Minggu, 29 September 2013

Retribusi Pacaran

Suatu malam saya diajak teman untuk menikmati jajan bakso bakar di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Beberapa tahun belakangan pedagang kaki lima menjamur di sepanjang jalan kampus seni ini. Bakso bakar menjadi salah satu makanan primadona, tidak hanya bagi anak-anak tetapi juga mahasiswa dan orang dewasa. Ada yang menarik ketika kami sedang membeli bakso bakar. Berbeda dengan kampus lainnya, di ISI khusus setiap malam terdapat juru parkir yang memungut biaya keamanan bagi siapa saja yang nongkrong di sana. Jajan atau tidak, setiap kendaraan yang berhenti (baca: parkir) akan dikenakan biaya Rp 1000. Tak terkecuali dengan kami. Sebagian besar pembeli di tempat ini adalah anak-anak muda yang kemungkinan adalah mahasiswa. Suasana kampus yang nyaman dan asyik di malam hari menjadikan mereka menjadikan tempat ini sebagai pilihan untuk bersantai, apalagi dengan pacar. Umumnya setelah membeli jajanan, pembeli akan meninggalkan motornya dan nongkrong di arena panggung terbuka. Ketika kendaraan ditinggal itulah juru parkir datang dan meminta uang parkir atau lebih tepatnya retribusi pacaran. Tak terkecuali dengan kami. Setelah meninggalkan motor, juru parkir yang berada di jauh mulai mendekat. Ia kemudian menata kendaraan. Padahal ya sebenarnya tidak ada masalah dengan posisi parkir kami. Akan tetapi untuk menunjukkan perhatiannya, ia menata motor. Setelah itu ia mendekat dan memberikan karcis parkir. Tertulis dalam karcis itu parkir Zona E dengan tarif Rp 1000. Setelah kami memberi uang keamanan, juru parkir itu pergi meninggalkan kami, terkesan membiarkan saja. Juru parkir itu kemudian beralih kepada pembeli lainnya. Yang dilakukan sama, menata kendaraan kemudian meminta jatah. Lumayan sebenarnya jika halaman kampus cukup begitu luas dan ramai kemudian dijadikan kawasan parkir semua. Tentunya hasilnya cukup untuk mendapatkan nafkah yang layak. Menurut temanku, parkir semacam ini adalah “seni mengemis.” Aturan Parkir Di Kota Solo sejak tahun 2012 telah mencanangkan zona parkir yang berbeda di setiap lokasi. Penerapan tarif yang berbeda ini dimaksudkan pengendali lalu lintas atau lebih tepatnya mengurangi kemacetan yang tidak dapat dihindarkan lagi. Aturan ini kemudian diatur dalam Perda No. 9/2011 tentang Retribusi Daerah. Terdapat lima jenis tarif parkir di Solo, yaitu zona A, B, C, D, dan E. akan tetapi dua zona pertama (A dan B) belum dapat direalisasikan karena masih menunggu perbaikan infrastuktur dan perbaikan zona parkir yang sudah ditetapkan. Sebelum tarif parkir Zona A dan B ditetapkan, tarif parkir paling mahal ada di Zona C diberlakukan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo. Di jalur ini tarif yang ditetapkan untuk sepeda, andong, atau becak sebesar Rp 500, sepeda motor Rp 2000, mobil Rp 3.000, bus sedang Rp 5000, dan bus besar Rp 7000. Sedangkan tarif di Zona D dan E relatif lebih murah. Berdasarkan APBD 2013 target pendapatan UPTD Perparkiran adalah Rp 3,125 miliar. Namun target itu direvisi menjadi Rp 3,225 miliar berdasarkan APBD Perubahan (Solopos, 29/9/2013). adanya kebijakan ini diharapkan dapat menekan angka kemacetan di Kota Bengawan yang beberapa tahun terahir sangat padat kendaraan. Selain itu, dengan aturan ini juga diharapkan dapat memacu masyarakat untuk beralih ke angkutan umum. Ironis dengan apa yang menjadi kebijakan Pemkot Solo. Pasalnya pemerintah pusat belum lama ini pemerintah pusat membuat kebijakan yang kontradiktif dengan menerbitkan PP No. 41/2013 tentang mobil murah yang konon ramah lingkungan atau low cost and green car (LCGC). Pemerintah pusat seharusnya justru mendukung apa yang dilakukan pemerintah daerah yaitu dengan mempercepat pengadaan sistem transportasi massal yang murah dan (mungkin) juga ramah lingkungan. Banyak yang memsan mobil murah dengan harga di bawah Rp 100 juta ini indikator nyata dan menjadi ancaman kemacetan bukan lagi omong kosong. Entahlah... Solo, 30 September 2013

