Senin, 16 Mei 2011

Pelaksanaan Sanlat

Selasa (3/5) pagi adalah hari yang sedikit meyedihkan bagiku. Bukan karena tugas kuliah yang terbengkalai, melainkan kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) yang sedikit kurang beres.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB. Suasana di tempat pelaksanaan Sanlat di SMA Al-Muayyad Surakarta masih sepi. Padahal saat itu tentor sudah datang. Beberapa kali suara speker pondok yang didengungkan tidak juga menyadarkan siswa untuk segera naik ke lantai empat untuk mengikuti kegiatan Sanlat.
Memang ada beberapa siswa yang sudah hadir tepat waktu. Mereka adalah siswa non pesantren Al-Muayyad. Mungkin karena tekad yang kuat itulah mereka datang lebih awal di antara yang lainnya.
Bersama dengan om Din saya merasa sangat pusing dengan keadaan yang kurang normal itu. Mungkinkah ini ada sabotase dari pihak pesantren. Entahlah. Yang jelas pukul 08.30 WIB pembelajaran di progam IPA sudah mulai berjalan, sedangkan di progam IPS baru pada pukul 09.20 WIB.
Setelah semuanya hampir beres, om Din melanjutkan pekerjaannya di kantornya. Dan tinggal saya sendirilah yang berada di Sekolah Al-Muayyad. Namun tidak lama kemudian saya juga harus menjalankan poerkuliahan di kampus. Pada siang hari kan tidak ada kegiatan yang harus dilaksanakan oleh para peserta Sanlat Sukses SNMPTN 2011.
Tidak lama kemudian sampailah saya di kampus UNS tercinta. Kangen juga dengan kampus yang sudah cukup lama tidak saya kunjungi. Apalagi sekarang sudah ada bis yang berada di dalam kampus. Meskipun penumpangnya hanya satu atau dua, bus tetap jalan. Memang begitulah keadaannya.
Ke kampus tujuanku adalah kuliah Sejarah Indonesia Lama yeng saya ulang. Untungnya ketika sampai sudah masuk dan belum lama. Akhirnya bisa kuliah….
Ditulis di Sekre PMII, Selasa (3/5) pukul 00.00 WIB.

Menjaga kesehatan di Hari Buruh

Untuk menjaga kesehatan tubuh, Minggu (1/5) pagi bersama salah seorang teman, kumanfaatkan waktu luangku untuk berolah raga. Badminton adalah yang menjdi pilihan.
Mendung menjadi suasana yang khas pada pagi ini. Maklum saja, semalam hujan lebat mengguyur Kota Solo dan sekitarnya. Jadi tidak salah jika udara di pagi menjadi seperti ini. Sebenarnya bagi mahasiswa yang disibukkan dengan berbagai kegiatan akademik, suasana pagi seperti ini paling enak adalah digunakan untuk tidur. Itung-itung juga untuk beristirahat. Hehe…
Sadar bahwa sudah terlalu banyak beraktivitas di luar, mengharuskan diriku untuk berolah raga. Tujuannya tidak lain agar bisa berkeringat di pagi hari. Memang belum ada jaminan bahwa berkeringat di pagi hari adalah ciri orang sehat. Namun daripada tidur lebih baik adalah berkeringat. Dan saya meyakini bahwa berkeringat di pagi hari adalah sesuatu yang sehat.
Inilah hadiah yang biberikan oleh Tuhanku di awal Mei ini. Hadiah yang sering diberikan tapi sering pula dilupakan oleh manusia, yaitu kesehatan dan kesempatan. Manusia lupa karena seringnya diberi meski tidak meminta. Dan itu adalah sebuah ujian yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh manusia. Ujian karena apakah dengan dengan banyak nikmat yang diberikan manusia semakin dekat atau malah sebaliknya.
Hari Buruh
Di awal Mei ini ada hari yang istimewa bagi para buruh. Setiap tanggal satu Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Tidak tahu mengapa harus tanggal satu Mei. Semestinya ini ada alasan kongrit dan kuat mengapa harus tanggal satu.
Pertanyaannya, apakah dari tahun ke tahun setelah diperingati, ada kabar baik dari para buruh, terutama adalah buruh di Indonesia. Masih seringnya terdengar kabar miring dengan para tenaga kerja wanita khususnya di luar negeri sana patut dijadikan perenungan dan prioritas utama oleh pemerintah untuk segera diselesaikan.
Idelanya, dengan diperingatinya hari Buruh setiap tahun bukan kok ingin melestarikan tidakan eksploitasi dari majikan (baca; kapitalis), melainkan untuk meningkatkan kesejahteraan para buruh. Dari penggunaan istilah saja, buruh itu masih terbilang kasar dan (mungkin) kurang manusiawi. Bukankah lebih baik digunakan istilah yanng lebih sopan. Misalnya adalah karyawan atau pegawai. Namun itu sudah disepakati oleh internasional sebagai hari yang selalu ada setiap tahun.
Memang tidak ada kaitannya antara apa yang saya lakukan, yaitu badminton dengan Hari Buruh ini. Kebetulan saja pada hari ini adalah Hari Minggu bertepatan dengan libur rutin. Ditambah dengan pas tidak puasa juga. Jadi tidak apalah jika kumanfaatkan hari Buruh ini untuk membebaskan diriku dari semua perintah nafsu yang menyelimutiku. Ini juga bisa dimaknai sebagai pembebasan diri dari penindasan diriku sendiri. Mungkin itu jawabannya jika dipaksa harus berkaitan antara aktivitasku dengan hari Buruh ini.
Selama ini banyak orang yang menjadi buruh dari dirinya sendiri. Bayangkan saja, setiap hari saya harus dipaksa untuk kuliah dan menjalankan rutinitas yang kadang-kadang kurang disukai. Pada dasarnya manusia itu adalah buruh terutama buruh bagi dirinya sendiri.
Tapi pemaknaan apakah menjadi buruh atau tidak terserah pada diri sendiri. Terkadang ada yang menganggap suatu hal itu sebagai penindasan karena tidak manusiawi, tapi terkadang orang yang dianggap buruh tadi itu merasa enjoy saja dengan apa yang dijalankannya.
Ditulis di Sekre PMII, Minggu (1/5) pukul 07.35 WIB.

