Minggu, 01 Januari 2012

Catatan Awal Tahun

Mengawali tahun 2012, ada banyak hal yang perlu dilakukan selama satu tahun ke depan. Ada beberapa target yang harus direalisasikan agar perjalanan hidup menjadi lebih baik.
di tahun 2012 ini, ada satu capaian yang cukup membanggakan, yaitu adanya perubahan statusku. Setelah pelaksanaan ujian skripsi pada tanggal 28 Desember 2011 lalu, status sebagai mahasiswa otomatis akan segera selesai. Ini akan berakhir apabila saya sudah mengumpulkan skripsi hasil revisi. Dengan demikian di tahun yang baru ini saya memiliki nasib yang baru. Minimal adalah satu beban atau fase dalam hidupku sudah terlampaui.
Setelah melewati fase itu, ada beberapa aganda lain yang ingin dicapai pada pada tahun 2012 ini. Semuanya antara lain:
• Menjadi penulis produktif
Menjadi penulis ini adalah salah satu impianku sejak lama. Ikhtiar ini sudah dimulai beberapa tahun lalu, saat ada salah seorang dosen yang menyarakan agar mahasiswa mempunyai buku catatan harian. Itu adalah tambahan motivasi yang menyebabkan saya membeli buku tulis khusus untuk mencatat. Bahkan sampai terakhir sudah ada 12 buku yang sudah berisi dengan aneka catatan.
Dengan memiliki laptop ini sebenarnya adalah salah satu peluang besar untuk menjadi penulis produktif. Risiko menulis menggunakan media elektronik cukup kecil. Awal kegiatan menulis ini hanya sekadar hobi. Akan tetapi saya tidak ingin itu terjadi terus-menerus demikian. Artinya, ke depan saya harus menjadi penulis produktif yang prossfesional, bukan amatiran. Menulis tidak sekadar menjadi hobi, tetapi menjadi gaya hidup (life style). Caranya adalah dengan meluangkan waktu khusus untuk menulis. Kegiatan menulis adalah sama dengan belajar dalam bidang lain. Menulis adalah kegiatan yang terus dilatih secara terus menerus.
Ada yang perlu ditingkatkan dari kegiatan menulis yang sudah dijalani selama ini, yaitu meningkatkan kualitasnya. Misalnya saja menulis artikel atau catatan lainnya harus benar-benar selesai kemudian baru beralih pada tema lain. Selama ini yang terjadi adalah memiliki banyak tulisan tetapi hanya selesai di tengah jalan. Padahal itu sebenarnya belum selesai.
Penambahan teori menulis dapat dilakukan dengan berjalan. Tidak perlu menunggu menguasai teori dulu baru menulis. Menulis adalah kegiatan untuk menulis, bukan cerita akan menulis. Yang perlu dilakukan sekarang adalah terus menulis. Tanpa memulai, mustahil keinginan yang ingin dicapai dapat terwujud. Ini tidak hanya dalam kegiatan menulis saja, tetapi semuanaya. Momentum awal tahun ini adalah saat yang tepat untuk memulai semuanya dan yang terbaik.
Tidak ada alasan untuk malas atau tidak menulis sama sekali. Apalagi ujian skripsi telah dilakukan. Tidak ada lagi alasan tidak memiliki waktu atau sibuk dengan pekerjaan yang lain. Tugas (wajib) sebagai mahasiswa sudah selesai, begitu juga tanggung jawab kepada orangtuaku. Sebenarnya di sela-sela waktu menunggu wisuda dapat digunakan untuk terus menulis. Bukan artikel saja yang dihasilkan tetapi juga dapat sebuah buku.
• Berwirausaha
Keinginan lain adalah tetap melanjutkan kegiatan bisnis atau berwirausaha. Sejak akhir bulan November 2011 lalu saya memiliki usaha dengan salah seorang teman. Usaha yang dibuka adalah bisnis minuman teh di kampus. Estevia adalah nama perusahaannya.
Momentum tahun baru ini, bisnis tersebut harus ditingkatkan. Misalnya dalam hal rasa, kemasan, pelayanan, dan manajemen keuangan. Selama ini memang masih dapat dikatakan ‘seadanya.’ Misalnya saja pegawai teh yang belum tetap. Ini terkadang menyebabkan permasalahan tersendiri. Apalagi pada musim hujan akhir-akhir ini. Semua perlu didesain ulang agar bisnis kecil ini dapat memberi banyak manfaat.