Sabtu, 28 September 2013

Semacam Kesempatan

Setiap orang diberikan kesempatan yang sama untuk hidup 24 jam setiap hari. Akan tetapi dalam memanfaatkannya, masing-masing orang berbeda. Perbedaan itu tidak lepas dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki tentang waktu. Dalam kehidupan ini, semua aktivitas manusia tidak dapat dilepaskan dari dimensi waktu. Setiap orang bergerak dan hidup bersama dengan waktu. Disadari atau tidak, semuanya membutuhkan waktu. Kejayaan, kekayaan, ketampanan, kecantikan, jabatan, dan semuanya membutuhkan waktu. Tanpa waktu yang tepat semuanya tidak memiliki arti apa-apa. Kemarin, tadi adalah ungkapan untuk menyebut masa lalu dan itu sudah tidak dapat diulang, apalagi diharapkan kembali lagi. Yang bisa dilakukan dari masa lalu adalah dengan mengubah persepsi saja, bukan masuk untuk kembali. Sedangkan nanti atau besok adalah ungkapan yang menyatakan kesempatan yang belum dapat digapai. Masa depan bersifat abstrak dan hanya dapat direncanakan bukan dijalani. Kita tidak bisa masuk sebelum waktunya tiba. Yang dimiliki manusia adalah sekarang, saat ini. Sudah berapa kali kita mengatakan “Begitu cepatnya waktu.” Jangankan sehari, tanpa orientasi yang jelas, waktu satu tahun dapat berjalan begitu cepatnya seakan tidak terasa. Waktu akan terus berjalan maju meninggalkan semua yang dilewatinya, termasuk kita. Waktu tidak peduli dengan apa yang dilakukan manusia, ia hanya berjalan lurus tak kenal kompromi. Semuanya hanya sekali terjadi. Ketika harus dikatakan berulang, itu hanya kemiripan pola saja, bukan waktu. Pagi hari ini berbeda dengan pagi kemarin, begitu juga seterusnya. Dulu kita pernah mengenal berbagai kejayaan dan peradaban besar di masa lalu, tetapi semuanya kini tinggal cerita dan ditinggalkan oleh waktu. Masih beruntung ada sesuatu yang ditinggalkan berupa karya sehingga masih dapat dikenang dan kembali diceritakan bahkan sampai sekarang. Begitu juga dengan kita kelak. Menembus Batas Satu hal lain yang senantiasa hadir bersama waktu adalah tempat. Antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Di mana ada tempat di situ ada waktu, begitu pula sebaliknya. Keduanya adalah sebuah kesempatan. Apa yang kita jalani sekarang sebenarnya adalah satu di antara dua dunia yang ada. Kehidupan di dunia bersifat sementara saja, tidak kekal. Sehingga apapun yang dimiliki dan dirasakan akan hilang. Sedangkan kehidupan setelah dunia (baca: akherat) bersifat kekal, termasuk apa saja yang ada bersamanya. Manusia tinggal di dunia memiliki batasan waktu tertentu, yang berbeda dengan kehidupan setelahnya. Waktu lagi-lagi hadir bersama, menembus batas dua dunia. Sekali lagi, ia tidak dapat kembali, tetapi terus maju dan kekal. Di dalam kehadiran waktu yang bersifat kekal terdapat banyak pelajaran dan kesempatan yang dapat kita ambil untuk menjadikan hidup selalu menjadi lebih baik. Tidak hanya di satu kehidupan saja, tetapi pada kedua-duanya. Solo, 29 September 2013

