Senin, 08 Agustus 2011

UNS Ramai Kembali, Sebuah Catatan Ramadhan

Suasana kampus UNS kembali ramai setelah beberapa pekan tidak dijamah mahasiswa. Senin (8/8) pagi itu adalah hari pertama dimulainya seluruh kegiatan di kampus.
Seluruh mahasiswa baru S1 dari berbagai jurusan pada pagi itu mengikuti kegiatan upacara perdana sebagai serangkaian kegiatan orientasi mahasiswa baru (Osmaru). Kegiatan ini dilaksanakan sampai beberapa hari ke depan. Selain upacara, mereka juga diwajibkan mengikuti serangkaian kegiatan lain di fakultas masing-masing.
Tidak mau ketinggalan, mahasiswa lama pun ikut berbondong-nondong ‘nganpus.’ Pada hari yang sama juga kegiatan untuk merencakan perkuliahan di semester mendatang juga mulai. Dalam istilah setempat adalah KRS-an. Begitulah sedikit gambaran keadaan di kampus UNS pada hari ke-8 Ramadhan tahun ini.
Menata Niat
Meskipun bulan puasa, tidak ada alasan untuk tidak beraktivitas. Kegiatan apapun yang dilakukan oleh seseorang, termasuk mahasiswa yang sedang mengikuti serangkaian kegiatan Osmaru dapat bernilai ibadah jika niatnya baik. Justru di bulan yang penuh rahmat ini, sepadat apapun aktivitas yang dilakukan akan menjadi nilai tambah dalam berpuasa.
Pada dasarnya ibadah manusia tidak hanya dengan shalat, membaca Qur’an, zakat, atau berbagai ibadah formal (mahdhah) lainnya. Di samping ibadah formal, ibadah juga dapat diwujudkan dalam bentuk non formal (ghoiru mahdhah). Tidur, ngampus, membaca buku, semuanya dapat bernilai ibadah asalkan sejak awal diniatkan untuk ibadah. Tentunya masih sangat banyak lagi ragam kegiatannya. Alhasil, meskipun terlihat amalan duniawi tapi bernilai ukhrawi.
Ditulis di Perpustakaan UNS, Seni (8/8) pukul 14.52 WIB.

Transformasi Budaya

Meskipun hanya sebentar, saya sempat mengalami sebuah keadaan di mana hampir di setiap depan rumah disediakan air minum. Siapapun boleh meminumnya tanpa harus meminta izin terlebih dahulu.
Sebuah fenomena yang menarik untuk diteliti. Begitu kuatnya solidaritas masyarakat di Jawa saat itu sehingga setiap rumah berlomba untuk memberikan apa yang bisa diberikan kepada orang lain meskipun hanya air minum. Dan itu menjadi kebiasaan yang sudah mengakar kuat di dalam masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pelan tapi pasti kebiasaan tersebut (telah) tercerabut dari akarnya.
Di rumah salah seorang mbahku (Mbah Panisih), sewaktu saya masih kecil masih bisa melihat dan menikmati hal tersebut. Setiap hari selalu disediakan air minum depan rumahnya. Beberapa kali saya meminum air tersebut tanpa harus meminta izin dulu. Di beberapa rumah juga demikian.
Menurutku itu adalah kali pertama dan terakhirnya bagiku. Pada saat itu adalah masa ‘transisi’ dari budaya tradisional menuju budaya modern. Apakah tradisi itu tetap dilanjutkan atau diganti dengan tradisi yang baru ditentukan pada pertengahan tahun 1990-an. Dalam istilah popoler itu disebut post-modern. Dan pilihannya adalah tradisi itu ditinggalkan.
Jika dianalisis secara sederhana, bayak faktor mengapa kebiasaan (baik) tersebut ditinggalkan oleh masyarakatnya. Pertama, kemajuan teknologi. Dulu banyak orang yang bepergian ke suatu tempat masih jalan kaki. Sangat jarang menggunkan kendaraan bermotor seperti saat ini. Fasilitas jalan kaki adalah fasilitas terbaik yang diberikan oleh tuhan yang maha kuasa.
Karena jalan kaki dengan jarak yang cukup jauh, tidak jarang orang mampir dari satu rumah ke rumah lainnya. Ditambah jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya relatif jauh. Wajar jika dulu banyak orang yang mampir untuk bersilaturahmi dan sekadar minum air yang disediakan.
Kedua, berubahnya mindseat masyarakat. Perubahan ini juga tidak dapat dilepaskan dari faktor pertama. Singkatnya ini adalah faktor turunan, bukan faktor utama. Kemajuan zaman menyebabkan salah satunya adalah menculnya sifat individualistik. Banyak aset-aset yang sebenarnya bisa dimanfaatkan bersama tetapi dijadikan milik pribadi.
Makna lain
Tidak mudah memang untuk mengembalikan tradisi yang sudah ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri. Namun paling tidak nilai-nilai atas tradisi itu masih bisa dimanifestasikan dalam bentuk lain yang lebih menyesuaikan zamannya. Dikatakan demikian karena banyak kendala yang muncul jiak ingin mengembalikan secara utuh. Misalnya, jika disediakan air di depan rumah, siapa yang akan meminumnya. Di beberapa rumah mungkin ada, tapi belum tentu itu bisa berjalan di rumah lain. Apalagi jumlah penjual aneka makanan dan minuman juga semakin banyak.
jika kesulitan mewujudkan dalam bentuk aslinya, yang tidak kalah pentingnya adalah mengamalkan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Jika masyarakat dulu adalah air yang bisa diberikan, mungkin untuk sekarang bisa dalam bentuk lain. Tidak harus dalam bentuk materi (kebendaan). Bisa itu sikap terbuka untuk selalu siap diminta pertolongan oleh orang lain. Intinya memberikan sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain.
Begitu cerdasnya masyarakat kita dulu. Rasa solidaritas masyarakat yang begitu kuat diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol. Saat itu Air minum adalah hal yang bisa diberikan oleh siapapun. Mungkin juga dengan masyarakat saat ini. Meskipun demikian, air adalah sumber kehidupan.
Saya merasa beruntung, meskipun hanya sebentar, pernah melihat sebuah karya besar masyarakat tempo dulu yang sudah tidak ada lagi di sekitar kita. Meskipun sudah tidak lagi dilakukan oleh masyarakat tapi paling tidak yang harus tetap dilestarikan adalah nilai-nilai luhur yaitu peduli kepada sesama. Juga yang tidak boleh dilupakan adalah memberikan sesuatu yang bisa diberikan, meski itu hanya air minum.
Ditulis di Perpustakaan Pusat UNS, Senin, 8 Ramadhan 1432 H, pukul 14.32 WIB
 