Jumat, 22 April 2011

Krisis Air

Pagi itu komplek kos mahasiswa UNS di Kampung Panggungrejo sudah disibukkan dengan aktivitas luar biasa. sebagian besar penghuni kos keluar rumah. Bukan karena tugas perkuliahan mereka keluar rumah, melainkan karena mencari air.
Sejak Senin (18/4) malam, air PDAM tidak mengalir alias mati. Ini tentunya sebuah fenomena yang cukup mengagetkan bagi masyarakat Kampung Panggungrejo. Pasalnya beberapa bulan terakhir air di komplek kos mahasiswa di belakang kampus itu jarang mampet alias lancar-lancar saja. tapi mengapa kemacetan kembali terjadi.
Air macet juga terjadi di Sekre PMII Komisariat Kentingan. Untuk shalat Subuh saja seluruh penghuni kos pergi ke masjid bersama untuk menjalan shalat berjama’ah. Padahal jika airnya lancar mereka tidak pergi ke masjid.
Secara pribadi saya tidak terganggu dengan keadaan ini. Mungkin bagi teman-temanku tidak demikian. mau macet dua atau tiga hari ke depan tidak masalah bagiku. Kan masih ada tempat lain yang bisa digunakan untuk mandi. Itulah salah satunya manfaat memiliki banyak teman. Hehe…
Saya memaknai krisis air ini sebagai suatu sarana untuk mengingatkan manusia agar mau bersyukur. Tidak akan bisa menikmati nikmatnya ada air jika belum pernah merasakan tidak ada air. Entah sampai kapan krisis air ini akan terus berlangsung. Semoga saja tidak lama. Mungkinkah ppenyebab utama terjadinya kemacetan ini karena belum ada yang membayar PAM sehingga dari perusahaan sengaja mematikannya.
Ditulis di Sekre PMII, Selasa (18/4) pukul 07.20 WIB.

