Kamis, 28 Juni 2012
"Onthel" Bertuah
Sinar matahari pagi jatuh di pelataran. Parmin duduk di kursi rotan sembari mencecap teh hangat sedikit pahit sebagai sarapan paginya. Parmin merasa beruntung bisa berumah tangga dengan parmi yang notabene tumbuh di keluarga yang berkecukupan. Sementara Parmin sudah menjadi yatim sejak berusia lima tahun.
Hidup menjanda dnegan dua anak, ibu Parmin berkerja serabutan demi memenuhi kebutuhan. Oleh sebab itu Parmin hanya berkesempatan sekolah sampai SMP saja. Itu pun bisa dibilang sudah beruntung karena dia mendapat beasiswa untuk keluarga miskin.
Sedang Parmi tamatan sekolah menengah atas. Terang saja karena usaha es krim Ayah Parmi cukup untuk menyekolahkan lima anaknya. Dan sekarang Parmin dapat ikut berkecimpung menjadi penjual es krim juga karena Ayah Parmi yang baik hati.
Parmin akui keluarga Parmi amat berjasa dalam hidupnya. Parmin pun tidak dapat menyangkal bahwa Parmi adalah istri yang sangat baik. Ia pandai mengelola keuangan keluarga. ia Pun ringan tangan membantu menambah pendapatan. Andai bukan Parmi, belum tentu penghasilan Parmin yang pas-pasan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari yang tak bisa disebut sedikit itu.
“Kang, kok melamun?” tanya Parmi seketika membuyarkan lamunan Parmin.
“Eh, oh, tidak. Ketela yang kamu goreng sangat enak, Mi,” gelagapan Parmin menjawab.
“Ah, Kang Parmin bisa saja. Dari dulu rasa ketela memang enak, Kang!”
“Oh , ya Kang, kemarin Lik Paino bilang, Kang Parmin disuruh mampir ke rumah Bapak.”
“Memang ada apa, Mi? Apa asma bapak kumat?”
“Bapak sehat kok, Kang. Katanya Bapak hanya ingin ngobrol saja sama kang Parmin.”
Matahari menguning keemasan seperti kuning telur yang telah matang digoreng. Parmin mengayuh sepedanya gegas. Meski tenaganya seharian telah dikuras berkeliling, ia tak merasa sedikit pun lemas.
Bahkan ia bersemangat sampai di rumah dan bertemu dengan anak dan istri yang dicintainya. Namun sore itu, ia harus bertandang ke rumah bapak mertuanya dulu sebelum pulang ke rumah.
Sesampainya di pelataran rumah bapak mertuanya, Parmin segera menyandarkan sepedanya ke pagar dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, salamnya disambut suara serak dari bapak mertuanya yang telah renta.
“Min, bapak menyuruhmu datang ke sini karena ada satu hal yang ingin bapak sampaikan. Bapak ingin memasrahkan satu barang padamu. Memang barang ini bukan sesuatu yang penting atau berharga tapi Bapak harap kamu menerimanya.”
“Iya,pak insyaallah barang itu akan saya terima dan jaga dengan baik.”
“Sepeda itu Min. Sepeda onthel itulah yang Bapak serahkan padamu. Meski itu sepeda tua tapi kondisinya masih cukup bagus. Kamu masih bisa memakainya untuk berdagang.” Bapak menunjuk sepeda onthel yang berdiri gagah di pinggir ruang.
“Tapi sepeda itu bukankah amat bersejarah buat Bapak?”
“Memang, Min, karena itulah aku tidak bisa menyerahkannya ke sembarang orang. Seperti yang kamu tahu, dari kayuhan sepeda itu Bapak menjalankan es krim dari satu kampung ke kampung lain. Dari sepeda itu kebutuhan keluarga bisa tercukupi hingga anak-anakku besar dan menikah.”
Parmin mengangguk-angguk takdzim. Sejak sore itusepeda onthel yang sangat bersejarah bagi bapak mertuanya itu berpindah tangan padanya.
“Mi, Parmi!”
“Iya, kang. Ada apa? Mengapa Kang Parmin berteriak-teriak?”
“Kita dapat rezki, Mi. Proyek besar,” jawab Parmin girang. “Pak lurah memesan es krim untuk acara resepsi pernikahan putrinya, Mi,”ungkap Parmin dengan binar wajah ceria.
“Alhamdulillah,” desah Parmin pelan.