Selasa, 02 Agustus 2011

Agenda Dadakan

Awalnya saya menyangka bahwa di hari Senin (4/4) saya tidak memiliki kesibukan. Tapi ternyata itu salah.
Setelah mandi pagi, ada satu pesan singkat (sms) dari omku. Dia memintaku untuk pergi ke kantornya dan kemudian menuju ke Balaikota Surakarta. “Jam 08.00 WIB ke kantor kemudian ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) Solo,” begitu tulisnya.
Saat itu menunjukkan pukul 08.00 WIB. Karena belum persiapan apapun, kemudian saya pun menanyakan seandainya langsung ke Balaikota bagaimana. Dan omku mengizinkan. Dia memintaku unutk menemui salah seorang pegawai di sana dan meminta surat undangan unutk rapat tim surveyor Dana Abadi Rukun Tetangga (RT). Dengan penuh antusias, saya pun menyambut dengan baik tugas ini.
Saya bersyukur karena ada kegiatan yang harus saya lakukan. Padahal sebelumnya tidak ada bayangan sama sekali aktivitas apa yang akan saya lakukan di hari Senin ini. Proposal skripsi juga baru selesai dibaca dosen Selasa (5/4) besok. Kuliah juga tidak ada.
Selesai mempersiapkan semuanya, kemudian saya menuju ke Bapeda yang ada di Balaikota Solo. Sesampainya di sana, saya langsung disambut oleh pegawai yang dimaksud. Tidka lama kemudian kuterima 30 surat undangan yang sudah dicap oleh Bappeda.
Selanjutnya saya harus menuju ke kantornya om Din, Kaukus 17++ di Jalan Sam Ratulangi, Banjarsari. Di sana kemudian saya menuliskan nama-nama yang akan diberi undangan. Nama-nama tersebut adalah perwakilan warga seluruh Kecamatan Laweyan. Rata-rata setiap kelurahan ada tiga warga yang menjadi delegasi. Rapat kordinasi tim surveyor sendiri dilaksanakan Selasa malam pukul 19.00 WIB di Kantor Kecamatan Laweyan.
Butuh waktu dan tenaga ekstra unutk bisa mendistribusikan semua undangan itu. Sebelum berangkat saya niatkan untuk menambah pengalaman. Tidak ada ruginya jika tahu di mana lokasi kantor kelurahan yang ada di Kecamatan Laweyan. Karena tujuan tersebut saya menjadi tidak putus asa selama mengantarkan undangan. Dari gang ke gang saya menanyakan kepada orang yang ada di simpang jalan. Enatah itu tukang becak atau warga, saya tidak segan untuk bertanya.
Dari 11 kelurahan yang ada, semuanya belum pernah saya jamah. Maklumlah saya lebih banyak hidup di Kecamatan Jebres. Untuk kelurahan yang ada di kecamatan Jebres sebagian besar saya sudah tahu. Hal tersebut tidak lain karena saya pernah melakukan penelitian di seluruh kelurahan di Kecamatan Jebres.
Alasan keamanan
Pendistribusian undangan dimulai pukul 11.30 WIB sampai pukul 14.30 WIB. Saya memilih waktu tersebut karena biasanya di suasana siang hari yang panas tidak banyak polisi yang berkeliaran mencari uang di jalan.
Dan ternyata benar, selama mengantarkan undangan, saya bersama ‘ninja ijo’ selamat sampai tujuan. Sesampainya di kos langsung saja tidur. Anehnya, setelah Ashar, ada beberapa teman yang memberitahukan bahwa di depan Rumah Sakit Dr. Moewardi ada razia polisi (mokmen). Untungnya tidak ketangkep.
Padahal setelah Ashar saya harus pergi ke PMII Cabang untuk menghadiri rapat pengurus yang sempat tertunda. Senbenarnya dilaksanakan kemarin sore. Tapi karena hujan maka terpaksa harus ditunda.
Ini bukan kali pertama ‘ninja ijo’ menemaniku untuk berkeliling Kota Solo. Sebelumnya sudah banyak jasa yang diberikannya kepadaku. Sudah hampir empat tahun motor tua itu menemaniku dalam suka maupun duka.
Ditulis di Sekre PMII, Senin (4/4) pukul 21.30 WIB

Membudayaka membaca
Membaca buku adalah jendelanya ilmu. Sadar akan hal tersebut, mulai Senin (4/4) subuh saya membaca buku. Saya ingin membudayakan membaca buku.
Menurutku, orang yang membaca buku akan memiliki pengalaman yang lebih luas daripada orang yang tidak pernah membaca. Begitu juga dengan mahasiswa, apalagi itu adalah mahasiswa sejarah seperti diriku ini.
Saya pernah melihat langsung orang yang tidak kuliah, tapi dia rajin membaca buku, dia malah lebih pandai daripada mahasiswa yang sering bergelut dengan buku, hal tersebut terbukti dari banyaknya mahasiswa yang berkonsultasi kepadanya.
Di rumahnya sebagian besar dipenuhi oleh rak yang berisi tumpukan buku. Tentunya buku-buku tersebut itu dibacanya, tidak sekadar dikoleksi semata. Itulah yang harus saya tiru. Buku tidak hanya untuk dikoleksi tapi yang lebih penting adalah dibaca.
Mulai saat ini saya menginginkan untuk membaca buku sampai selesai, tidak setengah-setengah saja. Minimal satu pekan adalah satu buku. Itu menurutku sudah baik
Ppermasalahannya, sekarang ini saya sedang cinta menulis. Bagaimana untuk membagi antara waktu unutk membaca dan menulis. Pernah tidak sengaja saya membolak-balik buku dan menemukan di salah satu halaman. Di dalamnya tertulis porsi antara membaca dan menulis adalah 60 banding 40. Unutk yang pertama adalah membaca, sedangkan yang terakhir adalah unutk menulis.
Saya tahu karena tanpa adanya bahan bacaan, tidak ada sesuatu yang bisa unutk ditulis. Karena inspirasi didapatkan salah satunya dengan membaca. Entah itu buku, jurnal atau catatan lainnya. Ibaratnya, menulis itu adalah sebuah kendi. Apa yang diisikan ke dalam kendi, maka itulah yang dikeluarkan. Seandainya diisi air putih maka yang keluar adalah air putih. Begitu juga seterusnya. Yang menjadi isi kendi itulah membaca.
Ada satu kendala yang membuatku tidak bisa membaca dengan maksimal. Kendala tersebut adalah kesibukan yang saya lakukan. Saya juga heran dengan diriku yang sangat suka berkativitas.
Dengan demikian ada tiga hal yang menjadi gaya hidupku. Saya mengatakan gaya hidup dan bukan hobi karena kalau hobi itu hanya sekadarnya saja. Lain jika itu sudah menjadi gaya hidup. Ketiganya adalah beraktivitas, membaca dan menulis. Yang menjadi tugasku adalah menyinergikan ketiganya agar bisa menjadi kekuatan yang hebat di dalam diriku ini.
Minimal dalam satu hari saya harus membaca satu jam. Apapun itu yang dibaca. Boleh buku atau tulisan lainnya. Begitu juga dengan kegiatan menulis. Minimal satu halaman harus saya tulis di netbook. Boleh juga menulis di buku yang mulai jarang saya gunakan.
Ditulis di Sekre PMII, Senin (4/4) pukul 22.05 WIB
Antara hobi dan gaya hidup
Terkadang seseorang menyamakan antara gaya hidup dan hobi. Padahal antara keduanya itu sangat berbeda.
Hobi itu dilakukan sekadarnya saja. Biasanya dilakukan kalau sempat saja. Jika seseorang itu sangat sibuk, hobi itu bisa ditinggalkan. Lain jika gaya hidup. Gaya hidup memang sudah menjadi ciri khas hidupnya. Oleh karena itu dinamakan gaya hidup.
Pertanyaan selanjutnya. Apakah gaya hidup itu termasuk kebutuhan hidup?