Pasca pendadaran, saya juga tidak hanya memikirkan masalah sebagaimana sewaktu masih semester bawah. Keuangan juga harus dipikirkan agar aktivitas yang disenangi dapat tetap dijalankan. Misalnya saja aktivitas menulis. Dengan topangan ekonomi yang kuat, harapannya tidak sampai mengorbankan hobi atau bahkan idealisme. Berwirausaha adalah lahan yang layak dipertimbangkan oleh mahasiswa karena sebagai kaum intelektual harus memberikan kontribusi kongrit kepada masyarakat. Menciptakan lapangan pekerjaan adalah paradigma yang harus dibangun, bukan malah mencari pekerjaan.
Dimulai dari yang kecil lah akan berkembang menjadi sesuatu yang besar. Awalnya memang bisnis teh. Tidak ada salahnya jika membesarkan jaringan atau melirik lahan lain yang lebih potensial. Bisnis via internet adalah salah satu yang sedang populer akhir-akhir ini.
• Meraih Beasiswa
Capaian lain yang ingin diraih di tahun 2012 adalah mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tujuannya adalah ke Amerika Serikat. Dulu memang ada keinginan ke Belanda. Tetapi karena persyaratan yang cukup sulit, sepertinya lebih realistis ke Negeri Paman Sam. Apalagi di sana terdapat ulama besar, yaitu Syeh Hisyam al-Kabbani. Mudah-mudahan dapat berguru dengan beliau.
Salah satu syarat untuk mendapatkan beasiswa Fulbright adalah capaian Toefel 550. Ihktiar untuk mendapatkannya untuk sementara waktu adalah dengan belajar english di Solo. Caranya adalah dengan mengajak seorang teman yang mau dan mampu berbahasa Inggris. Kemudian skill bahasa diperkuat dengan kursus di Pare, Kediri. Mudah-mudahan tahun depan saya sudah merayakan indahnya malam tahun baru di Amerika. Amin..
Mendapatkan beasiswa ke luar negeri adalah hal yang diimpikan banyak orang, termasuk diriku. Bahkan ibuku juga mengharapkan agar saya dapat mewujudkannya. Salah satu tujuannya adalah untuk memberi motivasi kepada adik-adikku agar bersemangat dalam belajar. Orang desa pun dapat melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
• Pengembangan Diri
Ada hal yang tidak boleh dilupakan untuk mencapai semua impian, yaitu pengembangan diri. Cakupan pengembangan diri ini sangat luas, disesuaikan dengan kebutuhan. Singkatnya adalah pengembangan diri ini dapat dilakukan oleh siapapun dan kapanpun untuk menuju sesuatu yang diimpikan.
Pengembangan diri ini dapat diwujudkan misalnya dengan menambah wawasan, menambah jaringan, mengubah sikap dan pola pikir, menjaga penampilan, dan masih banyak lainnya. Tujuannya tidak lain adalah meningkatkan kemampuan untuk mengejar mimpi. Dalam konteks mendapatkan beasiswa ke Amerika misalnya, diperlukan penguasaan bahasa yang baik dan jaringan. Apabila ini tidak dimulai sekarang, mau kapan lagi.
Sebenarnya peluang yang ditawarkan di luar sangat banyak. Terkadang dari diri kita yang belum siap sehingga mengatakan mendapatkan prestasi itu sulit. Memang sesuatu yang berharga itu mahal harganya. Butuh perjuangan ekstra keras untuk meraihnya. Itulah perlunya melakukan pengembangan diri. Misalnya dengan mengikuti berbagai pelatihan, seminar, aktif di organisasi dan acara-acara yang bermanfaat lainnya.
Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah mengelola spiritual (hati). Ini termasuk salah satu bagian dari pengembangan diri. Permasalahan yang dihadapi manusia bersumber dari pemikiran dan perasaan. Apabila dua hal ini tidak mendapatkan bimbingan, maka jalan hidup bisa salah. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan terus belajar, khususnya ilmu agama. Apalagi di Solo ini ada begitu banyak pengajian yang dapat diikuti. Begitu juga dengan aktivitas membaca qur’an satu hari satu juz juga perlu dilanjutkan dan ditingkatkan kualitas bacaannya.
Momentum tahun 2012 adalah saat yang tepat untuk melakukan perubahan dalam diri. Harapannya dari dalam diri itu kemudian melahirkan perubahan yang bermanfaat untuk orang lain.
Ditulis di kos, Minggu (1/1) pukul 11.14 WIB