“Ini berkat sepeda onthel dari Bapak, Mi. Sejak aku menaikinya, rezeki datang bertubi-tubi. Sepeda onthel bertuah. Beruntung sekali aku bisa memilikinya.”
“Ah, Kang Parmin ada-ada saja. Ini semua semata rezeki yang diberikan Allah, Kang!”
Satu tahun berlalu, usaha Parmin mengalami kemajuan pesat. Namanya dikenal sebagai pembuat es krim yang enak. Es krimnya sering dipesan untuk beragam acara dan pesta. Selalu dengan sepeda onthel yang dianggapnya bertuah itu, Parmin mengantar es krim pesanan.
Meski sebenarnya sepeda ontehl itu sangat usang, Parmin tetap setia memakainya. Sekalipun sekarang ia bisa membeli sepeda motor, Parmin tetap bersikukuh memakai sepeda onthel dari mertuanya. Itu semua semata-mata karena Parmin percaya sepeda onthel mertuanya bertuah.
Parmin baru saja menyelesaikan menyeterika baju kala ia dapati suaminya tengah duduk murung di meja makan. Parmi bergegeas menghampiri suaminya kalau-kalau ia bisa memberi bantuan.
“Ada apa kang kok kelihatan lesu?” tanya Parmi lembut.
“Kacau, Mi,” semuanya jadi kacau. Tadi Pak Samso marah besar dan membatalkan es krim pesanannya gara-gara aku datang terlambat. Apas benar aku akhir-akhir ini. Sudah tiga orang yang membatalkan pesanan hanya karena aku terlambat.
“Sepedanya rusak lagi?” tanya Parmi seraya memandang lekat suaminya. Parmin mengangguk lemah.
“Dan sekarang apa Kang Parmin masih menganggap sepeda itu bertuah?” tukas Parmi, hati-hati. Parmin makin menundukkan pandangannya. Matanya menekuri lantai. Lalu berlahan dari mulutnya terdengar lirih ia mengucap istighafar.
Tulisan ini diambil dari Harian Solopos untuk berlatih nulis cerpen dengan baik. Harap maklum...
Ditulis di Pattiro Solo, Kamis (28/6) pukul 14.00 WIB
Rabu, 27 Juni 2012
Kampus Tanpa Gerakan Mahasiswa
Beberapa pekan lalu di salah satu ruang publikasi kampus UNS tertempel pengumuman yang berisi informasi pelarangan melakukan propaganda dan kampanye bagi organisasi ekstra kampus maupun politik. Peraturan itu berdasarkan SK Dikti No. 2/Dikti/Kep/2002.
Sebagai bagian dari mahasiswa pergerakan, muncul pertanyaan besar dengan kebijakan yang sebenarnya sudah usang itu. Bukan sekadar karena tidak mendapatkan lagi ruang untuk melakukan sosialisai di kampus, tetapi juga menghawatirkan kondisi kampus yang notabene-nya adalah sebagai ruang kaderisasi bangsa.
Gerakan mahasiswa merupakan salah satu elemen masyarakat yang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan bangsa Indonesia. Sejarah telah membuktikan bahwa peran mahasiswa cukup besar dalam mendorong perubahan baik pada masa sebelum maupun setelah kemerdekaan. Selain dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat muda dan sifat kritis, mahasiswa juga relatif bersih dari berbagai kepentingan. Tidak berlebihan jika kemudian muncul sebutan gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral atau moral force.
Secara umum hakekat gerakan mahasiswa adalah “perubahan.” Ia tumbuh karena adanya dorongan untuk mengubah kondisi kehidupan untuk digantikan oleh situasi baru yang dianggap memenuhi harapan (Albatch. 1998). Salah satu ciri khas dari organisasi pergerakan adalah kondusifnya iklim diskusi baik teori sosial, wacana kiri, maupun isu-isu kontemporer. Pendiskusian ini yang jarang dilakukan di bangku perkuliahan. Sehingga wajar jika organisasi pergerakan disebut juga sebagai “dapur wacana” bagi mahasiswa 1998. Selain itu, jaringan (networking) yang luas serta jenjang pengkaderan yang sistematis menjadikan organisasi pergerakan menjadi memiliki peran lebih. Hal ini dapat dilihat dari eksistensi dan peran organisasi pergerakan dari masa ke masa.