Agenda besok pagi
Selasa (5/4) besok ada beberapa agenda yang harus saya laksanakan. Salah satunya adalah ujian sejarah Indonesia lama. Selain itu adalah penentuan judul skripsiku diterima atau tidak.
Baru saja ngobrol dengan Farid, dan hasilnya, setelah shalat Subuh adalah olah raga badminton di halama gedung RW 23. Lokasinya tidak jauh dari kosku. Selesai berolahraga, selanjutnya adalaha sarapan pagi. Sudah menjadi fasilitas di kosku setiap pagi ada penjual nasi keliling. Nasi bungkus yang dijual relatif murah harganya, yaitu Rp 1000. Begitu juga dengan aneka gorengan yang rata-rata hanya Rp 500.
Saya punya rencana untuk merutinkan olah raga badminton setiap dua hari sekali. Masalahnya tidak semua temanku suka bermain permainan itu. Apalagi waktu yang saya tawarkan adalah pagi yang kebanyakan digunakan oleh mahasiswa untuk tidur. Padahal olah raga itu penting.
Apalagi bagi mahasiswa yang tidak begitu banyak kesibukan. Saya mengatakan demikian karena sebagian besar mahasiswa yang saya amati hanya kuliah, makan, dan tidur. Tidak begitu banyak aktivitas yang membutuhkan tenaga fisik. Penyakit dengan mudah akan menyerang kepada seseorang yang jarang berolehraga.
Kemudian di malam harinya saya harus mendampingi para pengurus PMII yang rapat di sekre PMII. Rapat besok malam membahas seputar agenda yang akan dilakukan selama bulan April ini. Tentunya ini adalah kesempatan bagi PMII untuk kembali menentukan format gerakan. Kesempatan ini tidak lain karena pada 17 April mendatang PMII akan merayakan Hari lahir (Harlah) ke-51 tahun. Entah akan ada acara apa di PMII Komisariat Kentingan.
Selain itu, pada bulan April ini juga ada agenda Hari Kartini pada tanggal 21 April emndatang. Rencanaku akan diadakan diskusi antar gerakan khusus di UNS. Semuanya itu bisa sdibix=carakan dalam rapat besok malam.
Bersamaan dengan itu, saya juga harus ikut mendampingi tim surveyor Dana Abadi RT di Kantor Kecamatan Laweyan. Oleh karena itu harus pandai-pandai mengatur waktu agar bisa dilakukan semua.
Harapanku semoga rencana besok berjalan lancar dan baik-baik saja. Amin….
Ditulis di Sekre PMII, Senin (4/4) pukul 23.10 WIB