Perayaan Tahun 2012 Baru di Solo

Malam itu, ribuan pengguna motor bergerak menuju ke arah Kota Solo. Sebagian besar mereka adalah masyarakat dari daerah di eks Karesidenan Solo. Mereka akan merayakan pergantian tahun 2012.
Perayaan malam tahun baru ada yang berbeda dengan dengan tahun sebelumnya. Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menerapkan progam Car Free Night (CFN). Kegiatan ini adalah yang pertama kali di Kota Bengawan dan di seluruh Indonesia. Pertimbangan dari pemberlakuan progam CFN adalah mengacu suksesnya acara Car Free Day (CFD) yang dilakukan setiap Minggu setiap pekannya.
Konsep CFN sama dengan CFD, di mana para pengguna kendaraan bermotor maupun mobil tidak boleh melewati Jalan Slamet Riyadi. Harapannya dengan adanya kegiatan ini, para pengunjung akan menikmati indahnya malam tahun baru tanpa ada suara bising dan polusi udara. Progam itu dilaksanakan mulai pukul 21.00 sampai puncak pergantian tahun.
Di sepanjang Jalan Slamet Riyadi tidak hanya diramaikan dengan pedagang terompet, tetapi juga diramaikan dengan beragam hiburan di sana. Misalnya pagelaran musik yang ada di komplek Stasiun Purwosari. Hiburan tersebut diadakan oleh Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS). Selain itu masih banyak komunitas yang menyajikan acarfa hiburan di sepanjang jalan protokol Kota Solo itu.
Jauh dari keramaian publik, di daerah Kartasura, tepatnya di depan Gedung pasca sarjana UMS digelar acara malam refleksi oleh para aktivis gerakan mahasiswa di Solo Raya. Salah satu tujuan kegiatan malam tahun baru itu adalah mengadakan jumpa pers kepada wartawan. Para aktivis ingin mengklarifikasi terkait dengan insiden yang terjadi di UMS beberapa hari lalu. Intinya mahasiswa menuntuk Polres Sukoharjo untuk bertanggung jawab atas pemukulan terhadap para aktivis.
Menjelang pergantian tahun, para aktivis mengucapkan “sumpah mahasiswa” yang intinya menolak semua jenis penindasan yang ada di Indonesia. Acara malam itu adalah momentum menyatukan gerakan mahasiswa Solo Raya terkait penyikapan isu di tahun 2012.
Puncak Acara
Tepat pukul 00.00 WIB, langit Kota Solo diwarnai dengan letusan kembang api. Tidak hanya di komplek Stadion Manahan dan di Gladak, tetapi ada banyak titik yang juga ikut memeriahkan pergantian tahun 2012. Hampir di berbagai sudut kota terdapat pesta kembang api.
Di berbagai titik terjadi kemacetan. Ini adalah salah satu dampak dari progam CFN. Sebagian besar kendaraan pengunjung diparkir di luar Jalan Slamet Riyadi. Akibatnya adalah penumpukan kendaraan di mana-mana. Meski demikian tidak sampai mengurangi antusias warga untuk menikmati indahnya pergantian malam tahun baru. Padahal sebelumnya hujan ringan sempat membasahi Kota Bengawan. Akan tetapi pada puncak acara, hujan sudah reda. Bahkan langit terlihat sangat cerah.