Pelabelan organisasi gerakan sebagai organ ekstra kampus merupakan kebijakan politis Orde Baru (Orba) untuk membedakan antara organisasi yang koperatif dan non-kooperatif. Organisasi intra kampus atau oragn koperatif ini ada di dalam struktur kampus seperti unit kegiatan mahasiswa (UKM), BEM, dewan mahasiswa (Dema), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan. Semuan perizinan dan pendanaan organisasi tersebut berasal dari kampus. Pada masa Orba organ intra tidak berani melakukan perlawanan secara terbuka sebagaimana organ ekstra karena terancam dicabut perizinan dan pendanaan dari pihak kampus.
Sebaliknya, organ ekstra seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), Persatuan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI), dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), memilki peluang yang besar untuk melakukan kritik terhadap pemerintah yang berkuasa karena posisinya berada di luar struktur kampus. Pemerintah lebih sulit membekukan organisasi ekstra daripada intra kampus. Untuk menyiasati agar tidak dibekukan, pada Reformasi 1998 organ intra dan berkerja sama dengan cara membuat organ-organ baru di luar organisasi yang sudah ada, misalnya Serikat Mahasiswa Peduli Rakyat (SMPR), Serikat Mahasiswa Peduli Tanah Air (SMPTA), dan organ taktis lainnya.
Kerja Sama
Dampak paling kentara dari kebijakan Dikti tersebut adalah saat penerimaan mahasiswa baru di mana masing-masing organ ekstra dilarang untuk mendirikan stan sebagai ajang bersosialisasi kepada mahasiswa. Secara tidak langsung hal itu akan mengurangi gerak organ ekstra di dalam kampus dan menghambat proses kaderisasi dalam organisasi.
Pelarangan organisasi ekstra melakukan sosialisasi ke kampus bukanlah hal baru. Pada masa Orba, pelarangan dilakukan karena pemerintah saat itu tidak menginginkan mahasiswa membicarakan politik karena hal itu dapat menimbulkan kritik yang berujung pada aksi turun ke jalan. Hal ini juga yang mungkin dikhawatirkan oleh pemerintah yang berkuasa saat ini. Untuk menekan kekhawatiran tersebut, lahirlah kebijakan dengan melarang organ ekstra melakukan propaganda maupun sosialisasi di kampus.
Adanya pelarangan kegiatan organisasi pergerakan di dalam kampus tidak sekadar melupakan peran organ ekstra di masa lalu, tetapi juga akan melumpuhkan nalar kritis mahasiswa dengan relitas yang ada di tengah masyarakat. Dampak jangka panjangnya adalah hilangnya rasa keberpihakan kaum intelektual (baca: mahasiswa) kepada masyarakat marginal atau masyarakat tertindas. Rasa keberpihakan inilah salah satu yang membedakan antara organ intra dan ekstra kampus. Yang muncul kemudian adalah mahasiswa hanya menjadi kaum intelektual yang berkerja berdasarkan asas profesional. Dia tidak mau tahu berkerja kepada siapa dan untuk apa. Hal inilah yang menurut Antonio Gramsci disebut sebagai “intelektual tradisional” yang justru menghambat proses perubahan.
Untuk membangun nalar kritis mahasiswa, kerja sama antara intra dan ekstra kampus tetap diperlukan untuk menjaga dan mengingatkan fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan (agen of change). Kerja sama ini juga dilakukan gerakan mahasiswa pada tahun 1998 dan periode gerakan sebelumnya. Adanya kerja sama ini tentunya akan saling melengkapi satu sama lain dan memiliki kekuatan yang besar mendorong lahirnya perubahan ke arah yang lebih baik. Ketika mahasiswa sudah memiliki kesadaran dan keberpihakan kepada masyarakat pinggir, maka perubahan dapat diciptakan. Ada banyak alternatif pilihan gerak yang dapat diambil mahasiswa untuk mengawal perubahan seperti menulis, berwirausaha, pengabdian masyarakat, dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi masyarakat.
Senin, 30 April 2012
Dari Solo PMII Lahir
Pada tanggal 17 April 2012 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memasuki usianya yang ke-52 tahun. Banyak hal yang perlu diceritakan, diluruskan, dievaluasi, dan direfleksi.