Minggu, 31 Juli 2011

Biografi Singkat Mbah Dalhar*

Bagi masyarakat awam mungkin masih sangat asing dengan nama “Dalhar.” Namun hal itu mungkin tidak terjadi pada masyarakat Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Nama KH. Dalhar atau yang akrab disebut mbah Dalhar adalah nama yang tidak begitu asing bagi masyarakat perbatasan Jawa Tengah dan DIY tersebut. Mbah Dalhar adalah salah seorang ulama’ Desa Gunung Pring, Muntilan yang sedikit banyak ikut memperjuangan tegaknya Islam di tanah Jawa.
Mbah Dalhar lahir di komplek Pondok Pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 12 Januari 1870 atau 10 Syawal 1286 H. Ketika lahir beliau diberi nama nama Nahrowi. Ayahnya adalah seorang da’i yang bernama Abdurrahman bin Abdurra’uf bin Hasan Tuqo.
Kiai Abdurra’uf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja, Kiai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan “Raden Bagus Kemuning.”
Diceritakan bahwa Kiai Hasan Tuqo keluar dari komplek keraton Yogyakarta karena beliau memang lebih senang mempelajari ilmu agama daripada hidup dalam kepriyayian. Belakangan juga diketahui bahwa beliau hidup menyepi di daerah Godean, Yogyakarta. Sekarang desa tempat beliau tinggal dikenal dengan nama Desa Tetuko. Sementara itu salah seorang putera beliau yang bernama Abdurra’uf juga mengikuti jejak sang ayah yaitu senang mempelajari ilmu agama. Namun ketika Pangeran Diponegoro membutuhkan panglima untuk bersama memerangi penjajah Belanda, Abdurra’uf tergerak hatinya untuk membantu sang Pangeran.
Dalam gerilyanya, pasukan Pangeran Diponegoro sempat mempertahankan wilayah Magelang dari VOC. Karena Magelang bagi pandangan militer Belanda nilainya sangat strategis untuk penguasaan wilayah lintas Kedu. Oleh karenanya, Pangeran Diponegoro membutuhkan orang-orang yang dapat membantu perjuangan beliau melawan Belanda sekaligus dapat menguatkan semangat jihad di masyarakat. Melihat kelebihan yang dimiliki serta beratnya perjuangan waktu itu maka dipilihlah Abdurra’uf untuk diserahi tugas mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan dan sekitarnya. Untuk ini Abdurra’uf kemudian tinggal di dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan. Beliau kemudian mendirikan sebuah pesantren di sana.
Pesantren Kiai Abdurra’uf ini dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Abdurrahman. Namun letaknya bergeser ke sebelah utara di tempat yang sekarang dikenal dengan Dukuh Santren. Lokasinya masih berada di desa Gunung Pring.
Ketika sudah dewasa, Nahrowi juga ikut meneruskan pesantren ayahnya (Kyai Abdurrahman) hanya saja letaknya juga digeser ke arah sebelah barat di tempat yang sekarang bernama Watu Congol.
Ta’lim dan rihlahnya
Mbah Dalhar adalah seorang yang dilahirkan dalam lingkungan pesantren. Oleh karenanya semenjak kecil beliau telah diarahkan oleh ayahnya untuk senantiasa mencintai ilmu agama. Pada masa kecilnya beliau belajar Al-Qur’an dan beberapa dasar ilmu agama kepada ayahnya sendiri yaitu Kyai Abdurrahman. Menginjak usia 13 tahun, mbah Dalhar mulai belajar di pesantren. Ia dititipkan oleh sang ayah pada Mbah Kyai Mad Ushul-begitu sebutan masyhurnya- di Dukuh Bawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Di sini beliau belajar ilmu tauhid selama kurang lebih selama dua tahun.
Sesudah dari Salaman, saat itu berusia 15 tahun, mbah Dalhar dititipkan oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Al-Kahfi, Somalangu, Kebumen. selama delapan tahun beliau diasuh oleh Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani atau yang memiliki julukan Syeikh Abdul Kahfi Ats-Tsani. Selama di pesantren beliau berkhidmah di ndalem pengasuh.
Sekitar tahun 1896 (tahun 1314H), mbah Dalhar diminta oleh gurunya untuk menemani putera tertuanya, yaitu Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani belajar ke Makkah. Putra gurunya itu belajar kepada mufti syafi’iyah, Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani (ayah Syeikh As_Sayid Muhammad Sa’id Babashol Al-Hasani).
Perjalanan ke tanah suci waktu itu menggunakan kapal laut. Beliau berdua berangkat melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Dikisahkan selama perjalanan dari Kebumen, singgah di Muntilan dan kemudian sampai di Semarang, saking ta’dzimnya, mbah Dalhar kepada putera gurunya itu, beliau memilih tetap berjalan kaki sambil menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayid Abdurrahman. Padahal Sayid Abdurrahman telah mempersilahkan santri ayahnya itu agar naik kuda bersama. Namun itulah sikap yang diambil oleh sosok mbah Dalhar.
Sesampainya di Makkah, mbah Dalhar dan Sayid Abdurrahman tinggal di rubath (asrama tempat para santri tinggal) Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani di daerah Misfalah. Sayid Abdurrahman dalam perjalanan ini hanya sempat belajar pada Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani selama tiga bulan karena beliau diminta oleh gurunya dan para ulama setempat untuk memimpin kaum muslimin mempertahankan Makkah dan Madinah dari serangan sekutu. Sementara itu mbah Dalhar tetap belajar di Tanah Suci tersebut hingga mencapai waktu 25 tahun.
Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani inilah yang kemudian memberi nama “Dalhar” pada mbah Dalhar. Hingga ahirnya beliau memakai nama Nahrowi Dalhar. Di mana Nahrowi adalah nama asli beliau, dan Dalhar adalah nama yang diberikan oleh gurunya itu. Dalam perjalanan selanjutnya, nama mbah “dalhar” ini lebih masyhur daripada nama lengkap beliau, yaitu Nahrowi Dalhar.
Ketika berada di Makkah inilah mbah Dalhar memperoleh ijazah kemursyidan Thariqah As-Syadziliyyah dari Syeikh Muhtarom Al-Makki dan ijazah aurad Dalailil Khoerat dari Sayid Muhammad Amin Al-Madani. Di mana kedua ijazah ini di kemudian hari menjadi bagian amaliah rutin yang memasyhurkan nama beliau di pulau Jawa.
Riyadhah dan amaliahnya
