Kamis, 24 Oktober 2013

Save Our Forest…

Demi sebuah kepentingan tertentu, banyak yang menjadi korban. Itulah yang terjadi di rumahku pada momentum Idul Adha kali ini. Pohon rambutan yang ditanam oleh kakekku puluhan tahun lalu di sekitar rumah, ditebang. Padahal dari pohon besar itu menjadi peneduh sekaligus makanan camilan ketika musim rambutan tiba. Dulu, pohon rambutan itu ditanam oleh kakek di sebuah area yang luas. Karena kebutuhan lahan untuk membuat rumah bapak dan ibuku, beberapa pohon terpaksa harus ditebang. Kayunya pun hanya menjadi kayu bakar, tidak lebih. Pada waktu masih kecil, saya sempat menikmati keteduhan pohon rambutan di musim panas seperti sekarang ini. Sesekali saya memanjat pohon dan membuat gubuk kecil di sana. Sering perkembangan waktu, kebutuhan keluarga juga semakin kompleks. Pelebaran rumah pun harus dilakukan. Sekali lagi, beberapa pohon rambutan itu pun harus ditebang. Ya, demi sebuah kepentingan manusia, pohon pun menjadi korban. Padahal saat itu masih ada alternatif untuk tidak menebang dalam jumlah banyak. Tapi, itulah yang terjadi. Kini, rumah yang banyak dikelilingi pohon rambutan hanya tinggal cerita. Di komplek rumah hanya tersisa beberapa pohon saja. Salah satu alasan yang menurutku kurang dapat diterima adalah pohon yang tidak produktif. Setiap musim rambutan tiba, pohon rambutan yang ditebang ini memang tidak menghasilkan buah yang segar sebagaimana pohon lainnya. Akan tetapi, masih ada pohon lainnya yang menghasilkan buah berkualitas. Meski memiliki kualitas buah tak sebaik pohon lainnya, kehadirannya tetap diperlukan, minimal adalah untuk meneduhkan rumah. Bagaimna jadinya jika rumah minim atau bahkan tanpa adanya pepohonan rindang. Terlebih lagi di musim kemarau seperti sekarang ini. Apakah akan mengandalkan air conditioner (AC) yang justru menyisakan permasalahan baru. Lamanya waktu menunggu pohon menjadi besar dan rindang hanya selesai dalam hitungan jam. Dengan alat potong modern, pohon yang ijo royo-royo itu tinggal kenangan. Hingga kini pun belum ada pohon penggantinya. Hanya ada beberapa bunga di ruang tengah. Itu pun kurang terawat. Ruang Hijau Di perkotaan saja mulai sadar bahwa kehadiran ruang terbuka hijau (RTH) sangat penting dan pelu. Banyak kota yang mengadakan proyek untuk mewujudkan progam tersebut. Eh, di pedesaan malah ramai-ramai memotong pepohonan. Jika memang hanya karena alasan butuh uang, sepertinya hal itu belum perlu dilakukan. Masih banyak cara untuk mendapatkan uang yang halal. Tentunya ada banyak alasan mengapa pepohonan, utamanya di sekitar rumah tetap dipertahankan. Pertama, pemanasan global (global warming) yang terjadi ini adalah sebuah dampak domino dari banyaknya pemotongan hutan yang tidak selektif. Tentunya harus ada banyak pertimbangan untuk memotong sebuah pohon. Kedua, AC yang banyak digunakan tidak sepenuhnya menjadi solusi. Pendingin itu hanya bersifat sementara saja. Bahkan gas buang dari pendingin ini pun turut menyumbang terjadinya pemanasan global. Pohon atau tanaman hijau tidak hanya menyejukkan sekaligus juga menghilangkan stres. Sehingga wajar, jika banyak kota menggalakkan progam RTH. Selain dua alasan ini tentu masih ada banyak alasan mengapa pohon perlu dipertahankan di tengah cuaca yang ekstri seperti sekarang. Sebagai generasi penikmat memang kurang dapat merasakan bagaimana dulu rasanya merawat dan mangunggu pohon menjadi besar dan rindang. Generasi sekarang hanya tinggal menikmati, baik itu dirawat atau ditebang adalah sebuah pilihan. Kondisi ini juga dialami pohon jati yang menjadi salah satu penggerak indutri meubel di Kabupaten Jepara. Adanya pemotongan dalam jumlah besar tahun 1998 tanpa dibarengi penanaman mengakibatkan krisis. Ketidakseimbangan inilah yang menimbulkan permasalahan kompleks di kemudian hari. Kondisi seperti ini harus disikapi dengan bijak agar keseimbangan alam tetap terjaga. Ya, momentum Idul Adha ini tidak hanya kambing yang menjadi korban. Pohon pun ikut menjadi korban. Mudah-mudahan pengorbanan ini tidak sia-sia. Artinya, tetap ada pohon yang menggantikan keberadaan pohon rambutan. Sehingga rumah pun tetap sejuk dan keseimbangan alam terjaga. Tetap saja ini membutuhkan waktu yang tidak pendek. Save my forest… Jepara, 16 Oktober 2013

