Disukusi Selasa (8/11) sore itu antara saya dan Wisnu membahas banyak hal. Mulai dari tema studi, fenomena mahasiswa, sampai asmara dibahas dalam forum tersebut. Yang menarik adalah diskusi dilakukan dengan menggunakan bahasa Inggris (english).
Diskusi atau lebih tepatnya obrolan menggunakan bahasa asing bukanlah yang pertama kalinya antara kami berdua. Ini adalah nekat. Alasannya karena tidak ada yang meluruskan (mentashih)apa yang diucapkan. Yang diutamakan adalah mengeluarkan kata-kata english terlebih dahulu. Benar atau salah usrusan belakang. Dalam obrolan masih banyak kalimat yang menggunakan bahasa campuran, antara english, Indonesia, dan jawa. Maklumlah namanya juga nekat. Ditambah baru belajar pula.
Awal pertemuan sore itu adalah agenda diskusi rutin PMII Kota Solo yang dilaksanakan setiap Selasa sore. Namun karena balum ada informasi tentang disukusi, Wisnu yang sedang berada di Perpustakaan UNS berinisiatif menanyakan kepadaku. Kebetulan juga saat itu saya sedang ingin ke perpustakaan. Bertemualah kita berdua dan jadilah diskusi english di sana. Sempat juga diperingatkan oleh petugas agar tidak terlalu keras bicaranya. Alasannya adalah mengganggu pembaca yang lain. Padahal yang ada cuma satu orang. Itu pun sedang online. Yang sedikit menjengkelkan adalah petugasn tersebut tidak tidak konsisten dengan ucapannya. Dia malah memutar musik dengan cukup keras. Mungkin yang dimaksud adalah mengganggu petugas yang sedang bersantai.
Jika ingin berubah, maka ubahlah dari pola hidup dan pola belajar. Itulah yang menyebabkan kami bersemangat belajar bahasa asing. Ke depannya, format diskusi adalah dengan mengajak teman yang ahli (expert) untuk bergabung. Selain menambah teman, juga akan membenarkan struktur kalimat atau kosa kata yang belum tepat. Ditambah juga dengan menulis sebuah catatan menggunakan english pada saat pertemuan.
Ditulis di Perpustakaan Pusat UNS, Selasa (8/11) ba’da Maghrib.
Selasa, 08 November 2011
Kamis, 29 September 2011
Obrolan Itu Lagi
Dalam kehidupan ini tidak harus semua yang dialami orang lain harus kita alami. Kita dapat belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus merasakannya langsung. Itulah sedikit hal baru yang kutemukan dalam obrolan malam di kamarku.
Obrolan Kamis (29/9) malam itu hanya diikuti oleh tiga orang, yaitu saya, Wisnu, dan Joyo. Kami bertiga adalah mahasiswa Sastra UNS. Meski hanya bertiga, suasana diskusi tidak kalah dengan seminar nasional yang sering diadakan di kampus. Hanya bermodalkan minuman, kopi, susu, dan rokok, obroolan malam berlangsung sampai larut malam.
Semua berawal dari sebuah acara ‘yasinan’ di Sekre PMII Kentingan. Setelah mengikuti acara rutin tersebut, kami bertiga memutuskan untuk pulang bersama ‘Ninja Ijo.’ Bukan untuk yang pertama kalinya motor tua itu kami tumpangi bersama. Memang sedikit menyiksa ini. Apalagi usianya menjelang 40 tahun. Tapi mau bagaimana lagi.
Banyak hal yang dibicarakan dalam obrolan malam itu. Yang paling menarik adalah diskusi tentang cinta. Obrolan ini berbeda dengan simposium cinta yang diselenggarakan di Sekre PMII belum lama ini. Sepertinya virus cinta sedang melanda sebagian besar kaum pergerakan.
Perbincangan diawali ketika Wisnu mengatakan kepadaku bahwa saya berbuat dholim karena menolak cinta yang singgah di hatiku. “Tuhan telah menganugrahkan cinta kepadaku tapi mengapa diabaikan begitu saja,” katanya.