Jumat, 20 September 2013

Antara Kerja dan Belajar

Waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB. Ia belum dapat memejamkan mata. Entah mengapa di malam itu ada motivasi besar di dalam dirinya untuk segera menyelesaikan malam dan melakukan apa yang dapat dikerjakan esok hari. Antara kerja dan belajar. Ada begitu banyak rencana yang akan dilakukan esok hari. Semuanya menumpuk di dalam kepala. Tidak ingin semangat itu menguap dan hilang, ia pun memutuskan untuk sekadar menuliskan di netbook agar semuanya tidak menumpuk di dalam kepala. Akan tetapi yang masih mengganggu adalah antara pekerjaan dan kegiatan belajarnya. Selesai kuliah (S1) bukan berati minat untuk belajar sudah terhenti dan putus. Yang ia rasakan justru sebaliknya. Meski sudah menyandang gelar sebagai seorang sarjana, akan tetapi pemahaman tentang sastra masih sangat minim, bahkan minus. Ia pun ingin belajar lebih lanjut tentang sastra, tentang aksara, membaca dan menulis. Tidak hanya itu, bahasa asing (English) juga ingin dipelajarinya kembali. Ia berfikir, belajar bahasa ini sejak sekolah dasar sampai di bangku kuliah, tetapi belum bisa juga berkomunikasi dengan baik. Apakah selama ini belajar hanya untuk mengejar nilai dan lulus ujian saja? Entahlah. Yang dia rasakan, semakin banyak belajar semakin menunjukkan betapa bodohnya manusia, tak terkecuali dirinya. Apakah wajar jika seseorang itu membanggakan ilmu yang dimiliki padahal di luar sana masih ada samudera ilmu yang lebih luas. Dan apakah kepandaian dan keberuntungan yang didapatkan adalah murni jerih payahnya, tentu bukan. Pikirannya pun kembali pada pekerjaan yang belum lama ini ditawarkan pada dirinya. Kebetulan saja waktunya bersamaan dengan rencana kegiatan belajar bahasa asing. Baginya, keduanya memiliki manfaat strategis. Di satu sisi, pekerjaan yang ditawarkan cukup menjanjikan karena menjadi Litbang di salah satu media lokal di Kota Solo. Dari pekerjaan itu ia dapat belajar banyak tentang dunia penelitian. Di sisi lain, bahasa asing adalah ilmu alat yang dapat menjadi salah satu kunci menjelajahi dunia. Terlebih lagi, ia sudah merencanakan sampai akhir tahun 2013 orientasi kegiatannya adalah belajar. Tidak ingin larut dalam kebingungan itu, ia pun lebih memilih untuk membaca buku dengan harapan rasa kantuk segera datang dan tidur. Semua pilihan akan memberikan konsekuensi yang berbeda. Tentunya Tuhan juga akan memberikan petunjuk dan banyak tanda yang akan mengarahkan apakah tetap melanjutkan rencana awal atau sebaliknya. Dijalani saja dengan ikhlas. Semoga diberikan pilihan yang terbaik. Bukankah hidup ini tidak hanya hitam dan putih saja, masih banyak alternatif lainnya. Solo, 18 September 2013