Jalan-Jalan ke Semarang…

Pagi masih gelap. Meski demikian, sudah ada aktivitas di rumahku. Pagi itu adalah hari keberangkatan ibuku mengikuti pelatihan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Semarang. Menghindari kemacetan, ditambah minimnya informasi lokasi pelatihan menjadikan kami berangkat lebih awal, pukul 03.00 WIB. Sebelum berangkat, malam harinya terjadi “geger” luar biasa di rumah. Sepatu yang akan dipakai hilang sebelah karena dibuat mainan keponakanku. Ya, memang pada dasarnya sifat ibu ini mudah gugup ketika menghadapi sebuah permasalahan. Apalagi ini adalah acara yang sangat “sakral”, menentukan apakah lolos atau tidak menjadi “guru yang bersetifikat.” Meski berpengalaman mengajar taman kanak-kanak (TK) sudah sangat lama, tetapi saja sebagai bentuk formalitas atau proyek menghabiskan uang, tetap saja disarankan untuk ikut PLPG. Dan, akhirnya sepatu itu ditemukan di taman, halaman tengah. Ibuku sebenarnya memiliki kemampuan mengajar (agama) di tingkat SMP atau SMA. Akan tetapi karena sudah terbiasa dengan anak-anak, akhirnya beliau lebih memilih mengajar di TK. Bahkan saya sendiri pun diajar oleh beliau. Beberapa tahun belakangan. bi beberapa kesempatan juga mengajar di madrasah Tsanawiyah (MTs) yang setara dengan SMP. Dalam proyek PLPG ini kebetulan beliau mendapatkan kesempatan untuk ikut sebagai pengajar anak-anak (TK) bukan di tingkat SMP. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya pelatihan itu tetap diikuti. Rencananya pelatihan dilaksanakan selama sepuluh hari. Bukan waktu yang sebentar bagi seorang ibu rumah tangga. Untuk menunjang itu, seluruh keperluan sudah dipersiapkan semuanya, termasuk urusan arisan, uang jajan, dan seluruhnya. Jauh-jauh hari semuanya sudah dipersiapkan matang. Bahkan, selama berada di rumah pun, saya mendapatkan jatah membuatkan berbagai kebutuhan selama pelatihan, seperti gambar (puzzle) buah, angka, dan sebagainya. Rencana di rumah beberapa hari pun, menjadi genap sepekan. Jauh dari yang dibayangkan. Meski sudah bersiap sejak awal, tetap saja ada keterlambatan. Akhirnya, kami pun berangkat setelah shalat Subuh. Sempat ada ‘insiden’ marah-marah karena adikku yang direncanakan tidak ikut, mendadat ikut pagi itu. Hampir saja semuanya berantakan. Untung tidak ada yang dikorbankan. Hehe.. Dengan modal pernah lewat Semarang beberapa kali, saya menjadi pemandu (guide) perjalanan. Bagiku tidak sulit untuk lewat di kota-kota besar, asalkan tamu rambu lalu lintas dan nama jalan. Apalagi ada GPS yang sewaktu-waktu dapat digunakan. Akan tetapi keadaannya ini berbeda. Alamat yang tertera di surat delegasi multi-tafsir. Beberapa kali Tanya pada tukang becak dan satpam, mereka tidak mengetahuinya. Melacak dengan GPS pun tidak terlacak. Lagi-lagi, ibuku yang paling panik. Padahal saat itu baru pukul 07.30 WIB. Sempat juga kami jalan-jalan ke Kota Lama Semarang, Tugu Muda, Simpang Lima dan beberapa jalan utama di Kota Atlas. Perjalanan itu disusuri untuk menemukan alamat yang tertera pada surat delegasi, Jl. Arumsari Semarang. Akan tetapi, kami belum juga menemukan alamat yang dimaksud dalam surat delegasi tersebut. Untung saja ada teman yang tinggal di Semarang. Kami pun mengabaikan alamat pada surat delegasi dan hanya ikut (taklid) pada orang yang sudah tahu, tanpa membantah sedikit pun. Dengan pengalaman yang dimilikinya, akhirnya kami pun sampai di lokasi sebelum acara dimulai. Anehnya, nama jalan yang dicantumkan, Jl. Arumsari dalam surat adalah gang kecil yang menjadi pintu masuk ke tempat acara. Pantas saja, banyak yang tidak tahu. Semarang, 17 Oktober 2013