Sabtu, 02 April 2011

Keistimewaan Mahasiswa Sejarah

Banyak orang menyangka bahwa kuliah di Jurusan Ilmu Sejarah memiliki masa depan yang suram. Padahal tidak demikian adanya.
Ada beberapa teman yang menyangkan keputusanku mengambil jurusan ini. Ada yang menyangka bahwa saya salah jurusan atau karena salah menulis kode saat SNMPTN. Tidak peduli apa yang dikatakan orang, Jurusan Ilmu Sejarah justru menjadi pilihan pertamaku. Alasannya mudah saja. Sebagai orang yang tidak pernah berorganisasi dan minim pengalaman, saya memilih sejarah karena ingin berbeda dengan yang lainnya.
Selama ini orang menilai bahwa jurusan yang diambil akan sangat menentukan masa depan seseorang setelah lulus. Itu bisa jadi benar dan bisa juga sebaliknya. Memang pada awalnya muncul sikap kurang percaya diri dengan jurusan yang saya ambil. Tapi setelah menjalani liku-liku kehidupan kampus, mulai dari semester ke semester dijalani dengan penuh suka duka, akhirnya kutemukan jawabannya.
Sukses atau tidaknya mahasiswa itu sangat tergantung dengan apa yang dilakukan ketika menjadi mahasiswa. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit mahasiswa S1 yang nganggur. Apaun itu jurusannya bisa mengalami nasib yang sama. Mereka bingung mau ke mana dan mau apa. Tidak perlu ditertawakan karena memang begitulah adanya.
Berdasarkan fakta tersbut mahasiswa mendapatkan peluang besar untuk sukses. Dengan perkuliahan yang tidak begitu padat bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa sejarah untuk mencari kegiatan lain di luar kampus. Tentunya kegiatan tersebut akan bisa bermanfaat bagi kehidupan ke depannya. Misalnya dengan ikut di organisasi pergerakan, pelatihan-pelatihan, komunitas diskusi, nyambi kerja dan lain sebagainya.
Sebagian besar jurusan di semua kampus terbukti tidak bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa setelah lulus. Tidak ada jaminan pascamahasiswa akan sejahtera hidupnya.
Setelah lulus
Goal dari mahasiswa S1 adalah skripsi. Suka duka dalam membuat tugas akhir tersebut ternyata tidak banyak memberi manfaat setelah dijilid. Manfaatnya paling besar adalah menjadikan mahasiswa menyandang gelar sarjana.
Memang belum ada penelitian yang khusus membahas tentang kualitas skripsi dengan masa depan mahasiswa setelah lulus. Jika dipaksa ada kaitannya, jawaban yang paling logis adalah jika penelitian (skripsi) yang dibuat itu benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, tidak hanya kata-kata belaka dalam proposal penelitian. Kemudian skripsi itu bisa dijadikan buku yang best seller.
Bisa dilihat setumpuk skripsi yang hanya menjadi pajangan di almari perpustakaan. Padahal untuk membuat itu harus mengorbankan banyak waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
Tapi bagi mahasiswa Ilmu Sejarah tidak sepenuhnya demikian. Meski memang ada beberapa skripsi yang setelah jadi hanya dijadikan pajangan di almari rumah, tapi yang (mungkin) tidak didapatkan oleh jurusan lain adalah melekatnya (sedikit) sikap bijak pada lulusan sejarah.
Setiap hari mahasiswa sejarah selalu disuguhi dengan perbagai peristiwa masa lampau yang dilihat dari berbagai sudut pandang (multiprespektif). Secara tidak langsung itu dapat membentuk pola pikir serta menjadi pijakan mahasiswa sejarah. Semua harus disesuaikan dengan konterks, kapan dan di mana. Belum lagi kalau kita mau membaca biografi para tokoh pergerakan Indonesia seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, D.N Aidit, Agus Salim dan masih banyak lainnya, akan membuat kita semakin semangat unutk belajar.
Memang ini sangat subyektif. Tapi ini semua berangkat dari fakta yang muncul di lapangan. Mahasiswa sejarah tidak bisa bicara tanpa adanya fakta. Fakta sendiri itu didapatkan dari sumber atau peninggalan (evidence).
Jangan pesimis menjadi mahasiswa jurusan yang minoritas sekalipun. Bisa menjadi mahasiswa saja seharusnya sudah bersyukur, apalagi menjadi mahasiswa di kampus negeri. Semua jurusan memiliki nasib yang hampir sama, yaitu nasib tidak jelas. Termasuk mahasiswa FKIP sekalipun. Sukses atau tidaknya mahasiswa setelah lulus tergantung proses, apa yang dilakukan ketika menjadi mahasiswa.
Ditulis di Sekre PMII, Jum’at 1 April 2011 pukul 22.30 WIB

