Minggu, 15 September 2013

Mari Kembali Pada Buku

Sejak kapan mulai mengoleksi buku, saya lupa tepatnya kapan. Yang jelas sebelum kuliah hampir tidak pernah saya memiliki buku bacaan, apalagi membacanya. Ketika kuliah di jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UNS tahun 2007 perlahan-lahan saya mulai mencintai buku bacaan. Sewaktu kuliah, membeli buku menjadi bagian dari aktivitas rutin. Setiap bulan diagendakan untuk membeli buku. Tidak lupa buku-buku yang dimiliki disampul dengan plastik mika. Bagiku, menyampul buku adalah salah satu bentuk penghormatan pada buku. Selain itu masih banyak, misalnya membaca sampai selesai, meresensinya, mendiskusikannya, dan masih banyak lainnya. Pertimbanganku, ketika belum bisa menghormati buku sepenuhnya, bukan berate lantas tidak mau membeli buku. Selain membeli buku setiap bulan, ada juga momentum yang tepat untuk belaja buku dalam jumlah banyak. Momentum itu tidak lain adalah “Pameran Buku.” Setiap ada pameran buku murah di Solo, hampir saya tidak pernah absen mengunjunginya. Dan membeli buku tentunya. Sebagai peminat buku yang masih awam, kualitas buku atau siapa penulisnya belum menjadi pertimbangan utama. Yang terpenting adalah buku tebal dan banyak serta harganya terjangkau. Bahkan sampai sekarang terkdang pertimbangan itu masih dipakai ketika membeli buku. Sudah cukup lama mempunyai koleksi buku, tetapi hanya beberapa buku saja yang mampu saya sampai tuntas. Sisanya hanya tertata di rak buku sampai banyak ditumpuki debu. Di tengah kesibukan yang cukup padat menjadikan aktivitas (baca: tradisi) membaca buku berkurang, bahkan hilang. Padahal membaca adalah jendelanya ilmu. Artinya, semakin banyak buku yang dibaca, apapun itu, akan menambah wawasan seseorang. Kondisi itu berlangsung cukup lama. Pelan tapi pasti, bulan demi bulan tak satu pun buku yang rampung dibaca. Padahal dulu sempat ada komitmen untuk (selalu) membaca buku utamanya koleksi pribadi. Di waktu luang hanya mampu membaca buku beberapa halaman saja dan itu sering berganti-ganti. Ibaratnya saya hanya menjadi penjaga perpustakaan. Mari Baca Lagi..! Ada sebuah motivasi dalam diriku untuk kembali menyambangi buku-buku yang tertata rapi di rak, minimal membersihkannya dari debu. Tumbuhnya semangat untuk membaca buku-buku yang belum terbaca ini ketika salah seorang teman memberikan tiga buah buku sebagai kado ulang tahun. Dari tiga buku itu, saya menemukan jawaban pentingnya membaca dan mengapa harus membaca. Tidak butuh waktu lama, tiga buku saya lahap dalam waktu singkat, tidak sampai sepekan. Entah mengapa setelah membaca tiga buku di atas, tumbuh kembali di dalam hati untuk meniru jejak sang penulis. Mungkin karena ada sedikit kesamaan dengannya yaitu sebagai jurnalis dan pernah bergiat di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Memang masih banyak kurang darinya, dua di antaranya adalah tradisi membaca buku (sastra) dan kemampuan menulisnya. Akan tetapi jika mau bukan berarti saya tidak bisa seperti dia. Saya pun punya kesempatan untuk meniru dan mengejar ketertinggalan ini. Membaca buku, utamanya adalah sastra mempu memberikan ruh dalam kehidupan ini. Sastra tidak memberikan hasil berupa materi, tetapi rasa yang menjadi spirit untuk menjadikan hidup lebih berwarna. Membaca buku adalah rekreasi di dunia kata-kata yang penuh makna. Buku berisi teks yang dapat membawa pembacanya menemukan kenikmatan. Sebagai pembaca bebas menikmati teks sesuka hati. Buku membentangkan sebuah kisah panjang, menjadi teman dialog, menumbuhkan semangat, mengundang kepiluan, menertawakan hidup, mempertanyakan makna masa depan, dan entah apa lagi. Mari membiasakan diri membaca buku dan juga menulis catatan. Solo, 6 September 2013