Mbah Dalhar adalah seorang ulama yang senang melakukan riyadhah. Sehingga pantas saja jika menurut riwayat shahih yang berasal dari para ulama ahli hakikat sahabat – sahabatnya, beliau adalah orang yang amat akrab dengan nabiyullah Khidir As. Sampai – sampai ada putera beliau yang diberi nama Khidir karena begitu dekatnya dengan nabiyullah tersebut. Sayang putera beliau ini yang cukup ‘alim walau masih amat muda dikehendaki kembali oleh Allah SWT ketika usianya belum menginjak dewasa.
Selama di Tanah Suci, mbah Dalhar pernah melakukan khalwat selama tiga tahun di suatu goa yang teramat sempit tempatnya. Dan selama itu pula beliau melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan tiga buah biji kurma saja serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Dari bagian riyadhah-nya, beliau juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk medoakan para keturunan beliau serta para santri – santrinya. Dalam hal adab selama di tanah suci, mbah Dalhar tidak pernah buang air kecil ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk membuatng hajat, beliau lari keluar tanah Haram.
Selain mengamalkan dzikir jahr ‘ala thariqatis syadziliyyah, mbah Dalhar juga senang melakukan dzikir sirr. Ketika sudah tagharruq dengan dzikir sirnya ini, mbah Dalhar dapat mencapai tiga hari tiga malam tak dapat diganggu oleh siapapun. Dalam hal thariqah As-Syadziliyyah ini menurut KH Ahmad Abdul Haq, salah seorang putra Mbah Dalhar, beliau mbah Dalhar menurunkan ijazah kemursyidan hanya kepada tiga orang, yaitu kiai Iskandar, Salatiga ; KH Dimyathi, Banten ; dan putranya sendiri, KH Ahmad Abdul Haq.
Meninggalkan tidur malam (Sahrallayal) adalah juga bagian dari riyadhah mbah Dalhar. Sampai dengan sekarang, meninggalkan tidur malam ini menjadi bagian adat kebiasaan yang berlaku bagi para putera – putera di Watucongol.
Sebagai seorang auliyaillah, mbah Dalhar mempunyai banyak karamah. Dua keistimewaan yang dimiliki antara lain, suaranya apabila memberikan pengajian dapat didengar sampai jarak sekitar 300 meter walau tidak menggunakan pengeras suara dan mengetahui makam–makam kekasih Allah (auliyaillah) yang sempat dilupakan oleh para ahli, santri atau masyarakat sekitar di mana beliau–beliau tersebut pernah bertempat tinggal.
Karya – karyanya
Karya mbah Kyai Dalhar yang sementara ini dikenal dan telah beredar secara umum adalah Kitab Tanwirul Ma’ani. Sebuah karya tulis berbahasa Arab tentang manaqib Syeikh As-Sayid Abil Hasan ‘Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, imam thariqah As-Syadziliyyah. Selain daripada itu sementara ini masih dalam penelitian. Karena salah sebuah karya tulis tentang sharaf yang sempat diduga sebagai karya beliau setelah ditashih kepada KH Ahmad Abdul Haq ternyata yang benar adalah kitab sharaf susunan Syeikh As-Sayid Mahfudz bin Abdurrahman Somalangu. Karena beliau pernah mengajar di Watucongol, setelah menyusun kitab tersebut di Tremas. Di mana pada saat tersebut belum muncul tashrifan ala Jombang.
Murid – muridnya
Banyak sekali tokoh – tokoh ulama terkenal negara ini yang sempat berguru kepada beliau semenjak sekitar tahun 1920–1959. Di antaranya adalah Gus Miek, KH. Mahrus (Lirboyo), KH Dimyathi (Banten), KH Marzuki (Giriloyo), dan masih banyak lainnya.
Gus Miek datang ke Watucongol sekitar tahun 1954. Gus Miek tidak langsung mendaftarkan diri menjadi santri, tetapi hanya memancing di kolam pondok yang dijadikan tempat pemandian. Hal itu sering dilakukannya pada setiap datang di Watucongol kebiasaannya memancing tanpa memakai umpan, terutama di kolam tempat para santri mandi dan mencuci pakaian membuat Gus Miek terlihat seperti orang gila bagi orang yang belum mengenalnya. Setelah beberapa bulan dengan hanya datang dan memancing di kolam pemandian, ia lalu menemui mbah Dalhar dan meminta izin untuk belajar.
Singkat cerita, mbah Dalhar akhirnya mau menerima Gus Miek sebagai muridnya, khusus untuk belajar Al Qur’an. Akan tetapi, Gus Miek tidak hanya sampai di situ saja, ia berulang kali juga meminta berbagai ijazah (verifikasi) amalan untuk menggapai cita-cita, tanggung jawab, dan ketenangan hidupnya. Seolah ingin menguras habis semua ilmu yang ada pada mbah Dalhar, terutama dalam hal kapasitasnya sebagai seorang wali, mursyid tarekat, dan pengajar Al Qur’an. Gus Miek juga seolah ingin mempelajari bagaimana seharusnya menjadi seorang wali, apa saja yang harus dipenuhi sebagai seorang mursyid, dan seorang pengajar Al Qur’an.
Setiap kali Gus Miek meminta tambahan ilmu, mbah Dalhar selalu menyuruhnya membaca Al Fatihah. Apa pun bentuk permintaan Gus Miek, gurunya itu menyuruhnya untuk mengamalkan Al Fatihah.
Mbah Dalhar, bagi Gus Miek, adalah satu-satunya orang yang dianggap sebagai guru dunia dan akhirat. Oleh karena itu, selama berada di Watucongol, Gus Miek dengan telaten selalu membersihkan terompah (sandal) dan menatanya agar lebih mudah dipakai ketika mbah Dalhar pergi ke masjid. Menurut Gus Miek, hal itu dilakukan sebagai upayanya untuk belajar istiqamah (konsisten). Sebab istiqamah, menurut ajaran KH. Djazuli, ayahnya, adalah lebih utama dari 1000 karomah.
Kegiatan Gus Miek di pesantren Watucongol selain mengaji Al Qur’an, juga sering bepergian ke pasar-pasr, tempat hiburan, dan mengadu ayam jago. Kebiasaan ini membuat Gus Miek sering berhadapan dengan Gus Mad, putra mbah Dalhar, yang itu memegang tanggung jawab sebagai keamanan pondok.
Pernah Gus Miek menyuruh beberapa gus di Kediri agar segera belajar di tempat mbah Dalhar karena beliau akan meninggal. Semua berbondong ke tempat mbah Dalhar. Saat itu, Gus Miek menyatakan bahwa gurunya itu akan meninggal sekitar tanggal 23 Ramadhan 1959. Tapi begitu semua datang ke Watucongol, ternyata mbah. Dalhar masih sehat. Sesudah mengalami sakit selama kurang lebih tiga tahun, Mbah Dalhar wafat pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1378 H atau bertepatan dengan 8 April 1959 M.
*Sumber tulisan ini dari salah seorang keturunan Mbah dalhar yang bernama Fulan binti Fitriyati binti KH Ahmad Abdul Haq bin KH Nahrowi Dalhar.