Organisasi ini didirikan di Gedung Madrasah Muallimin NU Wonokromo Surabaya pada tanggal 17 April 1960. Kelahiran PMII yang disponsori oleh 13 orang tokoh mahasiswa nahdliyin. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Surabaya. Delapan kota inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya PMII di Indonesia. Itulah fakta sejarah yang selama ini diketahui. Dibalik kelahirannya itu, ada satu kota kecil yang memiliki kontribusi besar dalam membangun dan membesarkan organisasi PMII. Adalah Kota Surakarta atau yang juga akrab disapa Kota Solo. Tidak menafikan kota lainnya, Solo memiliki kontribusi yang besar dalam membidani lahirnya PMII.
Era 1960-an, pertarungan politik begitu kental di kota ini. Pergesekan sering terjadi, utamanya antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Parati Nahdlatul Ulama’ (PNU). Pada waktu itu Walikota Solo dipimpin oleh Oetomo Ramelan, salah seorang kader PKI. Tidak jarang ketika dalam berbagai acara, kader-kader komunis selalu diutamakan. Sikap diskriminatif itu tampak misalnya dalam acara rutin pertunjukan kesenian di Balaikota Solo. Lekra yang merupakan lembaga kesenian (yang identik) PKI mendapatkan porsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan Lesbumi, lembaga kesenian PNU.
Sikap diskriminatif dan perasaan satu faham (Ahlussunah wal-jama’ah) itulah yang menyatukan kader-kader PNU Kota Solo. begitu kuatnya solidaritas antar-kader, mereka juga mendirikan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMUNU). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran PMII. Adalah Mustahal Ahmad, warga Keprabon Solo yang memiliki inisiatif untuk mendirikan wadah tersebut. Beliau adalah kader nahdliyin terbaik yang pernah dimiliki oleh Kota Bengawan. Sebelum menjadi PMII, Mustahal aktif mengisi kegiatan di KMNU yang kelak melahirkan IPNU-IPPNU Solo.
Pada saat itu, ada tiga pondok pesantren yang menjadi basis perjuangan PNU di Kota Solo, yaitu ponjok Jenengan, Seraten, dan al-Muayyad. Dari tiga pondok inilah melahirkan kader-kader pioner yang menjadi pengurus IPNU-IPPNU di Kota Solo. Ketika PMII benar-benar lahir, Solo menjadi salah satu deklarator, ada juga tiga universitas yang ikut menyokong berdirinya PMII di Solo, yaitu Universitas Cokroaminoto (Pada tahun 1975 dileburkan menjadi AAN sebelum menjadi Universitas Sebelas Maret atau UNS), Univeritas Nahdlatul Ulama’ (Universitas ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1958), dan Universitas Islam Indonesia (sekarang SMA al-Islam Solo).
Kiprah PMII Solo tidak hanya sebagai deklarator secara nasional, tetapi juga menjadi tuan rumah dalam Kongres I PMII pada tanggal 23 sampai 26 Desember 1961 di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Pada saat itu PMII memiliki 13 Cabang, antara lain, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, Ciputat, Malang, Makasar, Surabaya, Banjarmasin, Padang, Aceh, dan Cirebon. Hasil dari Kongres I PMII memilih sahabat Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum Pengurus Pusat PMII untuk periode 1961-1963. Dalam kongres juga melahirkan “Deklarasi Tawangmangu” yang berisi pernyataan sikap tentang sosialisme Indonesia, pendidikan nasional, kebudayaan nasioanl, dan tentang tanggung jawab sebagai kader PMII.
PMII Solo dideklarasikan di Loji Wetan pada akhir November 1960. Hadir dalam acara itu kader-kader PNU Kota Solo dan dari Jakarta. Uniknya, kelahiran organisasi baru ini (baca :PMII) tidak menyebabkan perpecahan di tubuh PNU. Justru IPNU yang merupakan organisasi terlahir lebih dulu merasa memiliki kakak kandung. Hubungan tersebut terus berlanjut hingga sekarang.
Gerakan Masa Kini
Pada awalnya PMII lahir disiapkan untuk mendukung Partai Nahdlatul Ulama’ (PNU). Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya, sebagai gerakan PMII sadar bahwa langkah yang diambil kurang strategis. Oleh karena itulah lahir Deklarasi Murnajati di Malang, Jawa timur pada tanggal 14 Juli 1972.