Ternyata Masih Bodoh

Obrolan atau mahasiswa sering menyebutnya diskusi merupakan forum untuk saling adu pendapat, adu pemikiran. Perang pemikiran untuk saling menjatuhkan atau saling melengkapi dapat dinikmati dalam diskusi. Diksusi merupakan forum untuk saling berdialektika dalam pemikiran. Pagi itu, dua orang teman datang ke kosku. Ada keperluan yang hendak diselesaikan, yakni bisnis. Salah seorang temanku ingin memulai bisnis minuman di kampus. Menurutnya bisnis ini mempunyai prospek menjanjikan karena belum ada di lingkungan kampus. Tapi namanya bisnis harus dicoba, bukan dibayangkan saja. Tentu tidak hanya ingin membicarakan urusan ‘duit’ saja, selesai urusan bisnis, saya pun mengajak ngobrol dengan tema-tema lain. Kebetulan temanku ini adalah alumni dari Kampung Inggris di Pare, Kediri. Ia banyak menceritakan pengalamannya belajar bahasa Inggris sana beberapa bulan lalu. Berkat skill-nya itu ia juga pernah mendapatkan kesempatan (baca: proyek) besar selama beberapa bulan. Bahkan hasilnya itu dapat digunakan untuk membiayai pendidikan pasca sarjana di UNS Solo. Tentu buka semata-mata uang yang menjadikan semangat untuk belajar bahasa asing. Uang hanya menjadi akibat dari sebab seseorang yang menguasai di bidang tertentu. Memang tidak jarang, uang juga menjadi motivasi seseorang untuk menguasai bidang ilmu tertentu, termasuk bahasa Inggris. Bahasa pun mempunyai dunianya sendiri, begitu pula dengan ilmu-ilmu lainnya. Semakin lama obrolan ada banyak ragam cerita dari teman-teman yang pandai berbahasa Inggris. Ada yang menjadi dosen di salah satu kampus negeri, membuka kursus, belajar ke luar negeri, dan masih banyak cerita menarik lainnya. “Semakin lama ngobrol, semakin menjadikan kita bodoh. Ternyata masih begitu banyak hal yang belum diketahui, apalagi dikuasai.” Tentunya kebodohan yang sudah disadari ini tidak dibiarkan menguap dan kemudian berpangku tangan. Justru dengan kesadaran bahwa kita masih bodoh dapat menjadi motivasi besar untuk senantiasa belajar dan belajar. Bukankah dalam agama (Islam) juga menekankan arti pentingnya belajar. Saya, kita, dan mungkin Anda mari senantiasa belajar… Dilema Indonesia Ada sebuah cerita bahwa ada seorang pelajar Indonesia yang mendapatkan beasiswa ke Jepang. Tahun pertama mahasiswa ini masih diperbolehkan untuk menggunakan bahasa Inggris. Akan tetapi pada tahun selanjutnya diwajibkan menggunakan bahasa Jepang. Negeri ini masih mempercayai bahwa bahasa nasional mereka layak untuk dipertahankan. Lantas, bagaimanakah dengan Indonesia? Begitu banyak generasi muda negeri ini berbondong-bondong belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dengan beragam motivasi. Tentu tidak ada yang salah dari semangat mereka untuk belajar. Akan tetapi sedikit disayangkan jika bahasa nasional mereka, bahkan bahasa daerah (baca: bahasa Ibu) kemudian dilupakan begitu saja. Bisa dihitung berapa generasi muda yang mampu berbicara dengan bahasa daerah dengan baik dan benar. “Bolehlah berfikiran atau melangkah global, akan tetapi kan tidak harus dibarengi dengan menghilangkan nilai-nilai lokal, kearifan yang ada di negeri sendiri.” Jepang berani membuat kebijakan demikian karena negeri Matahari Terbit ini mempunya daya tawar tinggi. Banyak sektor negeri ini mempunyai prestasi. Sebenarnya Indonesia pun bisa menjadikan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah tetap dipertahankan keberadaannya di tengah gempuran globalisasi seperti saat ini. Akan tetapi ini membutuhkan proses yang panjang. Mungkin dengan melihat sesuatu yang gemerlap di luar sana akan menjadikan kita buta dengan beragam potensi yang ada di negeri ini. Akibantya, masyarakat kita dari waktu ke waktu semakin tercerabut dari akar tradisinya. Mungkin dari sinilah nilai-nilai cinta pada negeri sendiri mulai luntur dan perlahan-lahan hilang. Sehingga yang terjadi Indonesia saat ini.. Mendiskusikan berbagai permasalahan, apapun itu, akan menjadikan kita semakin bodoh. Ternyata begitu banyak hal yang belum kita ketahui. Semakin banyak belajar akan semakin terlihat dan terasa kebodohan kita. Mumpung masih ada kesempatan, mari belajar. Meski bodoh kan mau belajar. Solo, 14 September 2013