Di Gilingan, sebagian besar warga menikmati indahnya pergantian tahun dengan berkumpul bersama di luar rumah. Mereka menikmati indahnya pesta kembang api di langit. mereka tidak perlu bersusah payah sebagaimana pengunjung lainnya.
Setelah Tahun Baru
Keesokan harinya, suasana gegap gempita menikmati malam pergantian tahun tidak terasa di komplek kampus UNS. Mungkin juga suasana yang sama juga terjadi di tempat lain. Sebagian besar orang lebih memilih untuk beristirahat untuk mempersiapkan energi untuk beraktivitas di hari esok. Apalagi siswa sekolah mulai Senin (2/1) masuk kembali setelah libur semester.
Jika dibandingan saat pergantian tahun, keadaannya berbanding terbaik. Seakan tidak ada sesuatu yang istimewa sama sekali. Yang paling istimewa adalah saat detik-detik pergantian tahun. Setelah itu berjalan normal seperti biasanya. Padahal salah satu hal perting yang perlu ada setiap perganitan tahun adalah melakukan evaluasi diri (muhasabah) sebagai bahan untuk melangkah ke depannya. Kegiatan evaluasi diri memang selayaknya malah dilakukan setiap hari. Dilakukan pada saat pergantian tahun adalah lebih baik daripada tidak sama sekali.
Seandainya perayaan pergantian tahun hanya dengan pesta kembang api, terompet, pawai motor, dan beragam aktivitas lainnya tanpa ada sebuah iktikad untuk berubah, untuk apa semua itu. Gegap gempita dalam perayaan tahun baru hanya menjadi penghibur hati, pelipur lara yang bersifat sementara saja. Padahal itu semua membutuhkan biaya dan pengorbanan yang besar.
Ketika tahun menjadi baru, tanpa diimbangi dengan sebuah mimpi atau visi yang jelas, akan tertinggal. Pada tahun yang akan datang kita hanya akan melakukan kegiatan seremonial yang tidak menghasilkan sesuatu yang berharga dan berguna bagi kehidupan mendatang.
Tahun baru adalah momentum yang sangat tepat untuk melakukan perubahan dalam diri. Diawali dari dalam diri itulah kemudian mengajak sesamanya untuk ikut berubah ke arah yang lebih baik juga. Jika hidup ini hanya dijalani tanpa ada sebuah rencana, waktu memang terasa begitu cepat. Sepertinya baru saja kemarin merayakan tahun 2011 bersama teman, tetapi sekarang sudah masuk tahun 2012 juga bersama teman. Apabila tidak pandai memanfaatkan waktu, kita yang akan ditinggal oleh waktu.
Kesadaran pentingnya waktu dalam hidup ini perlu ditanamkan dalam setiap diri manusia. Salah satu tujuannya adalah aga tidak membuang waktu untuk kegiatan yang kurang bermanfaat bagi hidup.
Ditulis di Gendingan, Minggu (1/1) pukul 15.37 WIB