Gerakan yang dipilih oleh mahasiswa, termasuk PMII tahun 1960-an dan tahun 1990-an hampir sama, yaitu cenderung memilih gerakan jalanan. Hal itu dianggap sesuai karena keadaan yang memaksa untuk demikian. Ternyata, ketika pemerintah berhasil digulingkan, ternyata hal itu tidak mengubah ke arah yang lebih baik. Justru sebaliknya. Misalnya saja gerakan 1998 di mana gerakan mahasiswa bersatu menggulingkan rezim. Tetapi apa yang terjadi setelah itu? Kondisinya tidak berbeda jauh dengan kondisi sebelumnya.
Itu sedikit cerita masa lalu. Tantangannya sekarang adalah lebih sulit. Di era keterbukaan informasi, PMII yang mengeklaim sebagai kaum gerakan harus pandai memanfaatkan momentum dan melakukan pendidikan kepada kader. Sekarang tidak hanya mengkritik pemerintah dan berteriak di jalanan. Itu memang tidak harus ditinggalkan sepenuhnya. Gerakan mahasiswa di era sekarang selain bisa mengkritik juga harus bisa memberikan solusi strategis bagi pemerintah.
Ditulis di Kantor PMII Cabang Solo, Selasa (17/4) pukul 12.55 WIB
Dari Solo PMII Lahir
Pada tanggal 17 April 2012 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memasuki usianya yang ke-52 tahun. Banyak hal yang perlu diceritakan, diluruskan, dievaluasi, dan direfleksi.
Organisasi ini didirikan di Gedung Madrasah Muallimin NU Wonokromo Surabaya pada tanggal 17 April 1960. Kelahiran PMII yang disponsori oleh 13 orang tokoh mahasiswa nahdliyin. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Surabaya. Delapan kota inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya PMII di Indonesia. Itulah fakta sejarah yang selama ini diketahui. Dibalik kelahirannya itu, ada satu kota kecil yang memiliki kontribusi besar dalam membangun dan membesarkan organisasi PMII. Adalah Kota Surakarta atau yang juga akrab disapa Kota Solo. Tidak menafikan kota lainnya, Solo memiliki kontribusi yang besar dalam membidani lahirnya PMII.
Era 1960-an, pertarungan politik begitu kental di kota ini. Pergesekan sering terjadi, utamanya antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Parati Nahdlatul Ulama’ (PNU). Pada waktu itu Walikota Solo dipimpin oleh Oetomo Ramelan, salah seorang kader PKI. Tidak jarang ketika dalam berbagai acara, kader-kader komunis selalu diutamakan. Sikap diskriminatif itu tampak misalnya dalam acara rutin pertunjukan kesenian di Balaikota Solo. Lekra yang merupakan lembaga kesenian (yang identik) PKI mendapatkan porsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan Lesbumi, lembaga kesenian PNU.
Sikap diskriminatif dan perasaan satu faham (Ahlussunah wal-jama’ah) itulah yang menyatukan kader-kader PNU Kota Solo. begitu kuatnya solidaritas antar-kader, mereka juga mendirikan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMUNU). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran PMII. Adalah Mustahal Ahmad, warga Keprabon Solo yang memiliki inisiatif untuk mendirikan wadah tersebut. Beliau adalah kader nahdliyin terbaik yang pernah dimiliki oleh Kota Bengawan. Sebelum menjadi PMII, Mustahal aktif mengisi kegiatan di KMNU yang kelak melahirkan IPNU-IPPNU Solo.
Pada saat itu, ada tiga pondok pesantren yang menjadi basis perjuangan PNU di Kota Solo, yaitu ponjok Jenengan, Seraten, dan al-Muayyad. Dari tiga pondok inilah melahirkan kader-kader pioner yang menjadi pengurus IPNU-IPPNU di Kota Solo. Ketika PMII benar-benar lahir, Solo menjadi salah satu deklarator, ada juga tiga universitas yang ikut menyokong berdirinya PMII di Solo, yaitu Universitas Cokroaminoto (Pada tahun 1975 dileburkan menjadi AAN sebelum menjadi Universitas Sebelas Maret atau UNS), Univeritas Nahdlatul Ulama’ (Universitas ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1958), dan Universitas Islam Indonesia (sekarang SMA al-Islam Solo).