Rabu, 18 September 2013

PNS Pilih Orang-Orang Bejo

Bulan September ini banyak orang mencari informasi seputar penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Lowongan ini selalu ramai dan menjadi favorit waktu ke waktu. Kehidupan yang mapan dan adanya tunjangan dana pensiun menjadikan daya tarik tersendiri sehingga kesempatan ini banyak ditunggu-tunggu. Tahun ini ada begitu banyak instansi pemerintahan maupun kementerian yang membuka kesempatan menjadi abdi negara. Lulusan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta menjadi peminat terbesar lowongan bursa kerja ini. Dengan modal ijasah dan pas photo, seorang sarjana dari berbagai tingkatan dapat mendaftarkan diri secara online. Ada juga beberapa instansi yang sekaligus menyaratkan untuk melampirkan (upload) surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) dan Kartu Kuning dari Disnaker. Mendadak dua instansi tersebut ramai dikunjungi para calon pelamar untuk meminta surat-surat yang diperlukan. Buku-buku seputar sukses CPNS pun laris manis di pasaran. Cukup mencengangkan, karena dari waktu ke waktu lowongan yang ditawarkan selalu tidak sebanding dengan jumlah peminat yang ada. Misalnya saja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Total CPNS yang ditawarkan adalah 250 dengan berbagai jabatan. Akan tetapi di awal bulan jumlah pelamar sudah mencapai ribuan orang. Jumlah tersebut masih berpotensi untuk terus meningkat sampai pendaftaran ditutup pada pertengahan bulan ini. Berdasarkan formasi yang tersedia di setiap instansi, rata-rata yang dibutuhkan hanya satu CPNS saja. Ada beberapa yang membutuhkan lebih dari itu, tapi tidak sampai hitungan sepuluh. Persaingan di antara pelamar pun sangat ketat. Tentunya seorang pelamar harus berjuang keras agar dapat ‘mengalahkan’ pelamar lainnya. Persaingannya pun lebih ketat daripada memperebutkan kursi di dewan dalam bursa pemilihan umum. Berdasarkan survei yang dikutip dari keuntungan menjadi pns. html menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan. Sebanyak 60% para peserta tes CPNS adalah orang yang berniat mencoba-coba peruntungannya, atau mungkin mereka sudah penya pekerjaan tetapi tetap mencoba tes karena siapa tahu dapat lolos tes CPNS dan mampu memperbaiki taraf hidup. Sebanyak 20% peserta tes CPNS adalah mereka yang baru lulus kuliah (fresh graduate) dan tentunya ingatan serta semangatnya masih sangat segar. Harapan yang masih besar menatap masa depan inilah yang menjadikan mereka bersemangat untuk mencobanya. Sebanyak 10% peserta tes CPNS adalah orang yang merasa dirinya pasti lulus dan menganggap tes ini hanya formalitas saja. Misalnya karena dia sudah lama menjadi honorer yang memang sudah ada tempat untuknya atau karena hal lainnya. Dan kurang dari 10% orang yang memang bersungguh-sungguh belajar dan mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan tempat menjadi abdi negara. Fakta di atas memang bisa dibenarkan karena di LIPI saja dari total pelamar 8.188 per 12 September 2013 hanya ada 65 pelamar yang lolos verifikasi berkas. Artinya seluruh datanya lengkap. Sedangkan jumlah tersebut hanya ada 46 pelamar yang berkesempatan mengikuti tes CPNS. Kesempatan ini tentunya diberikan bagi mereka yang memenuhi persyaratan sebagaimana yang tercantum dalam formasi pendaftaran. Dapat disimpulkan bahwa ribuan calon pendaftar sebagian besar adalah coba-coba. Hal semacam ini juga terjadi pada depatemen lain seperti BKKBN, Kemensos, dan mungkin semua lembaga yang membuka CPNS. Wiraswasta Siapa yang tidak tergur menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dengan beragam fasilitas yang diberikan negara. PNS banyak diburu karena ada anggapan bahwa dengan menjadi abdi negara akan mendapatkan jaminan hidup, utamanya dalam bidang ekonomi. Beberapa (lagi) keuntungan