Ditulis di Sekre PMII, Senin, 1 Ramadhan 1432 H atau 1 Agustus 2011 pukul 13.40 WIB

Senin, 25 Juli 2011

Dalhar; Sebuah Nama yang Asing?

Ketika mendengar nama itu, banyak teman-temanku yang asing mendengarnya. Saya sendiri yang mempunyai nama juga merasa asing. Beberapa kali saya menanyakan apa arti nama itu termasuk kepada kedua orangtuaku sendiri.
Semakin merasa aneh dengan nama yang melekat pada diriku adalah saat memasuki dunia pesatren awal duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau setingkat dengan SMP. Tidak sedikit teman-teman yang menanyakan sebenarnya apa artinya “Dalhar.” Jawaban yang saya berikan pun sama dengan apa yang disampaikan oleh ayahku dulu ketika saya masih kecil. Jawabannya adalah, “Dalhar” itu adalah isim alam asma. Meski belum tahu apa yang dimaksud, tapi jawaban itu yang saya sampaikan kepada teman-temanku.
Tidak hanya ketika MTs, sewaktu duduk di bangku Madrasa Aliyah (MA) atau sederajat dengan SMA pun ada juga yang menanyakan apa arti yang terkandung dalam namaku. Jawaban yang kuberikan sedikit berbeda. Jawaban ini seperti yang disampaikan oleh guruku, KH. Nu’ma thohir, yaitu (kemungkinan) nama sebuah suku. Tidak dijelaskan suku di mana itu.
Dua jawaban itu adalah modal pertamaku untuk menjawab pertanyaan jika ada yang penasaran dengan namaku. Selain itu sebenarnya ada jawaban lain yang sudah lama saya ketahui. Jawaban ini berasal dari bapakku, bahwa nama itu adalah salah satu gurunya di Gunungpring, Watucongol, Muntilan, Magelang. Namun jawaban yang terakir ini jarang saya berikan untuk menjawab pertanyaan teman-temanku.
Perubahan
Sejak duduk di bangku kuliah, keinginanku tidak hanya ingin tahu apa sebenarnya arti namaku. Keinginanku adalah dapat berziarah ke pesarean-nya di Magelang. Keinginanku itu akhirnya dapat terwujud pada awal Agustus 2009 lalu. Ceritanya pun sangat singkat.
Di penghujung Juli saya mengikuti acara tahlil di rumah salah seorang temanku di Kartasuta, Sukoharjo. Dalam acara malam itu saya sempat berkenalan dengan seseorang yang duduk di sebelahku. Dari perkenalan itu saya tahu bahwa nama teman baruku itu adalah Muhsinin.
Obrolan pun berlanjut dan semakin asyik karena dia adalah orang asli Magelang. Bahkan rumahnya juga tidak begitu jauh dengan makam Mbah Dalhar. Kebetulan juga keesokannya dia akan pulang kampung. Singkat cerita, akhirnya saya memutuskan ikut ke rumahnya dan diajak berziarah ke tempat yang saya impikan.
Untuk kedua kalinya saya berziarah bersama keluarga adalah pada akhir bulan Juli 2010 lalu. Saat itu kami seluruh keluarga sedang melakukan perjalanan panjang untuk bersilaturahmi ke rumah teman-teman bapakku. Saat di Wonosobo ada berita bahwa KH. Muhammad Abdul Haq atau yang akrab disapa Mbah Mat, salah seorang putra Mbah Dalhar wafat. Karena berada di kota yang tidak jauh dari Magelang, ahkirnya diputuskan untuk menghadiri acara pemakaman Mbah Mat sekalian juga berziarah ke makam Mbah Dalhar.
Setelah berziarah dua kali ke pesarean sosok yang menjadi sumber nama “Dalhar,” saya menjadi tidak begitu memperdulikan apa arti namaku. Apalah arti sebuah nama. Saya yakin pastinya kedua orangtuaku mempunyai tujuan yang baik mengapa mereka memberiku nama “Muhammad Dalhar.”