Kiprah PMII Solo tidak hanya sebagai deklarator secara nasional, tetapi juga menjadi tuan rumah dalam Kongres I PMII pada tanggal 23 sampai 26 Desember 1961 di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Pada saat itu PMII memiliki 13 Cabang, antara lain, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, Ciputat, Malang, Makasar, Surabaya, Banjarmasin, Padang, Aceh, dan Cirebon. Hasil dari Kongres I PMII memilih sahabat Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum Pengurus Pusat PMII untuk periode 1961-1963. Dalam kongres juga melahirkan “Deklarasi Tawangmangu” yang berisi pernyataan sikap tentang sosialisme Indonesia, pendidikan nasional, kebudayaan nasioanl, dan tentang tanggung jawab sebagai kader PMII.
PMII Solo dideklarasikan di Loji Wetan pada akhir November 1960. Hadir dalam acara itu kader-kader PNU Kota Solo dan dari Jakarta. Uniknya, kelahiran organisasi baru ini (baca :PMII) tidak menyebabkan perpecahan di tubuh PNU. Justru IPNU yang merupakan organisasi terlahir lebih dulu merasa memiliki kakak kandung. Hubungan tersebut terus berlanjut hingga sekarang.
Gerakan Masa Kini
Pada awalnya PMII lahir disiapkan untuk mendukung Partai Nahdlatul Ulama’ (PNU). Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya, sebagai gerakan PMII sadar bahwa langkah yang diambil kurang strategis. Oleh karena itulah lahir Deklarasi Murnajati di Malang, Jawa timur pada tanggal 14 Juli 1972.
Gerakan yang dipilih oleh mahasiswa, termasuk PMII tahun 1960-an dan tahun 1990-an hampir sama, yaitu cenderung memilih gerakan jalanan. Hal itu dianggap sesuai karena keadaan yang memaksa untuk demikian. Ternyata, ketika pemerintah berhasil digulingkan, ternyata hal itu tidak mengubah ke arah yang lebih baik. Justru sebaliknya. Misalnya saja gerakan 1998 di mana gerakan mahasiswa bersatu menggulingkan rezim. Tetapi apa yang terjadi setelah itu? Kondisinya tidak berbeda jauh dengan kondisi sebelumnya.
Itu sedikit cerita masa lalu. Tantangannya sekarang adalah lebih sulit. Di era keterbukaan informasi, PMII yang mengeklaim sebagai kaum gerakan harus pandai memanfaatkan momentum dan melakukan pendidikan kepada kader. Sekarang tidak hanya mengkritik pemerintah dan berteriak di jalanan. Itu memang tidak harus ditinggalkan sepenuhnya. Gerakan mahasiswa di era sekarang selain bisa mengkritik juga harus bisa memberikan solusi strategis bagi pemerintah.
Ditulis di Kantor PMII Cabang Solo, Selasa (17/4) pukul 12.55 WIB
Minggu, 26 Februari 2012
Laki-Laki pun Juga Boleh Bisa Memasak
Kata pakar kesehatan, sarapan itu sangat penting untuk menunjang kesehatan dan kecerdasan seseorang. Teringat saran tersebut ditambah dengan sisa beras yang ada di dapur, kuputuskan untuk memasaknya. Karena tidak lauk, maka beras yang ada disulap jadi nasi goreng (Nasgor).
Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB. Tanpa pikir panjang, beras yang ada di dapur langsung diambil dan dicuci bersih. Kemudian setelah itu dimasak menggunakan majic jar. Meski terlihat sepele, memasak nasi bukanlah hal yang mudah. Artinya membutuhkan latihan khusus, terutama pembagian antara porsi air dengan beras yang dimasak. Sebanyak apapun beras yang akan dimasak, ukuran air adalah 1/3 dari jari telunjuk. Jari yang digunakan bisa jari sendiri maupun orang lain. Karena alat yang digunakan otomatis, maka nasi yang dimasak bisa ditinggal untuk beraktivitas lain. Dan aktivitas yang dipilih adalah tidur kembali.
Tidak lama kemudian, setelah bangun tidur, nasi yang dimasak kemudian diolah menjadi nasi goreng. Bahan yang dibutuhkan sederhana saja, yakni bawang putih, bawang merah, cabai, garam, dan penyedap rasa. Kebetulah bahan-bahan itu tersedia di dapur. Maklumlah, beberapa hari terakhir saya sering masak bersama teman-teman pegiat bisnis Nasi Kotak Delivery.
Setelah jadi, Nagor pun dimakan bersama dengan salah seorang teman penghuni kos. Ternyata rasanya pun tidak kalah dengan Nasgor yang dijual warung makan.
Kesetaraan...