menjadi PNS, di antaranya, mempunyai posisi yang kuat dan jaminan keamanan kerja karena diangkat dengan SK meneteri, gubernur, bupati atau walikota; kepastian gaji dan standar gaji tinggi ditmabah dengan berbagai tunjangan, baik tunjangan fungsional maupun jabatan; tidak ada PHK; jenjang kepangkatan yang jelas dan diatur oleh Undang-undang; peluang yang besar untuk berbagai promosi jabatan; peluang untuk mengikuti peningkatan SDM baik training maupun pendidika yang tinggi; dan adanya dana pensiunan yang dijam oleh pemerintah. Tidak mengherankan jika aneka fasilitas yang diberikan menjadikan dari waktu ke waktu lowongan menjadi pegawai negeri tidak pernah sepi peminat. Bahkan tidak jarang kesempatan ini menjadikan sebagian pelamar rela membayar ‘mahar’ terlebih dahulu untuk mendapatkan posisi yang diinginkan. Dan menjadi sebuah keprihatinan tersendiri karena kehidupan abdi negara lebih terjamin dan mapan daripada kelompok yang dilayani, yakni masyarakat. Ada yang berpendapat kehidupan PNS lebih terjamin daripada wiraswasta. Menurut penulis, PNS atau wiraswasta adalah sebuah pilihan. Dan masing-masing pilihan mempunyai alasan dan konsekuensi berbeda. Sebagian orang dengan menjadi PNS hidup akan terjamin kesejahteraannya dari segi ekonomi. Setiap hari mereka berangkat kerja dengan pakaian rapi dan jam yang tetap. Semuanya terkesan teratur. Meski demikian ada juga pegawai yang melepas status kepegawaiannya karena lebih ingin meneruskan kariernya. Sebagian lagi memilih wiraswasta karena menganggap PNS adalah pekerjaan yang mengekang kebebasan seseorang. Setiap hari para abdi negara bergerak, berkerja sebagaimana robot. Hanya rutinitas yang dijalankan, minim sesuatu yang baru. Tentunya pilihan ini tidak lepas dari sudut pandang dan pengalaman setiap orang yang berbeda-beda. Sekali lagi, ini adalah pilihan dan masing-masing mempunyai konsekuensi berbeda. Menyikapi perbedaan pendapat ini, penulis berpendapat, entah itu PNS atau masyarakat biasa, antara keduanya mempunyai tugas yang sama, yaitu sama-sama menjadi warga negara yang baik. Ketika menjadi pegawai, jadilah pelayan yang baik bagi masyarakat. Karena berbagai fasilitas yang diberikan termasuk dana pensiunan adalah himpunan uang dari masyarakat. Begitu juga masyarakat sebagai pengguna layanan setidaknya juga tahu kewajiban dan hak-haknya sebagai warga negara. Ketimpangan status semacam ini dapat dilihat dari instansi pemerintahan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ketika warga mengurus keperluan di instansi yang bersangkutan masih sering terdengar bisik-bisik bahwa pelayanannya lambat, dipersulit dan lain sebagainya. Tentunya sebagai pelayan masyarakat para pegawai juga tahu dan sadar bahwa masyarakat yang mereka layani memiliki berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Jadi tidak bisa dipukul rata. Memang ada yang butuh pelayanan khusus dan biasa. Layanilah masyarakat dengan mudah dan cepat. Toh, berbagai berbagai tunjangan yang diterima adalah uang masyarakat juga. Kalau bisa dipercepat mengapa harus dipersulit. Prinsip “orang pintar kalah dengan orang bejo” mungkin yang menjadi spirit dari mereka yang mendaftar sebagai CPNS. Banyaknya pesaing tidak menjadi penghalang untuk maju terus memperjuangkan impian, menjadi pelayan masyarakat. Memang, tidak ada salahnya untuk mencoba, apalagi tanpa ada pungutan biaya alias gratis. Dan pelamar tidak tahu hasilnya, lolos seleksi atau tidak kalau tidak dicoba. Sudah selayaknya jika perjuangan panjang menuju kursi PNS juga dibayar setimpal. Bukan dengan korupsi atau memperkaya diri, tetapi dengan menjadi orang bejo yang melayani masyarakat atau kepentingan bangsa ini dengan baik dan bertanggung jawab. Selamat mencoba, semoga menjadi orang-orang yang Bejo. Dimuat di Joglosemar, Kamis 19 September 2013