Sambut Ramadhan di Kantin "Mbok Djum"

Dalam sebuah obrolan di Kantin milik Mbok Djum, saya bersama teman-teman membicarakan banyak hal. Salah satunya adalah persiapan menyambut datangnya bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari saja.
Awalnya saya dan Efendi saja yang janjian untuk makan di kantin legendaris tersebut. Namun saat di sana betemu dengan Wahyudi dan Ibnu yang tidak lain adalah teman satu fakultas. Katena sudah lama tidak bertemu, ahkirnya kami ngmpul dalam satu meja untuk menikmati hidangan yang tersedia.
Dulu kami sempat duduk di organisasi yang sama, yaitu SKI (Syi’ar Kegiatan Islam). Organisasi ini adalah satu-satunya yang mengatas-namakan Islan di FSSR. Mengutib bahasanya Efendi, seiring dengan dinamika kehidupan, akhirnya di penghujung jalan kami terpisah. Secara ideologi pun (mungkin) tidak bertemu, tapi secara personal tidak demikian. Namanya sahabat tetap sahabat.
Karena berbasis organisasi Islam, salah satu tema pembicaraan yang diangkat dalam forum itu adalah persiapan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tanpa banyak perdebatan, akhirnya disepakati bahwa pada bulan puasa itu akan diadakan kegiatan tahsin (tadarus) al-Qur’an. Kegiatan ini diasakan setiap sore di dekat sekretariat SKI.
Selain pembahasan sambut bulan puasa, juga banyak hal lainnya yang dibicaran, antara lain, aktivitas selama liburan, pandangan masa depan, dan permasalahan lainnya.
Di kantin milik Mbok Djum tersebut tidak hanya mahasiswa atau karyawan Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) saja yang mengisi perut. Penikmat makanan di sana terdiri dari multi fakultas dan jurusan, bakhan multi univerisitas. Menu utama yang ada di sana nasi pecel dan gudeg dengan aneka lauk-pauk dan aneka minuman. Selain rasa, harga juga menentukan mengapa banyak mahasiswa yang lebih memilih makan di sana. Jumlah pengunjung primbumi (asli) dan pengunjung impor sama banyaknya.
Selasa (26/7) pagi suasana kantin Mbok Djum tidak begitu ramai seperti biasanya. Hal ini karena mahasiswa sebagaian besar masih libut semester genap yang cukup panjang.

Senin, 18 Juli 2011

Tiada NII di antara Kita

Belum lama ini ada beberapa teman yang memberitahukan bahwa kelompok Negara Islam Indonesia (NII) sudah merambah ke beberapa kampus di Kota Solo.Universitas Sebelas Maret adalah salah satunya.
Dari cerita yang muuncul, ada beberapa kesamaan seputar gerakan NII. Kesamaan itu terlihat pada pola kaderisasi atau rekruitmen dan kesamaan dari ajaran yang digunakan oleh kelompok ini.
Negara Islam Indonesia atau NII adalah organisasi gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Tasikmalaya, Jawa Barat. Organisasi ini bertujuan menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Dari awal tujuan kelompok ini sudah bertolak belakang dengan cita-cita para pendiri (founding father) negara ini. Karena saat diproklamasikan, NKRI adalah sebuah hasil akhir yang merupakan kompromi antara kelompok Islam dan Nasionalis.
Pendirian NII mengacu pada wilayah Madinah di zaman Rasulullah SAW. Hukum dasar yang melandasi Madinah atau hukum kenegaraan (sosial kemasyarakatan antarumat beragama) adalah Hukum Islam. Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini, sebuah gerakan yang mengatasnamakan Negara Islam Indonesia sangat gencar melakukan rekrutmen anggota baru, tetapi cara-cara yang mereka gunakan ternyata berlawanan dengan syariah dan sunnah Rasulullah SAW.
Ada beberapa catatan yang perlu diketahui dan diwaspadai dari gerakan kelompok ini. Pertama, calon yang akan mereka dakwahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang relatif rendah, bahkan dapat dibilang tidak memiliki sama sekali. Kedua, Calon utama mereka adalah orang-orang yang memiliki harta yang berlebihan, atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari keagamaan.
Ketiga, Pola dakwah yang relatif singkat, hanya kurang lebih tiga kali pertemuan. Setelah itu sang calon dimasukkan ke dalam keanggotaan mereka. Sehingga, yang terkesan adalah pemaksaan ideologi, bukan lagi keikhlasan. Selama hari terakhir pendakwahan, sang calon dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan seenaknya hingga sang calon mengatakan siap dibai'at.
Keempat, ketika sang calon akan dibai'at, dia harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa. Dan kelima, Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, seperti menipu dan berbohong meskipun kepada orang tua sendiri. Selain itu masih banyak hal yang menyimpang dari ajaran Rosulullah SAW.
Setelah sekian lama terkesan mati suri, belakangan ini NII kembali menjadi bahan perbincangan di kalangan masyarakat luas. Usaha pendirian Negara Islam Indonesia yang dimotori oleh Kartosoewirjo tidaklah berbeda tujuan dengan berdirinya Negara Islam Madinah di zaman Rasulullah saw. Akan tetapi, sesuatu yang dilakukan dengan tergesa-gesa dan dipenuhi emosi tentu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal, dan tidak pula dapat bertahan lama. Oleh karena itu, banyak yang mengatakan bahwa pergerakan NII tidak lebih dari sebuah pemberontakan.
Menegakkan syari’at Islam di bumi Allah SWT. sudah merupakan kewajiban bagi setiap muslim di dunia ini. Kewajiban ini bukannya tak berlaku lagi ketika kekhalifahan Islam telah melewati masa keemasannya. Justru sebaliknya, kita sebagai pribadi yang merupakan bagian dari umat Islam di seluruh dunia harus menanamkan nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan memulainya dari diri masing-masing.
Suatu tujuan besar yang hendak diraih tidak akan tercapai tanpa mengawalinya dari hal yang kecil. Pencapaian yang ideal—mendirikan negara berasaskan syari’at Islam—mungkin akan sangat sulit dilakukan di Indonesia, sebuah negara yang masyarakatnya amat majemuk. Namun demikian, banyak tahap ke arah ideal tersebut yang dapat kita lakukan sebagai umat Islam di negeri ini.
Menunjukkan akhlak Islami dalam kehidupan sehari-hari, sedikit banyak, dapat memberikan sebuah penyegaran di tengah kebobrokan moral yang dialami bangsa kita. Sesungguhnya, berbuat baik itu dapat menular. Orang lain akan mengikuti perbuatan baik yang kita lakukan karena mereka telah melihat manfaatnya. Dengan demikian, secara berangsur-angsur, orang yang melakukan akhlak Islami semakin lama semakin bertambah. Dan bukan tidak mungkin, secara alami, masyarakat akan menerima syari’at Islam sebagai pedoman yang legal bagi mereka dalam melakukan segala tindakan. Artinya, negara dapat melegitimasi syari’at menjadi hukum positif.