Minggu, 29 September 2013

Semoga (Menyusul) Jadi Haji Mabrur

Jum’at, 27 September 2013. Pagi hari saya mendapatkan pesan singkat (sms) dari om Din. Ia menawarkan jalan-jalan ke Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Tujuannya tidak lain adalah untuk berpamitan dengan anggota keluarga yang tahun ini berkesempatan berangkat ke Tanah Suci. Ajakan menjadi sesuatu yang perlu diprioritaskan mengingat menjelang keberangkatan saya tidak pulang ke Jepara. Jadi hukumnya ‘wajib’ bagi saya ikut untuk mengantarkan. Sekaligus juga meminta do’a (spesial) agar dapat segera menyusul ke Baitullah. Setelah semuanya siap, kami berdua berangkat menuju asrama haji yang sebenarnya berlokasi di Boyolali, bukan Solo. Sesampainya di sana, terlihat beberapa pedagang mulai membuka dagangannya. Terlihat pula ratusan pengatar jama’ah haji dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Di musim haji seperti saat ini, suasana asrama haji tidak pernah sepi. Ada puluhan pedagang yang siap memenuhi kebutuhan calon jama’ah haji maupun para pengantarnya. Berbagai barang dagangaan dijual, mulai dari kurma, sajadah, mainan anak-anak, dan aneka makanan lainnya. Tetapi yang perlu disadari harganya selangit. Orang Jawa biasanya menyebut “meremo.” Istilah ini untuk menjelaskan kegiatan jual beli yang bersifat momentum alias tidak setiap hari. Misalnya saat musim haji seperti saat ini, atau event besar lainnya. Menunggu kedatangan bulekku, kami menyempatkan untuk sarapan soto di depan pintu gerbang Asrama Haji. Meski sudah lama di Solo, kami tetap berhati-hati dengan harga yang ditetapkan penjual. Pasalnya, tidak ada dicantumkan daftar harga makanan. Di tengah sarapan, saya sempat melihat ada sekelompok pengantar jama’ah haji yang mencoba menawar jajan dodol. Akan tetapi setelah diberitahu harga oleh penjualnya, langsung saja calon pembeli itu pergi tanpa menawar. Bayangkan saja, harga per enam dodol dibandrol Rp 14.000. Begitu juga dengan kami. Sarapan dengan menu soto dan minum teh hangat plus lima kerupuk menghabiskan sekitar Rp 20.000. Tidak lama setelah sarapan dan obrolan ringan, suara peluit terdengar di dekat pintu gerbang. Para petugas keamanan pun bersiap menyambut puluhan bis untuk masuk ke asrama haji. Rombongan itu adalah jama’ah haji kelompok terbang (Kloter) dari Kabupaten Kudus yang tidak lain adalah rombongan