Minggu, 15 September 2013

Mari Kembali Pada Buku

Sejak kapan mulai mengoleksi buku, saya lupa tepatnya kapan. Yang jelas sebelum kuliah hampir tidak pernah saya memiliki buku bacaan, apalagi membacanya. Ketika kuliah di jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UNS tahun 2007 perlahan-lahan saya mulai mencintai buku bacaan. Sewaktu kuliah, membeli buku menjadi bagian dari aktivitas rutin. Setiap bulan diagendakan untuk membeli buku. Tidak lupa buku-buku yang dimiliki disampul dengan plastik mika. Bagiku, menyampul buku adalah salah satu bentuk penghormatan pada buku. Selain itu masih banyak, misalnya membaca sampai selesai, meresensinya, mendiskusikannya, dan masih banyak lainnya. Pertimbanganku, ketika belum bisa menghormati buku sepenuhnya, bukan berate lantas tidak mau membeli buku. Selain membeli buku setiap bulan, ada juga momentum yang tepat untuk belaja buku dalam jumlah banyak. Momentum itu tidak lain adalah “Pameran Buku.” Setiap ada pameran buku murah di Solo, hampir saya tidak pernah absen mengunjunginya. Dan membeli buku tentunya. Sebagai peminat buku yang masih awam, kualitas buku atau siapa penulisnya belum menjadi pertimbangan utama. Yang terpenting adalah buku tebal dan banyak serta harganya terjangkau. Bahkan sampai sekarang terkdang pertimbangan itu masih dipakai ketika membeli buku. Sudah cukup lama mempunyai koleksi buku, tetapi hanya beberapa buku saja yang mampu saya sampai tuntas. Sisanya hanya tertata di rak buku sampai banyak ditumpuki debu. Di tengah kesibukan yang cukup padat menjadikan aktivitas (baca: tradisi) membaca buku berkurang, bahkan hilang. Padahal membaca adalah jendelanya ilmu. Artinya, semakin banyak buku yang dibaca, apapun itu, akan menambah wawasan seseorang. Kondisi itu berlangsung cukup lama. Pelan tapi pasti, bulan demi bulan tak satu pun buku yang rampung dibaca. Padahal dulu sempat ada komitmen untuk (selalu) membaca buku utamanya koleksi pribadi. Di waktu luang hanya mampu membaca buku beberapa halaman saja dan itu sering berganti-ganti. Ibaratnya saya hanya menjadi penjaga perpustakaan. Mari Baca Lagi..! Ada sebuah motivasi dalam diriku untuk kembali menyambangi buku-buku yang tertata rapi di rak, minimal membersihkannya dari debu. Tumbuhnya semangat untuk membaca buku-buku yang belum terbaca ini ketika salah seorang teman memberikan tiga buah buku sebagai kado ulang tahun. Dari tiga buku itu, saya menemukan jawaban pentingnya membaca dan mengapa harus membaca. Tidak butuh waktu lama, tiga buku saya lahap dalam waktu singkat, tidak sampai sepekan. Entah mengapa setelah membaca tiga buku di atas, tumbuh kembali di dalam hati untuk meniru jejak sang penulis. Mungkin karena ada sedikit kesamaan dengannya yaitu sebagai jurnalis dan pernah bergiat di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Memang masih banyak kurang darinya, dua di antaranya adalah tradisi membaca buku (sastra) dan kemampuan menulisnya. Akan tetapi jika mau bukan berarti saya tidak bisa seperti dia. Saya pun punya kesempatan untuk meniru dan mengejar ketertinggalan ini. Membaca buku, utamanya adalah sastra mempu memberikan ruh dalam kehidupan ini. Sastra tidak memberikan hasil berupa materi, tetapi rasa yang menjadi spirit untuk menjadikan hidup lebih berwarna. Membaca buku adalah rekreasi di dunia kata-kata yang penuh makna. Buku berisi teks yang dapat membawa pembacanya menemukan kenikmatan. Sebagai pembaca bebas menikmati teks sesuka hati. Buku membentangkan sebuah kisah panjang, menjadi teman dialog, menumbuhkan semangat, mengundang kepiluan, menertawakan hidup, mempertanyakan makna masa depan, dan entah apa lagi. Mari membiasakan diri membaca buku dan juga menulis catatan. Solo, 6 September 2013