Kegiatan di dalam organisasi merupakan salah satu faktor penting untuk mencegah terjerumusnya seseorang ke dalam gerakan radikal dan ekstrem seperti NII. Sebaliknya, terdapat gejala kuat para mahasiswa nonakivis dan kutu buku sangat mudah terkesima sehingga segera dapat mengalami cuci otak dan indoktrinasi pemikiran gerakan radikal. Mereka cenderung naif dan polos tidak terbiasa berfikir analitis dan kritis, seperti lazimnya dalam dunia kaum mahasiswa aktivis.
Ideologi radikal seperti NII tidak bisa dihadapi hanya dengan wacana, bahkan tindakan represif aparat hukum sekalipun. Ia harus dihadapi dengan kontraideologi dan prespektif keagamaan keindonesiaan yang utuh. Yang mendesak dilakukan adalah revitalisasi mata kuliah yang bersifat ideologis; Pancasila, Pendidikan Kewargaan, dan Agama.

Siapa S.M. Kartosoewirjo
Setelah lama absen dari panggung sejarah, nama Kartosoewirjo kembali muncul. Kali ini bukan dalam konteks kepahlawanan, melainkan disandingkan dengan sesuatu yang kontroversi.
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir pada 7 Januari 1907 di Cepu, sebuah kota kecil antara Blora dan Bojonegoro yang menjadi daerah perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Ayahnya, yang bernama Kartosoewirjo, bekerja sebagai mantri pada kantor yang mengoordinasikan para penjual candu di kota kecil Pamotan, dekat Rembang.
Semasa remajanya di Bojonegoro Kartosoewirjo mendapatkan pendidikan agama dari seorang tokoh bernama Notodihardjo yang menjadi guru agamanya. Dia adalah tokoh Islam modern yang mengikuti Muhammadiyah. Notodihardjo kemudian menanamkan banyak aspek kemodernan Islam ke dalam alam pikiran Kartosoewirjo. Pemikiranpemikirannya sangat mempengaruhi bagaimana Kartosoewirjo bersikap dalam merespon ajaran-ajaran agama Islam. Dalam masa-masa yang bisa kita sebut sebagai the formative age-nya.
Pada tahun 1923, setelah menamatkan sekolah di ELS, Kartosoewirjo pergi ke Surabaya melanjutkan studinya pada Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), Sekolah Kedokteran Belanda untuk Pribumi. Pada saat kuliah inilah, tepatnya pada tahun 1926, ia terlibat dengan banyak aktivitas organisasi pergerakan nasionalisme Indonesia di Surabaya.
Selama kuliah, Kartosoewirjo mulai berkenalan dengan pemikiranpemikiran Islam. Ia mulai "mengaji" secara serius hingga kemudian begitu "terasuki" oleh shibghatullah sehingga ia kemudian menjadi Islam minded. Semua aktivitasnya dilakukan hanya untuk mempelajari Islam semata dan berbuat untuk Islam saja. Dia pun kemudian sering meninggalkan aktivitas kuliah dan menjadi tidak begitu peduli dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh sekolah Belanda, tentunya setelah ia mengkaji dan membaca banyak buku dari berbagai disiplin ilmu, dari kedokteran hingga ilmu-ilmu sosial dan politik.
Dengan modal ilmu pengetahuan yang tidak sedikit itu, ia pun memasuki organisasi politik Sjarikat Islam di bawah pimpinan Haji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto. Pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto banyak memengaruhi sikap, tindakan, dan orientasi Kartosuwirjo. Maka, setahun kemudian, dia dikeluarkan dari sekolah karena dituduh menjadi aktivis politik, dan didapati memiliki sejumlah buku sosialis dan komunis yang diperoleh dari pamannya, Marko Kartodikromo, seorang wartawan dan sastrawan yang cukup terkenal pada zamannya. Sekolah tempat belajar tersebut tidak berani menuduh Kartosoewirjo sebagai orang yang terasuki ilmu-ilmu Islam, melainkan dituduh komunis, karena ideologi ini sering dipandang sebagai paham yang membahayakan. Padahal, ideologi Islamlah yang sangat berbahaya bagi penguasa saat itu. Tidaklah mengherankan, selanjutnya Kartosuwirjo tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran politik sekaligus memiliki integritas keislaman yang tinggi. Dalam berbagai literatur berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing, ia digambarkan sebagai seorang ulama besar di Asia Tenggara.
Kartosoewirjo memulai karir politiknya di kota Surabaya dengan
bergabung ke dalam organisasi pemuda Jong Java. Ia merupakan murid dari H.O.S. Tjokroaminoto, yang kala itu juga menjadi guru dari Musso dan Soekarno. Perbedaan jelas tampak dari ketiga tokoh yang merupakan anak didik dari Trjokroaminoto tersebut. Soekarno adalah tokoh nasionalis yang
akhirnya menjadi pemimpin pertama negara ini, sedangkan Musso dan Kartosoewirjo adalah dua nama yang pada masa awal pemerintahan Soekarno dianggap sebagai pemberontak. Perbedaannya adalah, Musso beraliran komunis, sementara Kartosoewirjo berniat mendirikan negara berasaskan syari’at Islam.
Semenjak tahun 1923, dia sudah aktif dalam gerakan kepemudaan, di antaranya gerakan pemuda Jong Java tersebut. Kemudian, pada tahun 1925, ia termasuk ke dalam anggota-anggota Jong Java yang mengutamakan cita-cita keislamannya dan akhirnya mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB). Kartosoewirjo pun pindah ke organisasi ini karena sikap pemihakan kepada agamanya. Dua organisasi inilah yang kemudian membawa dirinya menjadi salah satu pelaku sejarah gerakan pemuda yang amat berpengaruh dalam kebangkitan pemuda Indonesia, "Sumpah Pemuda". Selain bertugas sebagai Sekretaris Umum Partij Sjarikat Islam Hindia Timur (PSIHT), Kartosoewirjo pun bekerja sebagai wartawan di surat kabar
harian Fadjar Asia. Semula ia bekerja sebagai korektor, kemudian diangkat menjadi reporter. Pada tahun 1929, dalam usianya yang relatif muda, sekitar 22 tahun, Kartosoewirjo telah menjadi Redaktur Harian Fadjar Asia. Dalam kapasitasnya sebagai redaktur, mulailah ia menerbitkan berbagai artikel yang
isinya dipenuhi banyak kritikan, baik kepada penguasa pribumi maupun penjajah Belanda.
Dalam perjalanan tugasnya ke Malangbong, ia bertemu dengan
pemimpin PSIHT setempat yang terkenal bernama Ajengan Ardiwisastera. Di sana pulalah dia berkenalan dengan Siti Dewi Kalsum, putri Ajengan Ardiwisastera, yang kemudian dinikahinya pada bulan April tahun 1929. Perkawinan yang sakinah ini kemudian dikarunia dua belas anak, tiga yang terakhir lahir di hutan-hutan belantara Jawa Barat. Begitu banyaknya pengalaman telah menghantarkan dirinya sebagai aktor intelektual dalam kancah pergerakan nasional.
Pada tahun 1943, ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Kartosoewirjo kembali aktif di bidang politik, yang sempat terhenti. Dia bergabung dengan sebuah organisasi kesejahteraan Madjlis Islam 'Alaa Indonesia (MIAI) di bawah pimpinan Wondoamiseno, sekaligus menjadi sekretaris dalam Majelis Baitul-Mal pada organisasi tersebut.
Dalam masa pendudukan Jepang ini, dia pun memfungsikan kembali lembaga shuffah yang pernah dia bentuk. Namun, kali ini lebih banyak memberikan pendidikan kemiliteran karena saat itu Jepang telah membuka pendidikan militernya. Kemudian, siswa yang menerima latihan kemiliteran di institut shuffah itu akhirnya memasuki salah satu organisasi gerilya Islam yang utama sesudah perang, Hizbullah dan Sabilillah, yang nantinya menjadi inti Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat.
Pada bulan Agustus 1945 menjelang berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia, Kartosoewirjo yang disertai tentara Hizbullah berada di Jakarta. Dia juga telah mengetahui kekalahan Jepang dari sekutu, bahkan dia mempunyai rencana: kinilah saatnya rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah. Berdasarkan beberapa literatur, disebutkan bahwa Kartosoewirjo telah memproklamasikan kemerdekaan pada bulan Agustus 1945. Akan tetapi, proklamasinya ditarik kembali sesudah ada pernyataan kemerdekaan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Untuk sementara waktu dia tetap loyal kepada republik dan menerima proklamasi tersebut.
Namun, sejak kemerdekaan RI diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, kaum nasionalislah yang memegang tampuk kekuasaan negara dan berusaha menerapkan prinsip-prinsip kenegaraan modern yang dianggap sekuler oleh kalangan nasionalis Islam. Semenjak itu, kalangan nasionalis Islam tersingkir secara sistematis dan hingga akhir 1970-an kalangan
nasionalis Islam berada di luar negara. Dari sinilah dimulainya pertentangan serius antara kalangan nasionalis Islam dan kaum nasionalis “sekuler”. Karena kaum nasionalis “sekuler” mulai secara efektif memegang kekuasaan negara, maka pertentangan ini untuk selanjutnya dianggap sebagai pertentangan antara Islam dan negara.
Situasi yang kacau akibat agresi militer kedua Belanda, apalagi dengan ditandatanganinya perjanjian Renville antara Pemerintah RI dengan Belanda. Perjanjian tersebut berisi antara lain, gencatan senjata dan pengakuan garis demarkasi van Mook. Artinya, Pemerintah RI harus mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia dan itu merupakan pil pahit bagi republik ini. Tempat-tempat penting yang strategis bagi pasukan RI di daerah-daerah yang dikuasai pasukan Belanda harus dikosongkan, dan semua pasukan harus ditarik mundur ke Jawa Tengah. Karena persetujuan ini, tentara RI di Jawa Barat, Divisi Siliwangi, mematuhi ketentuanketentuannya.
Presiden RI saat itu, Soekarno menyebut "mundurnya" TNI ini dengan memakai istilah Islam, "hijrah". Namun, sebaliknya, pasukan gerilyawan Hizbullah dan Sabilillah, bagian yang cukup besar dari kedua organisasi gerilya Jawa Barat, menolak untuk mematuhinya. Hizbullah dan Sabilillah menganggap diri mereka lebih tahu apa makna "hijrah" itu. Pada tahun 1949, Indonesia mengalami suatu perubahan politik besar-besaran. Pada saat Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, maka ketika itu terjadilah sebuah proklamasi Negara Islam di Nusantara, sebuah negeri Al-Jumhuriyah Indonesia yang kelak kemudian dikenal sebagai Ad-Daulatul Islamiyah atau Darul Islam atau Negara Islam Indonesia yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai DI/TII. DI/TII di dalam sejarah Indonesia sering disebut para pengamat sebagai "Islam yang muncul dalam wajah tegang." Bahkan, peristiwa ini tercatat dalam sejarah sebagai sebuah
“pemberontakan”.
Akhirnya, perjuangan panjang Kartosoewirjo selama 13 tahun pupus setelah Kartosoewirjo sendiri tertangkap. Pengadilan Mahadper pada tanggal 16 Agustus 1962, menyatakan bahwa perjuangan Kartosoewirjo dalam menegakkan Negara Islam Indonesia itu adalah sebuah "pemberontakan". Hukuman mati kemudian diberikan kepada Kartosoewirjo. Tentang kisah wafatnya Kartosoewirjo, tidak banyak sumber yang memaparkan informasinya secara jelas. Mulai dari eksekusi matinya hingga letak jasadnya dimakamkan pun terkesan serba misterius. Namun, sejak kemerdekaan RI