Saya pun mempunyai alasan mengapa tidak diungkapkan. Untuk apa dan mengapa harus diungkapkan. Menurutku tidak semua karunia Tuhan yang diturunkan kepada manusia adalah sebuah kenikmatan. Bisa jadi itu adalah ujian. Tidak mau ketinggalan Joyo pun ikut sedikit melemahkan pendapatku. Pendapatnya diperkuat dengan sedikit menjelaskan pengalaman asmaranya dengan seseorang yang berada jauh di sana.
Entah mengapa tiba-tiba Wisnu sedikit menceritakan bahwa dirinya pernah ditolak seorang gadis tanpa menjelaskan alasannya apa. Dia mengakui bahwa sejak saat itu dirinya kehilangan arah mau ke mana. Dipilihlah Solo sebagai pelariannya. Namun sekali lagi saya mengatakan kepadanya bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah sebuah keniscayaan. Artinya kita ‘dipaksa’ untuk memilihnya. Mau tidak mau harus memilih salah satu. Permasalahannya kebanyakan orang menganggap bahwa setiap kesedihan adalah batu sandungan, bukan batu loncatan. Seharusnya temanku itu bersyukur karena ditolak. Artinya dia menjadi tahu bahwa jodohnya bukan dia. Kita doakan saja teman kita ini segera mendapatkan jodohnya di Kota Bengawan ini.
Perbincangan pun semakin asyik meski waktu sudah larut malam. Di akhir perbincangan Wisnu menyarankan agar ketika ada cinta yang datang kepadaku yang harus kulakukan adalah segera diungkapkan. Masalah diterima atau tidak itu masalah lain. Tapi anehnya, temanku ini berharap agar ditolak. Alasannya agar saya dapat merasakan bagaimana sakitnya orang yang patah hati. Bagaimana mau ditolak, wong mengungkapkanya pun enggan kulakukan. Sebagian teman-temanku masih berpikir sederhana tentang bercinta. Itu masalahnya…
Setiap orang memiliki pengalaman masing-masing. Pengalaman di masa lalu yang berbeda itulah yang menyebabkan sikap seseorang dalam menyikapi sebuah permsalahan, termasuk masalah bercinta.
Ditulis di Perpustakaan UNS di penghujung September 2011
Obrolan Kamis (29/9) malam itu hanya diikuti oleh tiga orang, yaitu saya, Wisnu, dan Joyo. Kami bertiga adalah mahasiswa Sastra UNS. Meski hanya bertiga, suasana diskusi tidak kalah dengan seminar nasional yang sering diadakan di kampus. Hanya bermodalkan minuman, kopi, susu, dan rokok, obroolan malam berlangsung sampai larut malam.
Semua berawal dari sebuah acara ‘yasinan’ di Sekre PMII Kentingan. Setelah mengikuti acara rutin tersebut, kami bertiga memutuskan untuk pulang bersama ‘Ninja Ijo.’ Bukan untuk yang pertama kalinya motor tua itu kami tumpangi bersama. Memang sedikit menyiksa ini. Apalagi usianya menjelang 40 tahun. Tapi mau bagaimana lagi.
Banyak hal yang dibicarakan dalam obrolan malam itu. Yang paling menarik adalah diskusi tentang cinta. Obrolan ini berbeda dengan simposium cinta yang diselenggarakan di Sekre PMII belum lama ini. Sepertinya virus cinta sedang melanda sebagian besar kaum pergerakan.
Perbincangan diawali ketika Wisnu mengatakan kepadaku bahwa saya berbuat dholim karena menolak cinta yang singgah di hatiku. “Tuhan telah menganugrahkan cinta kepadaku tapi mengapa diabaikan begitu saja,” katanya.
Saya pun mempunyai alasan mengapa tidak diungkapkan. Untuk apa dan mengapa harus diungkapkan. Menurutku tidak semua karunia Tuhan yang diturunkan kepada manusia adalah sebuah kenikmatan. Bisa jadi itu adalah ujian. Tidak mau ketinggalan Joyo pun ikut sedikit melemahkan pendapatku. Pendapatnya diperkuat dengan sedikit menjelaskan pengalaman asmaranya dengan seseorang yang berada jauh di sana.