Selasa, 20 Desember 2011

Pra Pendadaran (bagian II)

Pagi itu, ruang pengajaran Jurusan Ilmu Sejarah FSSR UNS terlihat sepi. Hanya ada beberapa dosen dan karyawan sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Untungnya ketua jurusan (Kajur) ada di sana. Beliau adalah dosen yang saya cari.
Pada saat akan menemuinya, ada tiga mahasiswa yang sedang menghadap. Ketiganya diberi tugas menerjemahkan teks bahasa asing. Sepertinya mereka sama dulu yang pernah saya alami, yaitu diberi tugas seadanya (sak-sak’e) sebagai tugas alternatif. Kemungkinan begitu sibuknya sang Kajur sehingga tidak sempat memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat kepada mahasiswa. Padahal perhatian seorang guru (dosen) kepada murid (mahasiswa) adalah hal yang sangat penting dalam pendidikan.
Setelah ketiga mahasiswa tersebut keluar, giliran saya menghadap. Bu Sawitri, begitu saya memanggil ketua jurusanku. Belum sempat saya duduk, beliau menanyakan mengapa kemarin tidak menemuinya. Padahal beliau sudah menunggu. “Kenapa kemarin tidak masuk. Padahal sudah saya tunggu,” katanya sambil memandang wajahku.
“Kemarin masih di rumah bu,” jawabku singkat. Liburan singkat di rumah justru menyisakan dua masalah, yaitu menghambat proses pendadaran dan macetnya bisnis teh di kampus. Bahkan liburan di rumah tidak membuat sepenuhnya hati plong. Salah satu alasannya karena salah tingkah waktu tidur. Jadinya harus dipijat.
Singkat cerita, kemudian bu Sawitri memberikan memo (catatan) kecil kepadaku. Catatan itu harus dibawa ke bagian pendidikan. Saya tidak perlu repot-repot karena ada beberapa petugas yang dikenal di sana. Ternyata memang benar, tidak perlu menunggu lama, kertas kecil yang saya berikan langsung ditindaklanjuti. Selanjutnya, mbah Lisa, salah seorang petugas memintaku untuk menggandakan undangan pendadaran.
Memiliki kenalan dengan orang-orang di birokrasi kampus memang sedikit membantu dalam penyelesaian skripsi. Pada waktu meminta tanda tangan (tapa asma) kepada Pembantu Dekan (PD) I, Dr. Warto, M.Hum, beliau mengajak ngobrol. Meski hanya sebentar, bagi saya itu sangat bermanfaat. Dosen sejarah senior itu menyesalkan kondisi FSSR yang sebagian besar mahasiswa lulus lama. Di UNS yang memiliki prestasi sukup rendah adalah FSSR. Sebagai pejabat yang bertanggung jawab di bidang pendidikan tentu merasa sedih dengan fakta tersebut. Mungkin beliau sedang memikirkan “resep jitu” agar mahasiswa cepat lulus. Mungkin dengan mudah ditemui dan mudah memberikan tanda tangan adalah salah satu wujudnya.
Pertemuan dengan PD I siang itu mengakhiri proses menuju ujian skripsi (pendadaran). Di undangan tertulis waktu ujian adalah pada hari Rabu (28/12) pukul 10.00 WIB. Itu adalah tahapan akhir melepaskan ststus sebagai mahasiswa. Memang tidak semuanya dapat selesai di hari itu. Tahap selanjutnya adalah menggandakan naskah (skripsi) menjadi lima dan membagikannya kepada para dosen penguji bersama dengan undangan.
Ditulis di Perpustakaan UNS, Selasa (20/12) pukul 12.08 WIB

Jumat, 16 Desember 2011

Pra Pendadaran (bagian I)

Ketika skripsi selesai disusun, ada tahap yang lebih sulit, yaitu pendadaran. Istilah pendadaran digunakan untuk menggantikan kata “ujian.” Entah apa filosofi pendadaran itu sendiri penulis belum tahu. Yang jelas, salah satu tujuan diadakan pendadaran adalah untuk mempertahankan argumentasi mahasiswa dengan tema atau skripsi yang telah (selesai) ditulis.
Bagi mahasiswa yang masih awam, pendadaran itu adalah hal yang begitu menakutkan. Bahkan mungkin lebih menakutkan (menyusahkan) daripada menulis skripsi itu sendiri. Tapi apakah seperti itu?
Pagi itu, dia sengaja datang menemui temannya yang telah lulus lebih dulu. Bahkan temannya itu sudah diterima di jurusan Ilmu Sejarah, tempat ia belajar. Tujuannya datang ke sana adalah untuk menanyakan persyaratan yang diperlukan sebelum melaksanakan pendadaran. Maklum saja, dia tidak begitu tertarik dengan urusan teknis seperti itu. Yang dia inginkan adalah kualitas, bukan sekadar formalitas. Bahkan sampai di penghujung status menjadi mahasiswa pun dia belum tahu bagaimana cara untuk menghitung nilai (IPK).
Menurut temannya itu, penndadaran adalah ujian untuk membuktikan apakah sebuah skripsi itu dibuat sendiri atau tidak. Pendadaran juga digunakan untuk mempertahankan argumen mahasiswa dengan tema yang diambil. Tapi pada dasarnya, skripsi yang sudah selesai ditulis adalah sebuah penilaian tersendiri. Jadi tidak perlu khawatir dengan pendadaran. Persyaratan untuk melakukan pendadran adalah foto copy (FC) kartu mahasiswa, kartu bebas Kopma, kuitansi awal dan akhir kuliah, dan transkrip nilai. Ketika semua itu sudah terpenuhi, jadwal ujian dapat ditentukan oleh dosen penguji.
Rencananya hari itu dia akan menyelesaikan semuanya, semua persyaratan untuk melakukan pendadaran. Jika perlu hari itu dia juga sudah mendapatkan jadwal untuk ujian. Setelah ujian mungkin untuk sejenak dia akan pulang ke rumah untuk bermusyawarah, apa yang akan dilakukan setelah menjadi mahasiswa.
Ditulis di kos, Jum’at (16/12) pukul 07.12 WIB