Seorang laki-laki bisa memasak itu bukanlah hal yang aneh. Tetapi bagi seorang perempuan yang tidak memasak itu adalah hal yang sangat disayangkan. Itulah budaya kita.
Bagi perempuan yang menjadi calon ibu seakan ada suatu kewajiban untuk bisa memasak. Budaya kita menciptakan seorang perempuan, selain melahirkan dan menyusui, harus bisa memasak, merawat anak, dan menyelesaikan pekerjaan rumah. Sedangkan seorang laki-laki harus bisa berkerja dan mencari nafkah.
Berbeda dengan kondisi alamiah seseorang, memasak adalah kegiatan yang dapat saling menggantikan. Artinya laki-laki pun juga boleh bisa memasak. Apalagi memasak itu dapat dilihat dan dipelajari. Prinsipnya, sesuatu yang dapat dilihat itu dapat dilakukan dengan terus berlatih, termasuk juga dalam hal memasak. Karena dapat saling menggantikan, sekali lagi, laki-laki pun juga boleh bisa memasak.
Ditulis di Gendingan, Sabtu (25/2) pukul 11.08 WIB
Diskusi Pesantren di Kalpadruma
Siang itu, beberapa orang sedang asyik membicarakan tentang pesantren. Mereka bukanlah santri pondok pesantren, tetapi mahasiswa pegiat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kalpadruma FSSR UNS. Keinginan untuk tahu tentang dunia pesantren yang menjadikan mereka mendiskusikan lembaga pendidikan tertua di Indonesia tersebut.
Meski terlihat sederhana, sebenarnya tema yang dibicarakan adalah tema besar yang membutuhkan pendiskusian yang panjang. Selain karena panjangnya usia pesantren di Indonesia, juga karena beragmnya model pesantren yang ada. Harus diakui bahwa model pesantren tradisonal kini sudah banyak yang tergantikan dengan model yang lebih modern, sebagaimana lembaga pendidikan formal.
Pada awal abad ke-19, pesantren tidak hanya sebagai bagian dari proses islamisasi, tetapi lebih dari itu, pesantren memiliki peran yang sentral, yakni sebagai pusat benteng pertahanan rakyat pribumi terhadap ancaman kekuasaan pemerintah kolonial. Hal ini terjadi setelah raja-raja di di wilayah Indonesia termasuk di Jawa telah dikuasai oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pesantren di bawah para ulama berkembang pesat dan meluas, terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
Peran pesantren semakin meningkat pada masa pergerakan nasional, yaitu periode 1900-1945, termasuk pada masa pendudukan Jepan tahun 1942-1945. Terlebih pada masa revolusi kemerdekaan (1945-1950), pesantren memiliki andil besar terhadap perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Kedudukan pesantren tetap tidak surut, sekalipun pendidikan modern telah meluas (Djoko Suryo; 2009).
Melihat Dari Dalam...
Dalam lembaga pendidikan yang bernama pesantren, output yang dihasilkan tidak sekadar memiliki karakter kuat dan cerdas, tetapi juga berakhlak. Faktor akhlak inilah yang sering dilupakan oleh lembaga pendidikan di luar pesantren. Tanpa didasari akhlak, akan banyak ilmu yang disalahgunakan. Akibat terbesar ilmu yang tanpa didasari akhlak adalah kehancuran suatu peradaban manusia.
Membicarakan pesantren dapat dilihat dari berbagai sisi, di mana masing-masing sisi memiliki keunikan jika dibandingkan dengan lembaga pendidikan lain. Misalnya saja dari segi sosial. Ternyata lulusan pesantren lebih banyak dibutuhkan oleh masyarakat daripada lulusan perguruan tinggi. Untuk menjelaskan hal tersebut, perlu melacak keseharian yang dilakukan oleh para santri di pondok.
Keseharian di pesantren tidak dapat dilepaskan dari kegiatan belajar, terutama adalah mengkaji ilmu-ilmu agama. Kitab-kitab yang digunakan lazimnya disebut dengan istilah “kitab kuning.” Selain karena berwarna kuning, sesuatu yang khas adalah tidak menggunakan harakat atau gundhul.
Untuk dapat membaca kitab dengan baik dan benar diperlukan perangkat lain, yakni nahwu, shorof, matiq, balaghoh, ushul fiqih, ilmu mustholah hadits, tafsir, dan sebagainya. Secara tidak langsung, penggunaan ilmu-ilmu tersebut melatih santri untuk bersifat kritis terhadap teks dan konteks. Mungkin hal inilah yang membedakan dengan pesatren modern yang sebagian besar sudah menggunakan kitab terjemah.