Entah mengapa tiba-tiba Wisnu sedikit menceritakan bahwa dirinya pernah ditolak seorang gadis tanpa menjelaskan alasannya apa. Dia mengakui bahwa sejak saat itu dirinya kehilangan arah mau ke mana. Dipilihlah Solo sebagai pelariannya. Namun sekali lagi saya mengatakan kepadanya bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah sebuah keniscayaan. Artinya kita ‘dipaksa’ untuk memilihnya. Mau tidak mau harus memilih salah satu. Permasalahannya kebanyakan orang menganggap bahwa setiap kesedihan adalah batu sandungan, bukan batu loncatan. Seharusnya temanku itu bersyukur karena ditolak. Artinya dia menjadi tahu bahwa jodohnya bukan dia. Kita doakan saja teman kita ini segera mendapatkan jodohnya di Kota Bengawan ini.
Perbincangan pun semakin asyik meski waktu sudah larut malam. Di akhir perbincangan Wisnu menyarankan agar ketika ada cinta yang datang kepadaku yang harus kulakukan adalah segera diungkapkan. Masalah diterima atau tidak itu masalah lain. Tapi anehnya, temanku ini berharap agar ditolak. Alasannya agar saya dapat merasakan bagaimana sakitnya orang yang patah hati. Bagaimana mau ditolak, wong mengungkapkanya pun enggan kulakukan. Sebagian teman-temanku masih berpikir sederhana tentang bercinta. Itu masalahnya…
Setiap orang memiliki pengalaman masing-masing. Pengalaman di masa lalu yang berbeda itulah yang menyebabkan sikap seseorang dalam menyikapi sebuah permsalahan, termasuk masalah bercinta.
Ditulis di Perpustakaan UNS di penghujung September 2011
Rabu, 14 September 2011
Tanpa aktivitas?
Manusia adalah mahluk yang suka beraktivitas. Tanpa ada aktivitas yang jelas kehidupan seseorang akan hambar.
Hal semacam ini biasanya dialami oleh mahasiswa semester akhir. Perkuliahan sudah tidak ada, begitu juga dengan kegiatan berorganisasi. Hanya ada satu tugas suci, yaitu menyelesaikan skripsi. Meski demikian tidak sedikit mahasiswa yang lebih tergiur untuk melakukan aktivitas lain yang lebih menantang. Misalnya adalah mengikuti sebuah proyek atau malah berkerja. Itulah mahasiswa yang selalu tertantang dalam berbagai hal. Itu memang tidak menjadi masalah. Yang jadi sedikit masalah adalah jika sampai meninggalkan tugas sucinya tersebut. Padahal itu adalah salah satu persyaratan untuk melangkah pada level kehidupan selanjutnya.
Bagi mahasiswa semester akhir atau mahasiswa yang tidak memiliki aktivitas sudah seharusnya membuat planing kegiatan agar waktu yang telah diberikan kepada kita tidak terbuang begitu saja. Solusinya adalah dengan mengisi hari-hari dengan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Misalnya sebelum menghadapi hari esok sudah dipersiapkan apa yang akan dilakukan.
Mengunjungi perpustakaan adalah salah satu kegiatan yang postif. Selain membaca buku juga dapat mencari beragam informasi. Apalagi di perpustakaan dewasa ini juga dilengkapi dengan fasilitas internet gratis. Dengan sarana tersebut mahasiswa dapat mengakses informasi yang bermanfaat, seperti bahan perkuliahan, skripsi, beasiswa, dan masih banyak lainnya.
Ditulis di Perpstakaan UNS, rabu (14/9) pukul 13.34 WIB
Hal semacam ini biasanya dialami oleh mahasiswa semester akhir. Perkuliahan sudah tidak ada, begitu juga dengan kegiatan berorganisasi. Hanya ada satu tugas suci, yaitu menyelesaikan skripsi. Meski demikian tidak sedikit mahasiswa yang lebih tergiur untuk melakukan aktivitas lain yang lebih menantang. Misalnya adalah mengikuti sebuah proyek atau malah berkerja. Itulah mahasiswa yang selalu tertantang dalam berbagai hal. Itu memang tidak menjadi masalah. Yang jadi sedikit masalah adalah jika sampai meninggalkan tugas sucinya tersebut. Padahal itu adalah salah satu persyaratan untuk melangkah pada level kehidupan selanjutnya.