bulekku. Langsung saja para pengantar rombongan yang sejak pagi menunggu mendekati bis yang masuk asrama. Akan tetapi di depan gerbang sudah ada petugas keamanan yang berjaga dan melarang para pengantar jama’ah haji masuk. Dengan sabar, mereka pun kembali menunggu. Oleh-Oleh Haji Tahun ini ada dua anggota keluarga besar Bani Ali Hamim yang berangkat ke Tanah Suci. Mereka adalah Iffahdurati (bulek Atik) dan Abdul Khalik (om Khalik). Mereka ikut Kloter kabupaten Kudus, bukan Kabupaten Jepara. Tentu ada banyak alasan mengapa ikut dari kota lain. Kami yang masih duduk di warung makan, harus segera beranjak karena orang yang kami tunggu sudah datang. Kami pun segera mendekat ke pintu gerbang dan mengucapkan salam perpisahan. Sebagaimana para pengantar jama’ah lainnya, kami pun tidak bisa masuk ke asrama. Kami hanya dipersilahkan berbicara di dekat pos jaga. Saya yang kebetulan membawa ID card jurnalis di dalam tas mencoba masuk ke asrama haji. Tanpa curiga, petugas keamanan mempersilahkan saya masuk. Betapa beruntungnya di hari itu. Dari obrolan ringan ada begitu banyak cerita di rumah, mulai dari acara persiapan, banyaknya tamu, sampai acara mengantarkan sampai Kota Kretek. Sesuai jadwal, Kloter dari Kudus akan berangkat Selasa (28/9) pukul 01.30 WIB dini hari. Tidak kalah serunya adalah ribetnya persiapan menjelang dan kepulangan haji nanti. Urusan oleh-oleh bagi masyarakat pun menjadi sesuatu yang ‘wajib’ sebagaimana ibadah haji itu sendiri. Sudah menjadi tradisi bahwa setiap tamu yang datang, baik sebelum berangkat ke Tanah Suci maupun pulang dari sana, para tamu akan pulang membawa oleh-oleh. Tidak jarang para calon jama’ah haji justru disibukkan dengan urusan ini. Apa yang akan disuguhkan kepada tamu, jenisnya apa, nominalnya berapa, sudah dipertimbangkan jauh-jauh hari. Definisi mampu pun tidak sekadar sanggup berangkat, tetapi juga mampu menyuguhkan oleh-oleh para tamu. Sebenarnya begitu banyak juga do’a yang ingin saya titipkan kepada bulekku ini. Dengan singkatnya saya meminta agar keluarga seluruhnya dapat segera berziarah ke Makkah dan Madinah secepatnya. Nanti biarlah berdo’a sendiri di sana sepuasnya. Saya pun yakin bahwa seluruh keluarga Bani Ali Hamim dapat segera menyempurnakan rukun Islam dengan menunaikan Ibadah Haji yang mabrur. Ya, semoga menjadi haji mabrur… Asrama Haji Donohudan, 27 September 2013