Ternyata Masih Bodoh

Obrolan atau mahasiswa sering menyebutnya diskusi merupakan forum untuk saling adu pendapat, adu pemikiran. Perang pemikiran untuk saling menjatuhkan atau saling melengkapi dapat dinikmati dalam diskusi. Diksusi merupakan forum untuk saling berdialektika dalam pemikiran. Pagi itu, dua orang teman datang ke kosku. Ada keperluan yang hendak diselesaikan, yakni bisnis. Salah seorang temanku ingin memulai bisnis minuman di kampus. Menurutnya bisnis ini mempunyai prospek menjanjikan karena belum ada di lingkungan kampus. Tapi namanya bisnis harus dicoba, bukan dibayangkan saja. Tentu tidak hanya ingin membicarakan urusan ‘duit’ saja, selesai urusan bisnis, saya pun mengajak ngobrol dengan tema-tema lain. Kebetulan temanku ini adalah alumni dari Kampung Inggris di Pare, Kediri. Ia banyak menceritakan pengalamannya belajar bahasa Inggris sana beberapa bulan lalu. Berkat skill-nya itu ia juga pernah mendapatkan kesempatan (baca: proyek) besar selama beberapa bulan. Bahkan hasilnya itu dapat digunakan untuk membiayai pendidikan pasca sarjana di UNS Solo. Tentu buka semata-mata uang yang menjadikan semangat untuk belajar bahasa asing. Uang hanya menjadi akibat dari sebab seseorang yang menguasai di bidang tertentu. Memang tidak jarang, uang juga menjadi motivasi seseorang untuk menguasai bidang ilmu tertentu, termasuk bahasa Inggris. Bahasa pun mempunyai dunianya sendiri, begitu pula dengan ilmu-ilmu lainnya. Semakin lama obrolan ada banyak ragam cerita dari teman-teman yang pandai berbahasa Inggris. Ada yang menjadi dosen di salah satu kampus negeri, membuka kursus, belajar ke luar negeri, dan masih banyak cerita menarik lainnya. “Semakin lama ngobrol, semakin menjadikan kita bodoh. Ternyata masih begitu banyak hal yang belum diketahui, apalagi dikuasai.” Tentunya kebodohan yang sudah disadari ini tidak dibiarkan menguap dan kemudian berpangku tangan. Justru dengan kesadaran bahwa kita masih bodoh dapat menjadi motivasi besar untuk senantiasa belajar dan belajar. Bukankah dalam agama (Islam) juga menekankan arti pentingnya belajar. Saya, kita, dan mungkin Anda mari senantiasa belajar… Dilema Indonesia Ada sebuah cerita bahwa ada seorang pelajar Indonesia yang mendapatkan beasiswa ke Jepang. Tahun pertama mahasiswa ini masih diperbolehkan untuk menggunakan bahasa Inggris. Akan tetapi pada tahun selanjutnya diwajibkan menggunakan bahasa Jepang. Negeri ini masih mempercayai bahwa bahasa nasional mereka layak untuk dipertahankan. Lantas, bagaimanakah dengan Indonesia? Begitu banyak generasi muda negeri ini berbondong-bondong belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dengan beragam motivasi. Tentu tidak ada yang salah dari semangat mereka untuk belajar. Akan tetapi sedikit disayangkan jika bahasa nasional mereka, bahkan bahasa daerah (baca: bahasa Ibu) kemudian dilupakan begitu saja. Bisa dihitung berapa generasi muda yang mampu berbicara dengan bahasa daerah dengan baik dan benar. “Bolehlah berfikiran atau melangkah global, akan tetapi kan tidak harus dibarengi dengan menghilangkan nilai-nilai lokal, kearifan yang ada di negeri sendiri.” Jepang berani membuat kebijakan demikian karena negeri Matahari Terbit ini mempunya daya tawar tinggi. Banyak sektor negeri ini mempunyai prestasi. Sebenarnya Indonesia pun bisa menjadikan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah tetap dipertahankan keberadaannya di tengah gempuran globalisasi seperti saat ini. Akan tetapi ini membutuhkan proses yang panjang. Mungkin dengan melihat sesuatu yang gemerlap di luar sana akan menjadikan kita buta dengan beragam potensi yang ada di negeri ini. Akibantya, masyarakat kita dari waktu ke waktu semakin tercerabut dari akar tradisinya. Mungkin dari sinilah nilai-nilai cinta pada negeri sendiri mulai luntur dan perlahan-lahan hilang. Sehingga yang terjadi Indonesia saat ini.. Mendiskusikan berbagai permasalahan, apapun itu, akan menjadikan kita semakin bodoh. Ternyata begitu banyak hal yang belum kita ketahui. Semakin banyak belajar akan semakin terlihat dan terasa kebodohan kita. Mumpung masih ada kesempatan, mari belajar. Meski bodoh kan mau belajar. Solo, 14 September 2013