Jumat, 01 April 2011

Perjalanan ke Surabaya

Sesampainya di Kantor Pengurus Kordinator Cabang (PKC) PMII di Semarang, perjalanan dilanjutkan menuju Surabaya. Perjalanan menuju timur diguyur hujan lebat. Ini adalah perjalanan yang menyenangkan, khususnya bagiku.
Di tengah guyuran hujan lebat, saya sempat untuk menuliskan kisah perjalanan ini. Di dalam bis, alunan musik dangdut menjadi hiburan utama para rombongan. Dari PKC PMII Jawa Tengah menyediakan tiga bis untuk membawa rombongan menuju Surabaya. Dari Solo sendiri mendapatkan jatah bis nomor dua.
Melihat suasana di dalam bis, saya berfikir seandainya yang diajak adalah sahabat/i komisariat, tentunya akan memiliki penilaian lain terhadap PMII. Yang paling menakutkan adalah apabila anggota itu menjadi tidak aktif atau bahkan keluar dari PMII. Butuh waktu lama agar sahabat/i PMII bisa dan siap diajak ke acara Kongres. Padahal ini baru dalam perjalanan menuju Kongres, belum di forum Kongres. Tentunya akan lebih parah lagi keadaannya.
Memasuki Demak, hujan mulai reda. Bahkan di tempat ini tidak terdapat tanda-tanda diguyur hujan sama sekali. Perbedaan cuaca ini bukanlah hal yang aneh. Padahal ini masih di Jawa Tengah belum di Kalimantan nantinya.
Semoga perjalanan ini bermanfaat dan menyenangkan bagiku dan bagi PMII ke depannya. Dibalik kesenanganku ini, saya masih memiliki agenda besar yaitu Pemillu Raya (Pemira) UNS yang dilaksanakan besok pagi. Entah teman-temanku tahu atau tidak kalau saya yang mencalonkan diri ini malah pergi ke Kalimantan. Kalau tahu mungkinkah mereka akan marah kepadaku?
Sempat juga panitia memeberikan bungkusan nasi dan aneka jajanan kepada rombongan kongres. Saya bersama Umar yang duduk paling belakang mendapatkan jatah paling akhir. Inilah konsekuensi duduk di belakang. Untuk mengisi kekosongan, berbagai obrolan juga mewarnai perjalanan menuju Surabaya. Entah itu tentang politik, sosial, budaya, asmara dan masih banyak tema obrolan lainnya.
Di bus ini sebenarnya waktu menunggu saya ingin gunakan untuk menulis. Tapi sepertinya ini tidak bisa terus saya lakukan karena batrei notebook-ku sudah akan habis. Hehe… Jadi kemungkinan adalah diganti menulis menggunakan buku tulis sebagai medianya.
Ditulis di Demak, dalam perjalanan menuju Surabaya, Senin (7/3) pukul 20.00 WIB

Ketika Akan berangkat Kongres

Menjelang keberangkatanku ke acara Kongres PMII di Banjarmasin, saya sudah menyiapkan semuanya. Terutama adalah urusan di kampus.
Senin (7/3) pagi saya sudah siap berangkat ke kampus. Memasuki kampus, suasananya begitu tenag. Tidak banyak mahasiswa yang berkeliaran di luar seperti hari biasanya. Mungkinkah ini karena dampak dari adanya hari tenang dalam Pemilu Raya (Pemira) UNS. Ini adalah hari tenang sebelum dilakukan pemungutan suara Selasa (8/3) besok.
Hari tenang adalah hari di mana tidak diperbolehkan ada kampanye maupun kegitan politik lainnya. Idealnya memang demikian. Tapi saya yakin bahwa di balik layar justru di hari tenang ini agenda politik biasanya gencar dilakukan. Entah itu melalui sms atau sekadar pemberitahuan saja.
Tujuan utamaku ke kampus adalah menyelesaikan urusan beasiswa yang masih tersendat. Ini adalah kesempatan terakhirku untuk mengajukan beasiswa. Maklumlah sudah semester tua. Sudah tua, masih saja memikirkan beasiswa. Hehe…. Dan tidak butuh waktu lama akhirnya urusan itu selesai juga. Syukurlah kalau begitu.
Saat mengumpulkan berkas beasiswa, bu Yuni, salah seorang karyawan di bagian pendidikan menyuruhku untuk mendatangkan sedikitnya 20 pengurus LPM Kalpadruma pada 17 Maret mendatang. Dia akan mengajak LPM ini untuk berdiskusi mengenai aliran dana Iuran Orangtua Mahasiswa (IOM). Saya sih menyanggupinya. Kan cuma menyampaikan saja. Masalah bisa datang atau tidak itu urusan belakang.
Sebelum berangkat ke kampus, ada beberapa orang yang menanyakan tentang keberangkatan ke acara Kongres PMII. Ada yang bingung, dan ada yang sekadar bertanya mau berangkat kapan. Secara pribadi saya tidak begitu antusias menyambut acara ini, alias bisa saja. Padahal ini adalah acara paling gedhe di PMII.
Dari Solo saya berangkat bersama Zaenal. Dia delegasi dari PMII Pabelan UMS. Rencanaku saya naek bis menuju Semarang, bukan naik motor. Ini lebih baik karena untuk menjaga keamanan. Waktu sudah semakin siang. Saatnya berangkat ke kantor PMII Cabang di Laweyan.
Belum sampai meninggalkan tempat hotsport di FSSR, Farid, salah seorang temanku memberitahukan bahwa PKM-GT yang dia buat sudah selesai di tandatangani oleh Pembantu Rektor (PR) III. Berarti sudah selesai semua urusanku. Oh ya, masih ada satu lagi yaitu, masalah KRS-an (edisi) revisi. Sebenarnya sudah saya pasrahkan semua itu kepada Lilik, temaku satu angkatan. Saya sudah menitipkan semua keperluan revisi. Saya harap saat saya tinggalkan semua, keadaan di Solo baik-baik saja. Entah itu perkuliahan atau urusan organisasi. Semoga sukses dan bermanfaat. Amin….Ditulis di FSSR UNS, Senin (7/3) pukul 09.15 WIB