Semacam Memilih Buku

Menceritakan tentang desa lengkap dan beragam potensi serta sejarahnya. Itulah yang dicertitakan dalam novel yang belum lama ia selesaikan baca. Di dalamnya menjelaskan bagimana perjalanan tradisi pembuatan gerabah sebagai komoditas utama masyarakat desa Kasongan, Yogyakarta. Pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda masyarakat diwajibkan untuk menyerahkan sebagian hasil pertaniannya untuk pemerintah. Tidak ingin teru-menerus menjadi ‘budak’ pemerintah, kemudian oleh Kiai Song, salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro menyiasati dengan mengubah mata pencaharian warga. Membuat gerabah menjadi mata pencaharian utama, tidak lagi menjadi petani. Novel ini menjelaskan dinamika usaha gerabah berserta kondisi sosial ekonomi dan politik masyarakat. Persaingan dan saling sikut antar pengrajin dijelaskan cukup mendetail. Bagaimana watak para pengunjung juga tidak luput dari pembahasan. Setelah dikunjungi Presiden, nama Kasongan semakin populer. Sampai juga di desa tersebut didirikan museum untuk mengukuhkan desa tersebut sebagai pusat pengrajin aneka gerabah. Singkatnya, kegemilangan desa ini kemudian surut ketika terjadi gempa berskala 5,6 SR pada Mei 2006. Seluruh pengusaha gerabah mengalami kerugian luar biasa. Pelan tapi pasti, mereka dapat bangkit dari keterpurukan. Dan sampai sekarang desa tersebut tetap menjadi penghasil gerabah. Itulah cerita penulis novel yang menjadi semacam etnografi Kasongan. Sampai Selesai Membaca novel, apalagi yang memiliki ketebalan 400 halaman merupakan tantangan tersendiri. Menjadi sebuah pengalaman berharga ketika membaca buku tetapi jauh dari apa yang diharapkan. Selama membaca novel ini ada beragam ekspresi yang keluar. Rata-rata mengungkapkan “ingin segera selesai.” Tentunya hal ini sangat beralasan. Membaca buku yang tebal dan sudah sampai di tengah, tetapi belum juga menemukan sesuatu yang menarik. Semuanya terkesan datar-datar saja. Akan tetapi dengan tetap bersabar dan terkadang melompat beberapa halaman, akhirnya ia selesaikan juga. Dari aktivitas membaca ini, selain untuk mengisi ruang-ruang kosong, ada juga sebuah pelajaran berharga. Tidak selalu semua yang baik dari sisi cover baik pula isinya. Seringkali apa yang dikatakatakan para komentator (endozer) semuanya persis dari apa yang digambarkan dalam buku atau novel. Dalam dunia bisnis mereka para penulis adalah untuk melegitimasi bahwa buku yang ini layak dibaca. Akhir-akhir ini begitu banyak jenis buku dengan tampilan cover menarik dan isi komentar yang tidak kalah menarik pula. Jika tidak pandai membeli bisa-bisa ‘tertipu’ karena tampilan cover maupun komentar tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sehingga yang terjadi buku yang sudah (terlanjur) dibeli menjadi tak terbaca dan hanya dipajang di rak diberikan kepada orang lain. Di tengah membaca novel ini pun ia merasakan kejenuhan luar biasa. Bahkan kekecewaan. Sekali lagi, ternyata cover dan komentar yang ada tidak sepenuhnya menggambarkan isi novel. Tampilan buku memang menarik tetapi hampa, hanya sederet kata-kata tak bermakna. Meski kurang menarik baginya, tetapi ia teap mempertahankan untuk membacanya sampai selesai. Belajar dari novel dengan standar biasa-bisa saja toh, nyatanya menelurkan pengalaman berharga. Daripada menghabiskan banyak waktu untuk membaca bacaan yang biasa-biasa saja, lebih baik (ke depan) dengan waktu yang sama membaca buku bacaan yang berkualitas. Misalnya saja buku karya Pram, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, dan sastrawan lainnya. Dan setiap orang tentu punya selera dan standar buku yang berbeda-beda. Jika tahu sejak awal, untuk apa menghabiskan durasi waktu yang sama jika tidak menemukan sensasi membaca yang berbeda. Untuk ke depannya, membaca buku pun harus memilih. Bagaimana bisa menyenangkan jika tema buku tidak sesuai dengan selera atau tidak menemukan sesuatu yang berbeda (baca: unik) dari buku lainnya. Bukankah lebih baik beralih ke buku lainnya yang sudah jelas-jelas mumpuni penulisnya. Memilih buku pun tidak boleh terus coba-coba. Tidak jarang cover buku biasa-biasa saja tetapi isinya justru menarik, tetap relevan dengan kondisi sekarang dan masa depan. Mungkin begitu juga dalam memilih jodoh. Jika hanya mempertimbangkan cover dan komentar orang lain, mungkin yang terjadi tidak jauh beda dari apa yang dialaminya. Bisa jadi memutuskan sejak membuka halaman pertama, di tengah atau tetap membaca sampai akhir meski tidak menemukan makna. Dan membaca sampai akhir adalah pilihannya. Solo, 16 september 2013