Oleh-Oleh Khas Semarang

Pagi itu, aktivitas yang dilakukan berbeda dengan biasanya. Menjadi sesuatu yang spesial karena sebelum pukul 09.00 WIB saya harus sampai di Semarang. Konon, ada perubahan besar dari Cempaka sehingga perlu menghadirkan teman-teman (jurnalis) kontributor di Jawa Tengah. Sebagaimana dalam bayangan, Semarang adalah kota yang panas, macet, dan tidak ramah lingkungan. Sekan semuanya serba semrawut. Beginilah sebuah kota yang selalu menampilkan dua sisi dan dinamika yang berbeda. Sebagai kota tua, Semarang mempunyai banyak cerita yang menarik untuk dibaca ulang untuk membandingkan perkembangan sebuah kota. Tahun 1405 diberitakan Laksamana Cheng Ho mendarat dan mendirikan kelenteng dan masjid yang sampai sekarang masih dikunjungi. Kelenteng itu kemudian dikenal Sam Po Kong. Tahun 1705 kota ini pernah dihadiahkan oleh Pakubuwono (PB) I kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1906 dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Walikota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda berakhir pada tahun 1942 dengan datangya pemerintahan pendudukan Jepang. Hari itu adalah kesempatan pertama saya masuk kantor Cempaka. Meski hampir satu tahun menjadi keluarga besar Suara Merdeka Group, tetapi belum pernah sekalipun tahu di mana dan seperti apa kantornya. Dulu sewaktu bergabung hanya bermodalkan sms dengan kordinator liputan. Setelah oke, saya pun melakukan liputan dengan berbagai pengalaman menjadi jurnalis yang dimiliki. Alhasil, beberapa tulisanku dimuat dan honor dikirimkan lewat rekening. Kantor Cempaka berada di Jalan Merak 11 A, tepat berada di depan Stasiun Tawang Semarang. Sebuah kebanggaan karena mendapatkan tambahan keluarga baru di Kota Atlas ini. Belum lagi jaringan (networking) teman-teman kontributor dari wilayah Jawa Tengah. Lumayan, tambah investasi kalau ingin ‘nyalon’ di masa depan. Acara utama acara siang itu adalah penegasan bahwa Cempaka adalah tabloid wanita Jawa Tengah, bukan lagi tabloid keluarga. Di usianya yang ke-24, media cetak dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Ketika media semacam ini tidak bisa memberikan sesuatu yang berbeda dengan lainnya, secara otomatis, media cetak akan tergeser. Dan perubahan ini adalah sebagai salah satu ikhtiar dari perusahaan untuk tetap mewarnai (wanita) Jawa Tengah. Terlebih lagi begitu banyaknya media online yang begitu menjanjikan dengan biaya yang lebih murah. Bisnis media massa menjadi menjanjikan karena dunia informasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Terlebih lagi jika dapat memberikan sesuatu yang berbeda, unik dan menarik. Ada banyak segmen yang bisa diambil dan dikembangkan. Prinsipnya, jika konten berita banyak digemari masyarakat, dengan sendirinya iklan atau sponsor akan datang dengan sendirinya. Mungkin itu sudah menjadi prinsip dalam dunia bisnis. Oleh karena itu menjadi dikenal bahkan ada di hati masyarakat luas menjadi perhatian utama perusahaan. Lebih Feminim Konsekuensi menjadi tabloid wanita berarti akan sedikit banyak mengubah tampilan dan juga gaya penulisan berita. Begitu pula dengan konten beritanya. Tentu ini memerlukan proses karena tidak bisa serta merta perubahan dilakukan dalam waktu sekejap. Semuanya memerlukan proses. Dan proses sangat berkaitan erat dengan waktu. Yang menjadi tantangan adalah di tingkat basis. Para jurnalis yang 90 persen adalah laki-laki diminta untuk lebih peka dan tahu tentang apa yang menjadi kebutuhan wanita. Dari situlah akan diketahui mana yang layak untuk ditulis dan mana yang tidak. Apapun tema yang diangkat, semuanya ditujukan untuk kepentingan wanita. “Bolehlah tampilan macho, tapi perasaan tetap kalem.” Cerita ini mungkin bisa dijadikan cerita (baca: oleh-oleh) selama seharian mengunjungi Kota Provinsi Jawa Tengah ini. Yang menjadikan khas, karena Semarang dengan segala kelebihan dan kekurangannya akan memberikan kesan yang berbeda bagi siapa saja yang mengunjunginya. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pulang dengan membawa spirit untuk terus menulis dan menulis. Ya, menulis dapat dilakukan oleh siapa saja, tak terkecuali seorang jurnalis. Semarang, 26 September 2013