Selasa, 08 November 2011

Cerita Hari Ini

Disukusi Selasa (8/11) sore itu antara saya dan Wisnu membahas banyak hal. Mulai dari tema studi, fenomena mahasiswa, sampai asmara dibahas dalam forum tersebut. Yang menarik adalah diskusi dilakukan dengan menggunakan bahasa Inggris (english).
Diskusi atau lebih tepatnya obrolan menggunakan bahasa asing bukanlah yang pertama kalinya antara kami berdua. Ini adalah nekat. Alasannya karena tidak ada yang meluruskan (mentashih)apa yang diucapkan. Yang diutamakan adalah mengeluarkan kata-kata english terlebih dahulu. Benar atau salah usrusan belakang. Dalam obrolan masih banyak kalimat yang menggunakan bahasa campuran, antara english, Indonesia, dan jawa. Maklumlah namanya juga nekat. Ditambah baru belajar pula.
Awal pertemuan sore itu adalah agenda diskusi rutin PMII Kota Solo yang dilaksanakan setiap Selasa sore. Namun karena balum ada informasi tentang disukusi, Wisnu yang sedang berada di Perpustakaan UNS berinisiatif menanyakan kepadaku. Kebetulan juga saat itu saya sedang ingin ke perpustakaan. Bertemualah kita berdua dan jadilah diskusi english di sana. Sempat juga diperingatkan oleh petugas agar tidak terlalu keras bicaranya. Alasannya adalah mengganggu pembaca yang lain. Padahal yang ada cuma satu orang. Itu pun sedang online. Yang sedikit menjengkelkan adalah petugasn tersebut tidak tidak konsisten dengan ucapannya. Dia malah memutar musik dengan cukup keras. Mungkin yang dimaksud adalah mengganggu petugas yang sedang bersantai.
Jika ingin berubah, maka ubahlah dari pola hidup dan pola belajar. Itulah yang menyebabkan kami bersemangat belajar bahasa asing. Ke depannya, format diskusi adalah dengan mengajak teman yang ahli (expert) untuk bergabung. Selain menambah teman, juga akan membenarkan struktur kalimat atau kosa kata yang belum tepat. Ditambah juga dengan menulis sebuah catatan menggunakan english pada saat pertemuan.
Ditulis di Perpustakaan Pusat UNS, Selasa (8/11) ba’da Maghrib.