Habib Munzir al-Musawa

Kabar meninggalnya Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa Minggu (15/9) mengundang duka banyak kalangan. Pimpinan Majelis Rasulullah ini menghembuskan nafas terakhir pada pukul 15.30 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Habib Munzir, begitu beliau akrab disapa, mempunyai pemikiran yang luwes dan tidak ekstrim dalam menyikapi kehidupan berbangsa dan bernegara. Apa yang disampaikan menggunakan bahasa-bahasa lembut yang menyntuh kalbu (hati) siapa yang mendengarnya. Dalam berbagai ceramahnya beliau mengingatkan dan mengajarkan tujuan utama manusia diciptakan. Tentunya ini bukan berarti mengajarkan manusia hanya berada di dalam masjid untuk berdzikir.Justru dengan kesadaran hakekat penciptaan manusia dapat mewarnai setiap aktivitas setiap hari. Dalam bahasa beliau adalah kehidupan yang 'nabawiy' atau ala Rasulullah Saw. Jika menjadi poltisi, jadilah politisi yang nabawiy. Jadi orang kaya, jadilah orang kaya yang nabawiy, dan seterusnya. Betapa indahnya keadaan umat apabila seluruh lapisan masyarakat terwarnai dengan kenabawian (baca:kehidupan ala Rasulullah Saw),sehingga antara golongan miskin, golongan kaya, partai politik,pejabat pemerintahan terjalin persatuan dalam kenabawiyan, inilah dakwahRasulullah Saw yang hakiki. Masing-masing orang sibuk dengan urusannya, tetapi hati mereka bergabung dg satu kemuliaan. Inilah tujuan Nabi saw diutus, untuk membawa rahmat bagi sekalian alam. Habib Munzir dilahirkan Cianjur pada hari Jum'at 23 Februari 1973. Ayah beliau, Fuad Abdurrahman Almusawa adalah seorang ulama sekaligus jurnalis luar negeri. Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SMA,habib Munzir mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan. Pernah juga mengambil kursus bahasa Arab di LPBA Assalafy Jakarta Timur, sebelum akhirnya memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur, Kecintaanya pada ilmu menjadikan beliau meneruskan untuk lebih mendalami Syari’ah ke Ma’had Darul Musthafa, Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994. selama kurang lebih empat tahun disana beliau mendalami Ilmu Fiqh, Ilmu tafsir Al Qur;an, Ilmu hadits, Ilmu sejarah, Ilmu tauhid, Ilmu tasawuf, mahabbaturrasul saw, Ilmu dakwah,dan ilmu ilmu syariah lainnya. Habib Munzir Al-Musawa kembali ke Indonesia pada tahun 1998, dan mulai berdakwah, dengan mengunjungi rumah rumah, duduk dan bercengkerama dengan masyarakat dan memberi mereka jalan keluar dalam segala permasalahan. Atas permintaan mereka maka mulailah Habib Munzir membuka majlis. Awalnya jumlah yang hadirin tidak mencapai hitungan sepuluh. Meski demikian beliau terus berdakwah dengan meyebarkan kelembutan Allah Swtyang membuat hati pendengar sejuk. Beliau tidak mencampuri urusan politik,dan selalu mengajarkan tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada-Nya. Awal berdakwah beliau menggunakan kendaraan umum sambil membawa kitab-kitab yang akan diajarkan kepada jama'ah. Tak jarang beliau mendapat cemoohan dari orang-orang sekitar. Beliau bahkan pernah tidur di emperan toko ketika mencari murid dan berdakwah. Kini majlis taklim yang diasuhnya setiap malam Selasa di Masjid Al-Munawar Pancoran Jakarta Selatan dihadiri puluhan ribu jama'ah. Beliau juga membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Beberapa kali juga beliau mengisi ceramah di salah satu televisi swasta. Bangsa ini pun kehilangan satu ulama besarnya lagi.. Solo,15 September 2013