Bagi mahasiswa semester akhir atau mahasiswa yang tidak memiliki aktivitas sudah seharusnya membuat planing kegiatan agar waktu yang telah diberikan kepada kita tidak terbuang begitu saja. Solusinya adalah dengan mengisi hari-hari dengan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Misalnya sebelum menghadapi hari esok sudah dipersiapkan apa yang akan dilakukan.
Mengunjungi perpustakaan adalah salah satu kegiatan yang postif. Selain membaca buku juga dapat mencari beragam informasi. Apalagi di perpustakaan dewasa ini juga dilengkapi dengan fasilitas internet gratis. Dengan sarana tersebut mahasiswa dapat mengakses informasi yang bermanfaat, seperti bahan perkuliahan, skripsi, beasiswa, dan masih banyak lainnya.
Ditulis di Perpstakaan UNS, rabu (14/9) pukul 13.34 WIB
Kamis, 25 Agustus 2011
Sebuah Harlah
Setiap kali memperingati hari lahir atau Harlah setiap orang mempunyai keinginan menjadi lebih baik, begitu juga dengan diriku. Tidak ada manusia yang sempurna, namun usaha untuk menuju ke sana harus tetap dilakukan.
Terdapat dua makna setiap peringatan Harlah, yaitu penambahan dan pengurangan. Dalam pandangan banyak orang dengan bertambahnya umur berarti bertambah angka umur seseorang. Sedangakan pengurangan umur adalah berkaitan dengan umur manusia sudah ditentukan berapa lamanya. Hanya saja manusia belum tahu itu sampai kapan. Dengan bertambahnya umur berarti akan mengurangi masa aktif untuk hidup di dunia ini. Jadi dengan peringatan adanya Harlah memang ada penambahan umur yang juga sekaligus pengurangan jatah hidup.
Banyak keinginan yang ingin kuwujudkan selama satu tahun (periode) mendatang. Dalam dunia organisasi disebut dengan visi dan misi. Hal pertama yang ingin saya ubah adalah sikapku yang menurut sebagian teman-temanku masih kurang dewasa. Kritikan ini lebih bisa direalisasikan daripada merubah wajah yang juga menurut sebagian teman-temanku yang lain masih terlalu kanak-kanak (baby face). Kalau sikap, watak, dan penampilan itu memang boleh diganti, bukan wajah yang sudah diberikan-Nya. Karena dengan wajah inilah sesungghnya yang terbaik bagiku. Dia yang lebih tahu apa yang terjadi padaku di masa mendatang daripada diriku sendiri.
Kedua adalah menumbuhkan untuk semangat menjalani hidup. Baik itu dalam hal mengerjakan skripsi mapun dalam kehidupan organisasi. Karena dua hal itu adalah aktivitas terakhirku di kota Solo saat ini. Juga yang tidak kalah pentingnya adalah semanagt mengabdi sebagai hamba dan khalifatullah di bumi ini.
Kado istimewa
Peringatan Harlah kali ini adalah sesuatu yang sangat istimewa. Banyak hal yang membuat hatiku bergembira ketika tanggal 25 Agustus 2011 yang bertepatan dengan 25 Ramadhan 1432 H. bukan hanya karena begitu banyak teman yang memberikan ucapan selamat dan dukungan moril lewat facebook dan sms, tetapi juga kebahagiaan datang karena proposal skripsiku diterima oleh dosen pembimbingku. Selain itu yang tidak kalah membahagiakannya juga saya dapat menikmati indahnya setiap malam-malam Ramadhan dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat, dan semoga mendapatkan (kado) Lailatu Qadar. Amin…
Sebagai bentuk rasa syukur, Kamis (25/8) sore insyaallah diadakan acara do’a dan buka bersama bersama di Sekretariat PMII. Mungkin ini juga sebagai penutup seluruh kegiatan Ramadhan bagi mahasiswa UNS sebelum pulang kampung alias mudik.
Terima kasih saya ucapkan kepada semua teman-temanku yang memberikan ucapan selamat dan semangat kepadaku. Do’a dan semangat yang kalian berikan semoga juga akan kalian dapatkan. Selamat mudik ke kampung halaman masing-masing untuk bertemu orang-orang yang dicintai. Hati-hati di jalan, sampai bertemu lagi dalam keadaan yang fitri.