Retribusi Pacaran

Suatu malam saya diajak teman untuk menikmati jajan bakso bakar di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Beberapa tahun belakangan pedagang kaki lima menjamur di sepanjang jalan kampus seni ini. Bakso bakar menjadi salah satu makanan primadona, tidak hanya bagi anak-anak tetapi juga mahasiswa dan orang dewasa. Ada yang menarik ketika kami sedang membeli bakso bakar. Berbeda dengan kampus lainnya, di ISI khusus setiap malam terdapat juru parkir yang memungut biaya keamanan bagi siapa saja yang nongkrong di sana. Jajan atau tidak, setiap kendaraan yang berhenti (baca: parkir) akan dikenakan biaya Rp 1000. Tak terkecuali dengan kami. Sebagian besar pembeli di tempat ini adalah anak-anak muda yang kemungkinan adalah mahasiswa. Suasana kampus yang nyaman dan asyik di malam hari menjadikan mereka menjadikan tempat ini sebagai pilihan untuk bersantai, apalagi dengan pacar. Umumnya setelah membeli jajanan, pembeli akan meninggalkan motornya dan nongkrong di arena panggung terbuka. Ketika kendaraan ditinggal itulah juru parkir datang dan meminta uang parkir atau lebih tepatnya retribusi pacaran. Tak terkecuali dengan kami. Setelah meninggalkan motor, juru parkir yang berada di jauh mulai mendekat. Ia kemudian menata kendaraan. Padahal ya sebenarnya tidak ada masalah dengan posisi parkir kami. Akan tetapi untuk menunjukkan perhatiannya, ia menata motor. Setelah itu ia mendekat dan memberikan karcis parkir. Tertulis dalam karcis itu parkir Zona E dengan tarif Rp 1000. Setelah kami memberi uang keamanan, juru parkir itu pergi meninggalkan kami, terkesan membiarkan saja. Juru parkir itu kemudian beralih kepada pembeli lainnya. Yang dilakukan sama, menata kendaraan kemudian meminta jatah. Lumayan sebenarnya jika halaman kampus cukup begitu luas dan ramai kemudian dijadikan kawasan parkir semua. Tentunya hasilnya cukup untuk mendapatkan nafkah yang layak. Menurut temanku, parkir semacam ini adalah “seni mengemis.” Aturan Parkir Di Kota Solo sejak tahun 2012 telah mencanangkan zona parkir yang berbeda di setiap lokasi. Penerapan tarif yang berbeda ini dimaksudkan pengendali lalu lintas atau lebih tepatnya mengurangi kemacetan yang tidak dapat dihindarkan lagi. Aturan ini kemudian diatur dalam Perda No. 9/2011 tentang Retribusi Daerah. Terdapat lima jenis tarif parkir di Solo, yaitu zona A, B, C, D, dan E. akan tetapi dua zona pertama (A dan B) belum dapat direalisasikan karena masih menunggu perbaikan infrastuktur dan perbaikan zona parkir yang sudah ditetapkan. Sebelum tarif parkir Zona A dan B ditetapkan, tarif parkir paling mahal ada di Zona C diberlakukan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo. Di jalur ini tarif yang ditetapkan untuk sepeda, andong, atau becak sebesar Rp 500, sepeda motor Rp 2000, mobil Rp 3.000, bus sedang Rp 5000, dan bus besar Rp 7000. Sedangkan tarif di Zona D dan E relatif lebih murah. Berdasarkan APBD 2013 target pendapatan UPTD Perparkiran adalah Rp 3,125 miliar. Namun target itu direvisi menjadi Rp 3,225 miliar berdasarkan APBD Perubahan (Solopos, 29/9/2013). adanya kebijakan ini diharapkan dapat menekan angka kemacetan di Kota Bengawan yang beberapa tahun terahir sangat padat kendaraan. Selain itu, dengan aturan ini juga diharapkan dapat memacu masyarakat untuk beralih ke angkutan umum. Ironis dengan apa yang menjadi kebijakan Pemkot Solo. Pasalnya pemerintah pusat belum lama ini pemerintah pusat membuat kebijakan yang kontradiktif dengan menerbitkan PP No. 41/2013 tentang mobil murah yang konon ramah lingkungan atau low cost and green car (LCGC). Pemerintah pusat seharusnya justru mendukung apa yang dilakukan pemerintah daerah yaitu dengan mempercepat pengadaan sistem transportasi massal yang murah dan (mungkin) juga ramah lingkungan. Banyak yang memsan mobil murah dengan harga di bawah Rp 100 juta ini indikator nyata dan menjadi ancaman kemacetan bukan lagi omong kosong. Entahlah... Solo, 30 September 2013