Rabu, 04 September 2013

Tradisi (dan) Politik di NU

Malam itu saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu kegiatan rutin Nahdhlatul Ulama’ (NU). Acara Lailatul Ijtima’ ini dilaksanakan Senin malam pekan pertama setiap bulan dan diikuti seluruh jama’ah nahdliyin. Kegiatan rutin tersebut pun sedikit banyak menjadikan organisasi kultural ini kembali bergeliat. Rangkaian acara Lailatul Ijtima’ di keluarga besar NU Kota Solo ini sangat sederhana. Acara pertama biasanya dipandu oleh pengurus harian dan kemudian dilanjutkan dengan do’a bersama. Do’a-do’a yang dilantunkan ditujukan khusus kepada para ahli kubur dan kebaikan bangsa ini. Ya, memang NU dan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan. Hal ini terlihat dalam sejarah perjuangan organisasi ini dalam pembentukan Republik pada awal kemerdekaan. Selesai do’a acara dilanjutkan dengan penyampaian berbagai informasi, baik kegiatan yang sudah dilakukan atau pun agenda yang akan dilaksanakan. Selama mengikuti acara, yang saya rasakan, ternyata kehadiran kegiatan rutin (baca: tradisi) sangat penting bagi sebuah organisasi, terlebih adalah NU Kota Solo. Adanya kegiatan kultural akan tetap menyokong keberadaan organisasi meski sedang tidak ada progam. Ibaratnya, sambil menyelam minum air, melalui kegiatan kultural semacam ini justru yang akan menjadikan kinerja organisasi berjalan. Entah suatu takdir atau apa apa namanya, keunikan di NU adalah salah satunya jama’ah lebih tertarik mengikuti kegiatan kultural daripada kegiatan formal organisasi, misalnya rapat atau seminar. Sepertinya perlu digalakkan bahwa berorganisasi (jam’iyah) juga termasuk ibadah, sebagaimana kegiatan kultural. Meski NU mempunyai jama’ah yang sangat besar tersebar di seluruh penjuru Tanah Air, namun Kota Solo kodisinya berbeda. Sebagai wilayah abangan yang hetrogan, jumlah jama’ah nahdliyin di Solo tidak lebih banyak daripada jama’ah organisasi lainnya. Padahal sebagai kota yang masih memegang kuat tradisi Jawa, sebenarnya NU dapat di terima oleh masyarakat Kota Bengawan. Karena sejak awal pendiriannya oleh KH. Hasyim Asy’ari, salah satu tujuannya untuk melindungi praktik dan pemikiran keagamaan masyarakat Indonesia yang berbeda dengan praktik dan pemikiran keagamaan muslim Timur Tengah, khususnya Arab Saudi yang puritanistik. Artinya, NU sangat mengapresiasi budaya lokal. Akan tetapi kondisinya sangatlah berbeda dari yang dibayangkan. Justru dari kota yang dikenal santun ini, banyak tuduhan bid’ah (heterodoksi) dan sesat dari praktik keagamaan yang dijalankan masyarakat muslim kultural (baca: nahdliyin). Praktik-praktik keberagamaan yang sudah lama mengakar kuat seperti tahlil, yasinan, acara tujuh hari, dan sebagainya dianggap bertentangan dengan ajaran Islam karena tidak pernah dicontohkan Rasulullah Saw. Entah karena Islam yang begitu mudah dipelajari atau karena salah tafsir sehingga banyak orang yang langsung mengambil dasar dari al-Qur’an dan hadits. Padahal diperlukan ilmu bantu lainnya untuk mengambil sebuah hukum. Sebenarnya tinggal mengikuti (taklid) dari salah satu empat madzhab sudah menjadi solusi tepat. Dalam kitab Qanun Asasi