Setiap hari mereka belajar di pondok dan di sekolah. Shalat berjamaah, hafalan, bergaul dengan teman, memuliakan (takdzim) pada kiai atau guru, adalah aktivitas santri yang tidak asing lagi. Begitu juga dengan hukuman (takzir) bagi yang melanggar aturan.
Pesantren juga dapat dilihat dari sisi budaya, agama, ekonomi, dan politik. Masing-masing sisi secara tidak langsung sedikit banyak memberikan sumbangsih terhadap pembentukan karakter (building character) seorang santri.
Tidak dapat dipungkiri, pesantren sebagai warisan budaya masyarakat Indonesia, masih tetap memiliki tempat di hati masyarakat Indonesia sebagai modal sosial-budaya bangsa yang tangguh yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.
Obroal siang itu dikuti tidak lebih dari sepuluh orang. Akan tetapi dengan suasana non-formal menjadikan diskusi menjadi lebih hidup. Masing-masing peserta dipersilahkan memaparkan gagasannya di dalam forum. Tidak ada pemateri yang mendominasi, yang ada hanya fasilitator. Mungkin inilah implementasi dari pendidikan orang dewasa (andragogy) sebagaimana yang dipaparkan oleh filusuf pendidikan kritis asal Brazil, Paoulo Freire.
Ditulis di Gendingan, Sabtu (25/2) pukul 12.00 WIB
Senin, 23 Januari 2012
Perayaan Maulud Nabi di Solo Raya
Ada yang istimewa di Solo Raya memasuki bulan Rabi’ul Awal atau Maulud. Sebagian besar kaum muslimin akan merayakan kelahiran manusia paling utama, Nabi Muhammad SAW. Beragam kegiatan dilakukan untuk menyambutnya.
Banyak jamaah Solo Raya yang mengadakan acara pembacaan sejarah Rosulullah SAW pada bulan itu, terutama pada tanggal satu sampai 12 Maulud. Salah satu jama’ah yang mengadakan acara itu adalah Jama’ah Muji Rosul (Jamuro). Kelompok ini mengadakan kegiatan pembacaan maulid al-Barjanji selama 12 malam dengan tempat yang berbeda-beda.
Malam pembukaan dilaksanakan Selasa (24/1) malam di Pondok Pesantren Popongan, Klaten dengan menghadirkan KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus. Malam selanjutnya dilakukan di tempat yang berbeda. Acara penutup pada tanggal 12 Maulud, acara Jamuro dilaksanakan di Markas Korem Solo, depan Solo Square. Rangkaian acara dalam Jamuro diawali dengan pembacaan maulid kemudian dilanjutkan dengan ceramah (mauidhah hasanah).
Hari yang membahagiakan
Bagi orang yang tahu dengan sejarah perjalanan serta kemuliaan Nabi Muhammad SAW, tentu akan bebahagia menyambut kelahirannya. Dapat merayakan kelahiran Rosulullah adalah sebuah kenikmatan tersendiri.
Abu Lahab merupakan salah orang yang tidak beriman mendapatkan pertolongan (syafa’at) karena berbahagia menyambut kelahiran Rosulullah. Kebahagiaannya diwujudkan dengan memerdekaan Suwaibah, pembantunya yang pernah menyusui Rosulullah. Abu Lahab diberitahu oleh pembantunya dengan kelahiran manusia paling utama di muka bumi ini. Seketika langsung saja Suwaibah dimerdekakan. Karena bahagia, keringanan (siksaan) diberikan Allah setiap hari Senin. antara jempol dan telunjuk Abu Lahab keluar air yang dapat diminum. Bayangkan saja, orang yang tidak beriman saja mendapatkan pertolongan. Bagaimana jika orang yang beriman?
Selama bulan Maulud ada banyak ditemui kegiatan pembacaan kitab maulid (baca: jama’ah maulid) di Solo Raya yang meliputi Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, dan Boyolali. Selain Jamuro masih banyak lagi jamaah maulid seperti Jamuri, MTA, Majelis Al-Hidayah, al-Inshof, Ar-Raudhah dan sebagainya. Mereka semua berbahagia menyambut hari yang membahagiakan itu.
Ditulis di Gendingan, Senin (23/1) pukul 21.50 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)