Kamis, 29 September 2011

Obrolan Itu Lagi

Dalam kehidupan ini tidak harus semua yang dialami orang lain harus kita alami. Kita dapat belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus merasakannya langsung. Itulah sedikit hal baru yang kutemukan dalam obrolan malam di kamarku.
Obrolan Kamis (29/9) malam itu hanya diikuti oleh tiga orang, yaitu saya, Wisnu, dan Joyo. Kami bertiga adalah mahasiswa Sastra UNS. Meski hanya bertiga, suasana diskusi tidak kalah dengan seminar nasional yang sering diadakan di kampus. Hanya bermodalkan minuman, kopi, susu, dan rokok, obroolan malam berlangsung sampai larut malam.
Semua berawal dari sebuah acara ‘yasinan’ di Sekre PMII Kentingan. Setelah mengikuti acara rutin tersebut, kami bertiga memutuskan untuk pulang bersama ‘Ninja Ijo.’ Bukan untuk yang pertama kalinya motor tua itu kami tumpangi bersama. Memang sedikit menyiksa ini. Apalagi usianya menjelang 40 tahun. Tapi mau bagaimana lagi.
Banyak hal yang dibicarakan dalam obrolan malam itu. Yang paling menarik adalah diskusi tentang cinta. Obrolan ini berbeda dengan simposium cinta yang diselenggarakan di Sekre PMII belum lama ini. Sepertinya virus cinta sedang melanda sebagian besar kaum pergerakan.
Perbincangan diawali ketika Wisnu mengatakan kepadaku bahwa saya berbuat dholim karena menolak cinta yang singgah di hatiku. “Tuhan telah menganugrahkan cinta kepadaku tapi mengapa diabaikan begitu saja,” katanya.
Saya pun mempunyai alasan mengapa tidak diungkapkan. Untuk apa dan mengapa harus diungkapkan. Menurutku tidak semua karunia Tuhan yang diturunkan kepada manusia adalah sebuah kenikmatan. Bisa jadi itu adalah ujian. Tidak mau ketinggalan Joyo pun ikut sedikit melemahkan pendapatku. Pendapatnya diperkuat dengan sedikit menjelaskan pengalaman asmaranya dengan seseorang yang berada jauh di sana.
Entah mengapa tiba-tiba Wisnu sedikit menceritakan bahwa dirinya pernah ditolak seorang gadis tanpa menjelaskan alasannya apa. Dia mengakui bahwa sejak saat itu dirinya kehilangan arah mau ke mana. Dipilihlah Solo sebagai pelariannya. Namun sekali lagi saya mengatakan kepadanya bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah sebuah keniscayaan. Artinya kita ‘dipaksa’ untuk memilihnya. Mau tidak mau harus memilih salah satu. Permasalahannya kebanyakan orang menganggap bahwa setiap kesedihan adalah batu sandungan, bukan batu loncatan. Seharusnya temanku itu bersyukur karena ditolak. Artinya dia menjadi tahu bahwa jodohnya bukan dia. Kita doakan saja teman kita ini segera mendapatkan jodohnya di Kota Bengawan ini.
Perbincangan pun semakin asyik meski waktu sudah larut malam. Di akhir perbincangan Wisnu menyarankan agar ketika ada cinta yang datang kepadaku yang harus kulakukan adalah segera diungkapkan. Masalah diterima atau tidak itu masalah lain. Tapi anehnya, temanku ini berharap agar ditolak. Alasannya agar saya dapat merasakan bagaimana sakitnya orang yang patah hati. Bagaimana mau ditolak, wong mengungkapkanya pun enggan kulakukan. Sebagian teman-temanku masih berpikir sederhana tentang bercinta. Itu masalahnya…
Setiap orang memiliki pengalaman masing-masing. Pengalaman di masa lalu yang berbeda itulah yang menyebabkan sikap seseorang dalam menyikapi sebuah permsalahan, termasuk masalah bercinta.
Ditulis di Perpustakaan UNS di penghujung September 2011

Rabu, 14 September 2011

Tanpa aktivitas?

Manusia adalah mahluk yang suka beraktivitas. Tanpa ada aktivitas yang jelas kehidupan seseorang akan hambar.
Hal semacam ini biasanya dialami oleh mahasiswa semester akhir. Perkuliahan sudah tidak ada, begitu juga dengan kegiatan berorganisasi. Hanya ada satu tugas suci, yaitu menyelesaikan skripsi. Meski demikian tidak sedikit mahasiswa yang lebih tergiur untuk melakukan aktivitas lain yang lebih menantang. Misalnya adalah mengikuti sebuah proyek atau malah berkerja. Itulah mahasiswa yang selalu tertantang dalam berbagai hal. Itu memang tidak menjadi masalah. Yang jadi sedikit masalah adalah jika sampai meninggalkan tugas sucinya tersebut. Padahal itu adalah salah satu persyaratan untuk melangkah pada level kehidupan selanjutnya.
Bagi mahasiswa semester akhir atau mahasiswa yang tidak memiliki aktivitas sudah seharusnya membuat planing kegiatan agar waktu yang telah diberikan kepada kita tidak terbuang begitu saja. Solusinya adalah dengan mengisi hari-hari dengan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Misalnya sebelum menghadapi hari esok sudah dipersiapkan apa yang akan dilakukan.
Mengunjungi perpustakaan adalah salah satu kegiatan yang postif. Selain membaca buku juga dapat mencari beragam informasi. Apalagi di perpustakaan dewasa ini juga dilengkapi dengan fasilitas internet gratis. Dengan sarana tersebut mahasiswa dapat mengakses informasi yang bermanfaat, seperti bahan perkuliahan, skripsi, beasiswa, dan masih banyak lainnya.
Ditulis di Perpstakaan UNS, rabu (14/9) pukul 13.34 WIB