Ditulis di Perpustakaan Pusat UNS, 25 Agustus 2011/ 25 Ramadhan 1432 H pukul 14.10 Wib.
Selasa, 23 Agustus 2011
Begitu Cepat
Sering kali dalam berbagai ceramah Ramadhan kita mendengar penceramah yang mengatakan “Tidak terasa Ramadhan telah akan selesai.” Benarkah Ramadhan itu tidak terasa?
Dari ungkapan tersebut sang pendakwah ingin mengingatkan kepada jama’ah bahwa waktu itu berjalan begitu cepat. Saking cepatnya, sampai-sampai Ramadhan yang sangat berat bagi umat terdahulu untuk berpuasa (tidak terasa) akan selsai, hanya tinggal beberapa hari saja.
Berbicara tentang waktu, dia adalah jawaban semua permasalahan manusia. Semuanya urusan manusia akan selesai seiring dengan berjalannya waktu. Karena pada dasarnya sifat waktu adalah akan terus berjalan terus tidak peduli apa yang dialami oleh manusia. Apakah susah atau senang waktu akan tetap berjalan. Begitu juga dengan Ramadhan yang seakan berjalan begitu cepat. Cepat atau tidaknya suatu peristiwa tergantung dari manusia sebagai obyek pelakuknya. Manusia dengan segala potensi yang dimilikinya dapat memanfaatkan waktu singkat yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Apalagi Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Sayang jika hanya dilakukan dengan biasa-biasa saja.
Ramadhan tidak sekadar perubahan jam tayang kehidupan seseorang. Sarapan pagi diganti lebih pagi, tidur malam dipercepat di pagi hari, dan malam tetap malam, yaitu untuk tidur. Mungkin itu yang menjadikan bulan puasa terasa begitu cepat.
Terasa atau tidak Ramadhan sudah menjelang akhir. Semoga di sisa hari yang ada kualitas ibadah kita menjadi lebih baik. Dan semoga keluar darinya menjadi insan yang bertaqwa. Amin…
Ditulis di Perpustakaan pusat uns, 24 Ramadhan 1432 H, pukul 13.30 WIB
Dari ungkapan tersebut sang pendakwah ingin mengingatkan kepada jama’ah bahwa waktu itu berjalan begitu cepat. Saking cepatnya, sampai-sampai Ramadhan yang sangat berat bagi umat terdahulu untuk berpuasa (tidak terasa) akan selsai, hanya tinggal beberapa hari saja.
Berbicara tentang waktu, dia adalah jawaban semua permasalahan manusia. Semuanya urusan manusia akan selesai seiring dengan berjalannya waktu. Karena pada dasarnya sifat waktu adalah akan terus berjalan terus tidak peduli apa yang dialami oleh manusia. Apakah susah atau senang waktu akan tetap berjalan. Begitu juga dengan Ramadhan yang seakan berjalan begitu cepat. Cepat atau tidaknya suatu peristiwa tergantung dari manusia sebagai obyek pelakuknya. Manusia dengan segala potensi yang dimilikinya dapat memanfaatkan waktu singkat yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Apalagi Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Sayang jika hanya dilakukan dengan biasa-biasa saja.
Ramadhan tidak sekadar perubahan jam tayang kehidupan seseorang. Sarapan pagi diganti lebih pagi, tidur malam dipercepat di pagi hari, dan malam tetap malam, yaitu untuk tidur. Mungkin itu yang menjadikan bulan puasa terasa begitu cepat.
Terasa atau tidak Ramadhan sudah menjelang akhir. Semoga di sisa hari yang ada kualitas ibadah kita menjadi lebih baik. Dan semoga keluar darinya menjadi insan yang bertaqwa. Amin…
Ditulis di Perpustakaan pusat uns, 24 Ramadhan 1432 H, pukul 13.30 WIB
Senin, 08 Agustus 2011
UNS Ramai Kembali, Sebuah Catatan Ramadhan
Suasana kampus UNS kembali ramai setelah beberapa pekan tidak dijamah mahasiswa. Senin (8/8) pagi itu adalah hari pertama dimulainya seluruh kegiatan di kampus.