Sabtu, 28 September 2013

Semacam Kesempatan

Setiap orang diberikan kesempatan yang sama untuk hidup 24 jam setiap hari. Akan tetapi dalam memanfaatkannya, masing-masing orang berbeda. Perbedaan itu tidak lepas dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki tentang waktu. Dalam kehidupan ini, semua aktivitas manusia tidak dapat dilepaskan dari dimensi waktu. Setiap orang bergerak dan hidup bersama dengan waktu. Disadari atau tidak, semuanya membutuhkan waktu. Kejayaan, kekayaan, ketampanan, kecantikan, jabatan, dan semuanya membutuhkan waktu. Tanpa waktu yang tepat semuanya tidak memiliki arti apa-apa. Kemarin, tadi adalah ungkapan untuk menyebut masa lalu dan itu sudah tidak dapat diulang, apalagi diharapkan kembali lagi. Yang bisa dilakukan dari masa lalu adalah dengan mengubah persepsi saja, bukan masuk untuk kembali. Sedangkan nanti atau besok adalah ungkapan yang menyatakan kesempatan yang belum dapat digapai. Masa depan bersifat abstrak dan hanya dapat direncanakan bukan dijalani. Kita tidak bisa masuk sebelum waktunya tiba. Yang dimiliki manusia adalah sekarang, saat ini. Sudah berapa kali kita mengatakan “Begitu cepatnya waktu.” Jangankan sehari, tanpa orientasi yang jelas, waktu satu tahun dapat berjalan begitu cepatnya seakan tidak terasa. Waktu akan terus berjalan maju meninggalkan semua yang dilewatinya, termasuk kita. Waktu tidak peduli dengan apa yang dilakukan manusia, ia hanya berjalan lurus tak kenal kompromi. Semuanya hanya sekali terjadi. Ketika harus dikatakan berulang, itu hanya kemiripan pola saja, bukan waktu. Pagi hari ini berbeda dengan pagi kemarin, begitu juga seterusnya. Dulu kita pernah mengenal berbagai kejayaan dan peradaban besar di masa lalu, tetapi semuanya kini tinggal cerita dan ditinggalkan oleh waktu. Masih beruntung ada sesuatu yang ditinggalkan berupa karya sehingga masih dapat dikenang dan kembali diceritakan bahkan sampai sekarang. Begitu juga dengan kita kelak. Menembus Batas Satu hal lain yang senantiasa hadir bersama waktu adalah tempat. Antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Di mana ada tempat di situ ada waktu, begitu pula sebaliknya. Keduanya adalah sebuah kesempatan. Apa yang kita jalani sekarang sebenarnya adalah satu di antara dua dunia yang ada. Kehidupan di dunia bersifat sementara saja, tidak kekal. Sehingga apapun yang dimiliki dan dirasakan akan hilang. Sedangkan kehidupan setelah dunia (baca: akherat) bersifat kekal, termasuk apa saja yang ada bersamanya. Manusia tinggal di dunia memiliki batasan waktu tertentu, yang berbeda dengan kehidupan setelahnya. Waktu lagi-lagi hadir bersama, menembus batas dua dunia. Sekali lagi, ia tidak dapat kembali, tetapi terus maju dan kekal. Di dalam kehadiran waktu yang bersifat kekal terdapat banyak pelajaran dan kesempatan yang dapat kita ambil untuk menjadikan hidup selalu menjadi lebih baik. Tidak hanya di satu kehidupan saja, tetapi pada kedua-duanya. Solo, 29 September 2013