Li Jami’ati Nahdlatul Ulama’, KH Hasyim Asy’ari memprihatinakan adanya gerakan keagamaan baru yang menyerukan pemberantasan bid’ah dengan “kedok” kembali kepada al-Qur’an. Harus diakui bahwa di zaman yang semakin berkembang ini, belajar hal apapun, termasuk agama bukan persoalan yang sulit. Dengan internet, semua permasalahan (agama) dapat terjawab dengan cepat dan tuntas. Akan tetapi, permasalahannya tidak sesederhana itu. Akan tetapi dalam belajar agama (Islam) tidaklah demikian. Diperlukan guru untuk membimbing seorang murid. Mungkin karena pesatnya informasi sehingga menjadikan seseorang bisa belajar otodidak dan merasa lebih mampu dari yang lain. Dengan kemampuan yang luas tetapi tanpa dasar yang benar menjadikan mereka kebelinger. Sangat disayangkan jika banyak generasi muda yang notabene-nya adalah generasi yang mempunyai pemikiran kritis justru menjadi taklid buta dengan bacaan yang ada di internet dan satu referensi saja. Kepungan Politik Praktis Menjelang Pemilu 2014 ini banyak calon legislatif (Caleg) mulai turun ke Turba untuk menggalang dukungan dari masyarakat. Tidak sedikit para pimpinan organisasi didekati para caleg karena dianggap mempunyai umat yang lumayan banyak, tak terkecuali dengan NU. Sebagai organisasi besar, NU merupakan wadah potensial di mata caleg untuk menggalang dukungan. Dengan iming-iming akan memajukan kegiatan kultural dan akses lainnya, banyak caleg mengenalkan dirinya kepada jama’ah. Tetapi yang harus diingat, NU adalah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang tidak terbiasa “memaksa” para jama’ahnya untuk memilih sosok tertentu. Hal ini terbukti dari Pemilukada di beberapa daerah. Tidak semua calon dari backround NU selalu menang, meski mayoritas pemilih adalah nahdliyin. Di tubuh NU sendiri terdapat tiga model politik yang dilaksanakan Nu, yaitu politik kenegaraan, politik kerakyatan, dan politik kekuasaan. Dan jenis yang terakhir, politik kekuasaan (politik praktis) menempati kedudukan paling rendah. Pertanyaannya, mengapa banyak tokoh NU yang berminat politik tersebut. Padahal jenis politik ini banyak menimbulkan perpecahan dalam tubuh organisasi? Entahlah… Dua model politik NU itu –kerakyatan dan kenegaraan- merupakan pengalaman paling ideal dalam sejarah NU. dengan dua politik itu menjadikan NU sebagai organisasi keagamaan yang berorientasi pada kebaikan dan kepentingan umum. Akan tetapi dalam perkembangannya, NU tidak mampu mempertahankan dua model politik ini karena godaan politik kekuasaan, baik dari tokoh NU sendiri maupun dari luar NU. Puncaknya adalah Khittah 1926 di mana NU berorientasi pada jama’ah dan jam’iyah. Dalam keputusan Khittah 1926 ini hanya mengatakan NU sebagai organisasi harus netral, namun sebagai individu, pengurus NU dapat berpolitik praktis. Dua fenomena yang menarik dan mungkin dijadikan pijakan pengurus NU sekarang berpolitik praktis adalah kesediaan Gus Dur menjadi Presiden RI 1999 dan pencalonan KH. Hasyim Muzadi dalam Pemilu Presiden 2004. Melanjutkan dengan jalan politik kekuasaan atau politik politik kerakyatan dan kenegaraan adalah sebuah pilihan. Wa allahu a’lam… Solo, 4 September 2013