Seluruh mahasiswa baru S1 dari berbagai jurusan pada pagi itu mengikuti kegiatan upacara perdana sebagai serangkaian kegiatan orientasi mahasiswa baru (Osmaru). Kegiatan ini dilaksanakan sampai beberapa hari ke depan. Selain upacara, mereka juga diwajibkan mengikuti serangkaian kegiatan lain di fakultas masing-masing.
Tidak mau ketinggalan, mahasiswa lama pun ikut berbondong-nondong ‘nganpus.’ Pada hari yang sama juga kegiatan untuk merencakan perkuliahan di semester mendatang juga mulai. Dalam istilah setempat adalah KRS-an. Begitulah sedikit gambaran keadaan di kampus UNS pada hari ke-8 Ramadhan tahun ini.
Menata Niat
Meskipun bulan puasa, tidak ada alasan untuk tidak beraktivitas. Kegiatan apapun yang dilakukan oleh seseorang, termasuk mahasiswa yang sedang mengikuti serangkaian kegiatan Osmaru dapat bernilai ibadah jika niatnya baik. Justru di bulan yang penuh rahmat ini, sepadat apapun aktivitas yang dilakukan akan menjadi nilai tambah dalam berpuasa.
Pada dasarnya ibadah manusia tidak hanya dengan shalat, membaca Qur’an, zakat, atau berbagai ibadah formal (mahdhah) lainnya. Di samping ibadah formal, ibadah juga dapat diwujudkan dalam bentuk non formal (ghoiru mahdhah). Tidur, ngampus, membaca buku, semuanya dapat bernilai ibadah asalkan sejak awal diniatkan untuk ibadah. Tentunya masih sangat banyak lagi ragam kegiatannya. Alhasil, meskipun terlihat amalan duniawi tapi bernilai ukhrawi.
Ditulis di Perpustakaan UNS, Seni (8/8) pukul 14.52 WIB.
Seluruh mahasiswa baru S1 dari berbagai jurusan pada pagi itu mengikuti kegiatan upacara perdana sebagai serangkaian kegiatan orientasi mahasiswa baru (Osmaru). Kegiatan ini dilaksanakan sampai beberapa hari ke depan. Selain upacara, mereka juga diwajibkan mengikuti serangkaian kegiatan lain di fakultas masing-masing.
Tidak mau ketinggalan, mahasiswa lama pun ikut berbondong-nondong ‘nganpus.’ Pada hari yang sama juga kegiatan untuk merencakan perkuliahan di semester mendatang juga mulai. Dalam istilah setempat adalah KRS-an. Begitulah sedikit gambaran keadaan di kampus UNS pada hari ke-8 Ramadhan tahun ini.
Menata Niat
Meskipun bulan puasa, tidak ada alasan untuk tidak beraktivitas. Kegiatan apapun yang dilakukan oleh seseorang, termasuk mahasiswa yang sedang mengikuti serangkaian kegiatan Osmaru dapat bernilai ibadah jika niatnya baik. Justru di bulan yang penuh rahmat ini, sepadat apapun aktivitas yang dilakukan akan menjadi nilai tambah dalam berpuasa.
Pada dasarnya ibadah manusia tidak hanya dengan shalat, membaca Qur’an, zakat, atau berbagai ibadah formal (mahdhah) lainnya. Di samping ibadah formal, ibadah juga dapat diwujudkan dalam bentuk non formal (ghoiru mahdhah). Tidur, ngampus, membaca buku, semuanya dapat bernilai ibadah asalkan sejak awal diniatkan untuk ibadah. Tentunya masih sangat banyak lagi ragam kegiatannya. Alhasil, meskipun terlihat amalan duniawi tapi bernilai ukhrawi.
Ditulis di Perpustakaan UNS, Seni (8/8) pukul 14.52 WIB.
Transformasi Budaya
Meskipun hanya sebentar, saya sempat mengalami sebuah keadaan di mana hampir di setiap depan rumah disediakan air minum. Siapapun boleh meminumnya tanpa harus meminta izin terlebih dahulu.