pra Kongres PMII

Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dilaksanakan sebentar lagi. Berbagai macam persiapan pun dilakukan untuk menyambut acara akbar tersebut. Kongres kali ini dilaksanakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada tanggal 9-14 Maret 2011.
Dari PMII Solo juga tidak luput geger untuk mempersiapkan kader-kader (terbaiknya) untuk datang ke acara tersebut. Biaya masih menjadi kendala utama dalam acara tersebut. Meskipun demikian, akhirnya diputuskan lima orang yang berangkat ke Kongres tersebut.
Dalam Kongres yang bertajuk Satu Pergerakan Untuk Kejayaan Indonesia itu selain mengevaluasi kinerja kepengurusan selama satu periode atau dua tahun, juga sebuah forum untuk memilih Ketua Pengurus Besar (PB) PMII baru. Rencanaku saya juga ikut ke acara besar tersebut. Saya sendiri sempat kecewa dengan keputusan ketua umum (ketum) PMII Solo, Agus Riyanto. Pasalnya dia lebih mengutamakan keterwakilan perempuan daripada kualitas. Dia menginginkan agar dari Solo ada delegasi perempuan. Dan rencananya adalah perempuan yang masih sangat awam dengan PMII.
Saya sebagai ketua PMII Komisariat Kentingan pun merasa berhak untuk menentukan siapa delegasi dari Komisariat Kentingan yang tepat untuk bisa ikut dalam acara akbar tersebut. Yang penting adalah jangan anggota baru. Alasannya karena di forum kongres adalah forum nasional yang sangat jauh dari jiwa intelektualitas, apalagi mengedepankan prinsip keagamaan. Bisa jadi anggota yang masih awam akan shock dengan forum kongres dan (takutnya) memiliki penilaian lain (negatif) terhadap PMII.
Isu kongres PMII juga terasa di kamar Om Din, Sekarpace, Solo. Selasa (1/3) malam saya dengan Omku sedikit banyak menyinggung isu kongres yang akan dilaksanakan di Kalimantan tanggal 9 sampai 15 Maret mendatang. Dia menceritakan pengalamannya dulu sewaktu menjadi ketua Pengurus Kordinator Cabang (PKC) Jawa Tengah. Sholahudin menyesalkan sikap salah seorang kandidat yang sering melakukan penculikan ketua cabang. “Penculikan sering dilakukan dan sering pula dengan ada intimidasi,” kenangnya.
Sebentar lagi, lanjutnya, di Jawa Tengah akan ada deklarasi PMII Cabang untuk menolak pencalonan salah seorang kandidat sebagi Pengurus Besar (PB) PMII periode mendatang. “Dalam waktu dekat ini akan ada deklarasi itu,” terangnya.
Dia juga menyarankan kepada Ketum PMII Solo untuk tidak membawa kader dalam jumlah besar. Alasannya, lebih baik dana yang ada digunakan untuk kegiatan organisasi. Dana yang ada akan menjadi lebih bermanfaat daripada harus dibuang dalam ajang Kongres PMII di Banjarmasin.
Saat saya tanya terkait keuntungan menjadi Ketua PB PMII, Sholahuddin menjelaskan bahwa menjadi ketua umum di sebuah organisasi yang besar akan mempermudah untuk melakukan lobi-lobi dengan pejabat atau tokoh penting lainnya. “Apabila menjadi pejabat negara juga akan membawa nama organisasi juga,” tuturnya.
Dari keuntungan menjadi Ketum sebuah organisasi besar, dia menyayangkan sikap yang kurang sopan ketika dilakukan pemilihan ketua di ajang Kongres. Banyak kader PMII yang tidak mengedepankan sikap sebagai seorang yang berjiwa intelektual.
Dalam acara Kongres PMII, kalau bisa berangkat itu sudah bisa dipastikan bisa untuk pulang. “Para alumni PMII itu tidak tega kalau melihat ada kader PMII yang terlantar,” tegas Sholahuddin.
Ditulis di Sekre PMII, Selasa (1/3) pukul 22.00 WIB