Selasa, 03 September 2013

Prasasti Pernikahan Historia Community 2007

Mengungkap peristiwa di masa lalu, utamanya sebelum tahun 1500 bukanlah pekerjaan mudah. Diperlukan ketelitian dan kerja keras untuk mendapatkan sumber-sumber guna menunjang penelitian yang akan dilakukan. Sangat jarang para peminat sejarah yang berani melakukan kajian periode tersebut. Selain terbatasnya sumber yang tersedia, kebermanfaatan dari penelitian pun kurang bermakna jika dibandingkan dengan penelitan kontemporer. Prasasti adalah salah satu sumber yang dapat dijadikan bahan penelitian tema Indonesia lama. Tanpa adanya bukti (evident), sekecil apapun itu, sejarah hanya menjadi omong kosong. Bukti sezaman dan setempat ini digunakan sebagai penanda sebuah peristiwa penting di masa di mana peristiwa itu berlangsung. Dari tulisan-tulisan sejarah yang ada, kita dapat tahu banyak prasasti yang menjadi bukti keberadaan sebuah kerajaan besar di masa lalu. Meski bekas bangunan atau artefak lainnya sudah hilang, dengan hadirnya prasasti dapat menjadi bukti tak terbantahkan. Sebut saja misalnya Prasasti Pasir Awi yang menjadi bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara abad ke-6. Di dalam prasasti tersebut memuat informasi hak-hak raja dan juga agama yang dianut Raja Purnawarman adalah Dewa Syiwa. Selain itu masih banyak prasasti yang menjelaskan keberadaan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti Sriwijaya, Kediri, Singosari, Mataram, Majapahit, dan seterusnya. Harus diakui bahwa dari waktu ke waktu minat generasi muda mempelajari sejarah semakin berkurang, terlebih lagi adalah periode pra Islam. Dibutuhkan kemampuan bahasa-bahasa kuno dan penerjemahan untuk mendapatkan informasi dari prasasti. Meski tidak diminati, akan tetapi tradisi menuliskan tanda di atas batu masih sering kita jumpai sampai saat ini. Hampir setiap peresmian tempat-tempat penting selalu ada acara penandatanganan oleh pejabat publik. Walaupun hanya berisi informasi waktu dan siapa yang meresmikan, tetap saja hal itu menjadi sesuatu yang penting. Fenomena itu pun menjadi bukti bahwa model-model prasasti masih relevan digunakan, bahkan sampai saat ini. Selama ini, penelitian yang dilakukan atas peristiwa atau kejadian di masa pra Islam hanya mengekor pada kajian yang sudah ada. Belum pernah ada penemuan signifikan yang bertentangan dengan informasi yang sudah ada sebagaimana di dalam buku-buku pelajaran sekolah. Para peneliti cenderung lebih tertarik untuk mengkaji permasalahan sosial yang bersifat kontemporer. Terlebih lagi ketika disiplin ilmu sejarah dan ilmu sosial saling berkaitan, tak terpisahkan. Seiring berjalannya waktu, perkembangan ilmu sejarah pun turut berkembang menjadi lebih luwes dalam penggunaan sumber. Pada periode kolonial (1600) banyak ditemukan sumber-sumber tulisan atau teks. Sebenarnya dari sumber tersebut dapat mengungkap berbagai peristiwa di masa lalu yang relevan dengan kondisi sekarang baik di bidang sosial, ekonomi, budaya, agama, politik, maupun kebudayaan. Sekali lagi yang patut disayangkan adalah kemampuan berbahasa asing para peneliti, utamanya (calon) sejarawan masih minim. Generasi Menulis? Sebagai mahasiswa ilmu sejarah, entah ini suatu kebetulan atau memang sudah menjadi alam bawah sadar, di akhir masa kuliah ada sebuah ide untuk menjalin persahabatan di antara kita, mahasiswa ilmu sejarah 2007. Cara yang digunakan adalah dengan membuat Prasasti Pernikahan. Kita yang mengklaim diri sebagai Historia Community 2007 membuat prasasti pernikahan tidak hanya meninggalkan bekas sebagaimana kerajaan Nusantara masa lalu, tetapi juga sebagai perekat persahabatan. Maklum saja, kami adalah angkatan yang spesial. Dari seluruh angkatan yang ada, kami lah yang jumlahnya paling minimalis. Sejak awal kami kuliah, di mata para dosen, angkatan 2007 terbilang kompak. Tidak hanya satu atau dua dosen yang mengatakan demikian. Bahkan para kakak maupun adik tingkat pun mengatakan demikian. Kami sering ngumpul, juga sering melakukan perjalanan (touring) ke beberapa obyek wisata baik itu di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Prasasti yang kami buat tidaklah seperti prasasti kerajaan yang besar dan dengan aksara kuno. Bentuk prasasti pernikahan atau lebih tepatnya adalah prasasti bergilir ini berbentuk minimalis dan portable. Di dalam prasasti yang terbuat dari batu marmer ini berisi puluhan kolom kosong. Kolom yang tersedia itu di kemudian hari akan diisi dengan nama-nama kami yang berjumlah kurang lebih 25 personil. Pengisian berdasarkan kronologis peristiwa. Artinya siapa yang menikah lebih dulu akan menempati posisi teratas, begitu seterusnya. Sesuai dengan namanya, Prasasti Pernikahan bergilir ini akan menjadi kado spesial di antara kami. Siapa yang menikah akan mendapatkan kado tersebut untuk sementara waktu. Misalnya saja di Agustus 2013 kemarin ada dua teman kami yang melangsungkan pernikahan, yaitu Langgeng dan Joyo. Dengan sangat terpaksa Langgeng hanya menerima kado tersebut hanya beberapa hari saja. Setelah itu prasasti giliran menginap di rumah Joyo. Begitu seterusnya, mengalir menjadi kado di setiap pernikahan kami. Tentunya pemilik prasasti ini adalah siapa yang akan menikah terakhir kali. Hehe…. Prasasti ini pun menjadi sarana perekat persahabatan di antara kami. Jika mengikuti trend zaman sekarang, sepertinya jika hanya menggunakan model-model prasasti sebagaimana kerajaan dulu akan ketinggalan. Karena informasi yang tersedia akan sangat terbatas. Idelanya di era gadget dan high-tech seperti saat ini, generasi muda, apalagi mahasiswa sejarah harus menjadi generasi penulis. Dengan menulis apa yang ada sekarang akan menjadi bukti untuk sejarah di masa depan. Yang terakhir, rasanya persahabatan sejak 2007 lalu sangat disayangkan jika selesai karena sudah tidak belajar lagi di kampus. Di tengah kesibukan yang ada, sebisa mungkin kami akan tetap menjalin persahabatan ini. Meluangkan waktu untuk ngobrol atau sekadar bernostalgia bersama. Meski bentuknya sederhana, Prasasi Pernikahan bergilir ini menjadi bukti bahwa Historia Community 2007 itu ada. Ditulis di Solo, 3 September 2013