Jumat, 20 September 2013

Antara Kerja dan Belajar

Waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB. Ia belum dapat memejamkan mata. Entah mengapa di malam itu ada motivasi besar di dalam dirinya untuk segera menyelesaikan malam dan melakukan apa yang dapat dikerjakan esok hari. Antara kerja dan belajar. Ada begitu banyak rencana yang akan dilakukan esok hari. Semuanya menumpuk di dalam kepala. Tidak ingin semangat itu menguap dan hilang, ia pun memutuskan untuk sekadar menuliskan di netbook agar semuanya tidak menumpuk di dalam kepala. Akan tetapi yang masih mengganggu adalah antara pekerjaan dan kegiatan belajarnya. Selesai kuliah (S1) bukan berati minat untuk belajar sudah terhenti dan putus. Yang ia rasakan justru sebaliknya. Meski sudah menyandang gelar sebagai seorang sarjana, akan tetapi pemahaman tentang sastra masih sangat minim, bahkan minus. Ia pun ingin belajar lebih lanjut tentang sastra, tentang aksara, membaca dan menulis. Tidak hanya itu, bahasa asing (English) juga ingin dipelajarinya kembali. Ia berfikir, belajar bahasa ini sejak sekolah dasar sampai di bangku kuliah, tetapi belum bisa juga berkomunikasi dengan baik. Apakah selama ini belajar hanya untuk mengejar nilai dan lulus ujian saja? Entahlah. Yang dia rasakan, semakin banyak belajar semakin menunjukkan betapa bodohnya manusia, tak terkecuali dirinya. Apakah wajar jika seseorang itu membanggakan ilmu yang dimiliki padahal di luar sana masih ada samudera ilmu yang lebih luas. Dan apakah kepandaian dan keberuntungan yang didapatkan adalah murni jerih payahnya, tentu bukan. Pikirannya pun kembali pada pekerjaan yang belum lama ini ditawarkan pada dirinya. Kebetulan saja waktunya bersamaan dengan rencana kegiatan belajar bahasa asing. Baginya, keduanya memiliki manfaat strategis. Di satu sisi, pekerjaan yang ditawarkan cukup menjanjikan karena menjadi Litbang di salah satu media lokal di Kota Solo. Dari pekerjaan itu ia dapat belajar banyak tentang dunia penelitian. Di sisi lain, bahasa asing adalah ilmu alat yang dapat menjadi salah satu kunci menjelajahi dunia. Terlebih lagi, ia sudah merencanakan sampai akhir tahun 2013 orientasi kegiatannya adalah belajar. Tidak ingin larut dalam kebingungan itu, ia pun lebih memilih untuk membaca buku dengan harapan rasa kantuk segera datang dan tidur. Semua pilihan akan memberikan konsekuensi yang berbeda. Tentunya Tuhan juga akan memberikan petunjuk dan banyak tanda yang akan mengarahkan apakah tetap melanjutkan rencana awal atau sebaliknya. Dijalani saja dengan ikhlas. Semoga diberikan pilihan yang terbaik. Bukankah hidup ini tidak hanya hitam dan putih saja, masih banyak alternatif lainnya. Solo, 18 September 2013