalam teori ini adalah I’historie se repete, artinya sejarah itu berulang. Apa yang dulu pernah terjadi akan terulang kembali, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.[6]
Teori ini berdasarkan alam pikiran Yunani yang menyebutkan bahwa negara dan kebudayaan itu timbul dan tenggelam dalam urutan ulangan yang sama. Ibarat tanaman, negara dan kebudayaan itu tumbuh, berkembang, tua dan kemudian mati. Sejarah dalam teori siklus digerakkan oleh suatu kekuatan gaib yang disebut fatum (qadar atau nasib). Semua alam, baik alam manusia (mikrokosmos) maupun alam raya (makrokosmos) akan berjalan melalui proses siklus sesuai ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh fatum tersebut. Teori ini terkadang disebut juga teori biologis.
Referensi : Djoko Suryo. 2009. Transformasi Masyarakat Indonesia Dalam Historiografi Indonesia Modern. Yogyakarta: STPN Press
http.nasherooy.blogspot.com. diakses pada Rabu(8/12) pukul 07.30 WIB
Kuntowijoyo. 1998. Pengantar Ilmu Sejarah.Yogyakarta: Tiara Wacana
Toto Suharto. 2003. Epistimologi Sejarah Kritis Ibnu Khaldun. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
[1] Djoko Suryo. 2009. Transformasi Masyarakat Indonesia Dalam Historiografi Indonesia Modern. Hlm 18
[2] http.nasherooy.blogspot.com. diakses pada Rabu(8/12) pukul 07.30 WIB
[3] Djoko Suryo. Lock.Cit.
[4] Kuntowijoyo. 1998. Pengantar Ilmu Sejarah. Hlm. 17
[5] Djoko Suryo, Op,Cit. Hlm. 14
[6] Toto Suharto. 2003. Epistimologi Sejarah Kritis Ibnu Khaldun. Hlm.92
Langganan:
Postingan (Atom)