Sebuah fenomena yang menarik untuk diteliti. Begitu kuatnya solidaritas masyarakat di Jawa saat itu sehingga setiap rumah berlomba untuk memberikan apa yang bisa diberikan kepada orang lain meskipun hanya air minum. Dan itu menjadi kebiasaan yang sudah mengakar kuat di dalam masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pelan tapi pasti kebiasaan tersebut (telah) tercerabut dari akarnya.
Di rumah salah seorang mbahku (Mbah Panisih), sewaktu saya masih kecil masih bisa melihat dan menikmati hal tersebut. Setiap hari selalu disediakan air minum depan rumahnya. Beberapa kali saya meminum air tersebut tanpa harus meminta izin dulu. Di beberapa rumah juga demikian.
Menurutku itu adalah kali pertama dan terakhirnya bagiku. Pada saat itu adalah masa ‘transisi’ dari budaya tradisional menuju budaya modern. Apakah tradisi itu tetap dilanjutkan atau diganti dengan tradisi yang baru ditentukan pada pertengahan tahun 1990-an. Dalam istilah popoler itu disebut post-modern. Dan pilihannya adalah tradisi itu ditinggalkan.
Jika dianalisis secara sederhana, bayak faktor mengapa kebiasaan (baik) tersebut ditinggalkan oleh masyarakatnya. Pertama, kemajuan teknologi. Dulu banyak orang yang bepergian ke suatu tempat masih jalan kaki. Sangat jarang menggunkan kendaraan bermotor seperti saat ini. Fasilitas jalan kaki adalah fasilitas terbaik yang diberikan oleh tuhan yang maha kuasa.
Karena jalan kaki dengan jarak yang cukup jauh, tidak jarang orang mampir dari satu rumah ke rumah lainnya. Ditambah jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya relatif jauh. Wajar jika dulu banyak orang yang mampir untuk bersilaturahmi dan sekadar minum air yang disediakan.
Kedua, berubahnya mindseat masyarakat. Perubahan ini juga tidak dapat dilepaskan dari faktor pertama. Singkatnya ini adalah faktor turunan, bukan faktor utama. Kemajuan zaman menyebabkan salah satunya adalah menculnya sifat individualistik. Banyak aset-aset yang sebenarnya bisa dimanfaatkan bersama tetapi dijadikan milik pribadi.
Makna lain
Tidak mudah memang untuk mengembalikan tradisi yang sudah ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri. Namun paling tidak nilai-nilai atas tradisi itu masih bisa dimanifestasikan dalam bentuk lain yang lebih menyesuaikan zamannya. Dikatakan demikian karena banyak kendala yang muncul jiak ingin mengembalikan secara utuh. Misalnya, jika disediakan air di depan rumah, siapa yang akan meminumnya. Di beberapa rumah mungkin ada, tapi belum tentu itu bisa berjalan di rumah lain. Apalagi jumlah penjual aneka makanan dan minuman juga semakin banyak.
jika kesulitan mewujudkan dalam bentuk aslinya, yang tidak kalah pentingnya adalah mengamalkan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Jika masyarakat dulu adalah air yang bisa diberikan, mungkin untuk sekarang bisa dalam bentuk lain. Tidak harus dalam bentuk materi (kebendaan). Bisa itu sikap terbuka untuk selalu siap diminta pertolongan oleh orang lain. Intinya memberikan sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain.
Begitu cerdasnya masyarakat kita dulu. Rasa solidaritas masyarakat yang begitu kuat diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol. Saat itu Air minum adalah hal yang bisa diberikan oleh siapapun. Mungkin juga dengan masyarakat saat ini. Meskipun demikian, air adalah sumber kehidupan.
Saya merasa beruntung, meskipun hanya sebentar, pernah melihat sebuah karya besar masyarakat tempo dulu yang sudah tidak ada lagi di sekitar kita. Meskipun sudah tidak lagi dilakukan oleh masyarakat tapi paling tidak yang harus tetap dilestarikan adalah nilai-nilai luhur yaitu peduli kepada sesama. Juga yang tidak boleh dilupakan adalah memberikan sesuatu yang bisa diberikan, meski itu hanya air minum.