Senin, 02 September 2013

Tak Selamanya Permisi Itu Baik

Waktu menunjukkan pukul 05.00 WIB. Zaky, salah seorang temanku yang baru bangun tidur mengeluhkan kondisi kamarku yang banyak dipenuhi dengan nyamuk. Temanku ini sedikit terganggu dan menyayangkan karena darahnya sudah banyak dihisab nyamuk. Padahal belakangan ini ia sedang mencoba untuk menerapkan pola hidup sehat. Konon cara diet yang digunakan itu manjur dan mudah. Sehingga ia pun sangat memperhatikan betul urusan kesehatan. Tanpa disadari, ternyata nyamuk juga tahu dan mempunyai alasan memilih para korbannya. Mungkin kondisi tubuhnya yang cukup subur menjadi pertimbangan utama dijadikan sebagai sasaran empuk di tengah tidurnya yang nyenyak. Sebenarnya bukan permasalahan ikhlas atau tidak atas darah yang sudah dihisab. Tetapi lebih dari itu adalah cara yang digunakan nyamuk untuk mengambil darah dari tubuh seseorang yang sering dianggap mengganggu. Entah karena sudah menjadi tabiatnya, di mana pun nyamuk selalu meminta izin terlebih dahulu sebelum menghisab darah para korbannya. Entah itu kepala sukunya atau anak buahnya, hampir selalu ada yang membisikkan sesuatu tepat di luar daun telingga ‘korban.’ Dalam kasus ini, ternyata meminta izin tidak lebih baik jika dibandingakan dengan (misalnya) nyamuk yang langsung mengambil darah tanpa izin. Apalagi ditambah dengan menghilangkan bukti-bukti yang ada sekaligus. Dengan begitu ‘korban’ pun akan bangun dengan nyaman karena tidak terganggu sama sekali. Singkatnya, tidak selamanya kejujuran itu memberikan kebaikan. Hal itulah yang ada di dunia nyamuk. Budaya permisif (baca: minta izin) ternyata menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Tentunya tidak semua keadaan demikian adanya. Budaya permisi, terlebih di tengah masyarakat Indonesia yang dikenal santun masih dijunjung tinggi. Pedoman Korupsi Apa yang terjadi pada dunia nyamuk mungkin menjadi pedoman bagi para koruptor di negeri yang kita cintai ini. Sadar jika meminta izin terlebih dahulu, akan menimbulkan permasalahan di belakang, maka mereka pun nekat mengambil ‘uang panas’ tanpa meminta izin. Bahkan berbagai bukti-bukti jika perlu dihilangkan agar korban (baca: rakyat) tidak mengetahuinya. Emangnya ada maling yang minta izin terlebih dahulu.hehe… Rakyat sudah terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sehingga jarang mengikuti perkembangan menarik yang ada di Ibukota. Seringkali keheranan muncul tatkala Presiden sebagai kepala negara menyebutkan nominal hutang negara yang begitu menumpuk dan harus segera dilunasi. Permasalahannya, meski sebagai korban, rakyat juga diminta untuk menanggung beban tersebut. Meski berbagai uapaya sudah dilakukan pemerintah, tetap saja sulit menghilangkan korupsi dalam birokrasi negeri ini. Tentu kita sudah tidak asing dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), dan berbagai NGO anti korupsi. Sepertinya budaya korupsi di negeri ini sudah terlanjur menjadi tembok besar yang sulit ditembus, bukan berarti negara harus kalah. Jika urusannya dengan nyamuk, ikhlas itu mungkin mudah. Akan tetapi jika urusannya sudah uang, lain ceritanya. Sebagai rakyat, untuk mendapatkan uang diperlukan pengorbanan luar biasa. Setiap hari harus berkerja keras untuk mengumpulkan uang guna mencukupi kebutuhan keluarga. Apalagai akhir-akhir ini nilai rupiah melemah terhadap dollar. Yang terjadi kemudian, hasil keringat tidaklah sebanding dengan harga kebutuhan yang terus melambung. Rasanya juga sulit untuk ikhlas jika hasil kerja yang dilakukan sehari-hari harus diserahkan secara cuma-cuma kepada para pejabat yang tidak amanah dan tidak bertanggung jawab. Ditulis di Gendingan, Senin (2/9) pukul 14.00 WIB