Ditulis di Perpustakaan Pusat UNS, Senin, 8 Ramadhan 1432 H, pukul 14.32 WIB
Sebuah fenomena yang menarik untuk diteliti. Begitu kuatnya solidaritas masyarakat di Jawa saat itu sehingga setiap rumah berlomba untuk memberikan apa yang bisa diberikan kepada orang lain meskipun hanya air minum. Dan itu menjadi kebiasaan yang sudah mengakar kuat di dalam masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pelan tapi pasti kebiasaan tersebut (telah) tercerabut dari akarnya.
Di rumah salah seorang mbahku (Mbah Panisih), sewaktu saya masih kecil masih bisa melihat dan menikmati hal tersebut. Setiap hari selalu disediakan air minum depan rumahnya. Beberapa kali saya meminum air tersebut tanpa harus meminta izin dulu. Di beberapa rumah juga demikian.
Menurutku itu adalah kali pertama dan terakhirnya bagiku. Pada saat itu adalah masa ‘transisi’ dari budaya tradisional menuju budaya modern. Apakah tradisi itu tetap dilanjutkan atau diganti dengan tradisi yang baru ditentukan pada pertengahan tahun 1990-an. Dalam istilah popoler itu disebut post-modern. Dan pilihannya adalah tradisi itu ditinggalkan.
Jika dianalisis secara sederhana, bayak faktor mengapa kebiasaan (baik) tersebut ditinggalkan oleh masyarakatnya. Pertama, kemajuan teknologi. Dulu banyak orang yang bepergian ke suatu tempat masih jalan kaki. Sangat jarang menggunkan kendaraan bermotor seperti saat ini. Fasilitas jalan kaki adalah fasilitas terbaik yang diberikan oleh tuhan yang maha kuasa.
Karena jalan kaki dengan jarak yang cukup jauh, tidak jarang orang mampir dari satu rumah ke rumah lainnya. Ditambah jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya relatif jauh. Wajar jika dulu banyak orang yang mampir untuk bersilaturahmi dan sekadar minum air yang disediakan.
Kedua, berubahnya mindseat masyarakat. Perubahan ini juga tidak dapat dilepaskan dari faktor pertama. Singkatnya ini adalah faktor turunan, bukan faktor utama. Kemajuan zaman menyebabkan salah satunya adalah menculnya sifat individualistik. Banyak aset-aset yang sebenarnya bisa dimanfaatkan bersama tetapi dijadikan milik pribadi.
Makna lain
Tidak mudah memang untuk mengembalikan tradisi yang sudah ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri. Namun paling tidak nilai-nilai atas tradisi itu masih bisa dimanifestasikan dalam bentuk lain yang lebih menyesuaikan zamannya. Dikatakan demikian karena banyak kendala yang muncul jiak ingin mengembalikan secara utuh. Misalnya, jika disediakan air di depan rumah, siapa yang akan meminumnya. Di beberapa rumah mungkin ada, tapi belum tentu itu bisa berjalan di rumah lain. Apalagi jumlah penjual aneka makanan dan minuman juga semakin banyak.
jika kesulitan mewujudkan dalam bentuk aslinya, yang tidak kalah pentingnya adalah mengamalkan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Jika masyarakat dulu adalah air yang bisa diberikan, mungkin untuk sekarang bisa dalam bentuk lain. Tidak harus dalam bentuk materi (kebendaan). Bisa itu sikap terbuka untuk selalu siap diminta pertolongan oleh orang lain. Intinya memberikan sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain.
Begitu cerdasnya masyarakat kita dulu. Rasa solidaritas masyarakat yang begitu kuat diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol. Saat itu Air minum adalah hal yang bisa diberikan oleh siapapun. Mungkin juga dengan masyarakat saat ini. Meskipun demikian, air adalah sumber kehidupan.
Saya merasa beruntung, meskipun hanya sebentar, pernah melihat sebuah karya besar masyarakat tempo dulu yang sudah tidak ada lagi di sekitar kita. Meskipun sudah tidak lagi dilakukan oleh masyarakat tapi paling tidak yang harus tetap dilestarikan adalah nilai-nilai luhur yaitu peduli kepada sesama. Juga yang tidak boleh dilupakan adalah memberikan sesuatu yang bisa diberikan, meski itu hanya air minum.
Ditulis di Perpustakaan Pusat UNS, Senin, 8 Ramadhan 1432 H, pukul 14.32 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)