Semacam Memilih Buku

Menceritakan tentang desa lengkap dan beragam potensi serta sejarahnya. Itulah yang dicertitakan dalam novel yang belum lama ia selesaikan baca. Di dalamnya menjelaskan bagimana perjalanan tradisi pembuatan gerabah sebagai komoditas utama masyarakat desa Kasongan, Yogyakarta. Pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda masyarakat diwajibkan untuk menyerahkan sebagian hasil pertaniannya untuk pemerintah. Tidak ingin teru-menerus menjadi ‘budak’ pemerintah, kemudian oleh Kiai Song, salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro menyiasati dengan mengubah mata pencaharian warga. Membuat gerabah menjadi mata pencaharian utama, tidak lagi menjadi petani. Novel ini menjelaskan dinamika usaha gerabah berserta kondisi sosial ekonomi dan politik masyarakat. Persaingan dan saling sikut antar pengrajin dijelaskan cukup mendetail. Bagaimana watak para pengunjung juga tidak luput dari pembahasan. Setelah dikunjungi Presiden, nama Kasongan semakin populer. Sampai juga di desa tersebut didirikan museum untuk mengukuhkan desa tersebut sebagai pusat pengrajin aneka gerabah. Singkatnya, kegemilangan desa ini kemudian surut ketika terjadi gempa berskala 5,6 SR pada Mei 2006. Seluruh pengusaha gerabah mengalami kerugian luar biasa. Pelan tapi pasti, mereka dapat bangkit dari keterpurukan. Dan sampai sekarang desa tersebut tetap menjadi penghasil gerabah. Itulah cerita penulis novel yang menjadi semacam etnografi Kasongan. Sampai Selesai Membaca novel, apalagi yang memiliki ketebalan 400 halaman merupakan tantangan tersendiri. Menjadi sebuah pengalaman berharga ketika membaca buku tetapi jauh dari apa yang diharapkan. Selama membaca novel ini ada beragam ekspresi yang keluar. Rata-rata mengungkapkan “ingin segera selesai.” Tentunya hal ini sangat beralasan. Membaca buku yang tebal dan sudah sampai di tengah, tetapi belum juga menemukan sesuatu yang menarik. Semuanya terkesan datar-datar saja. Akan tetapi dengan tetap bersabar dan terkadang melompat beberapa halaman, akhirnya ia selesaikan juga. Dari aktivitas membaca ini, selain untuk mengisi ruang-ruang kosong, ada juga sebuah pelajaran berharga. Tidak selalu semua yang baik dari sisi cover baik pula isinya. Seringkali apa yang dikatakatakan para komentator (endozer) semuanya persis dari apa yang digambarkan dalam buku atau novel. Dalam dunia bisnis mereka para penulis adalah untuk melegitimasi bahwa buku yang ini layak dibaca. Akhir-akhir ini begitu banyak jenis buku dengan tampilan cover menarik dan isi komentar yang tidak kalah menarik pula. Jika tidak pandai membeli bisa-bisa ‘tertipu’ karena tampilan cover maupun komentar tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sehingga yang terjadi buku yang sudah (terlanjur) dibeli menjadi tak terbaca dan hanya dipajang di rak diberikan kepada orang lain. Di tengah membaca novel ini pun ia merasakan kejenuhan luar biasa. Bahkan kekecewaan. Sekali lagi, ternyata cover dan komentar yang ada tidak sepenuhnya menggambarkan isi novel. Tampilan buku memang menarik tetapi hampa, hanya sederet kata-kata tak bermakna. Meski kurang menarik baginya, tetapi ia teap mempertahankan untuk membacanya sampai selesai. Belajar dari novel dengan standar biasa-bisa saja toh, nyatanya menelurkan pengalaman berharga. Daripada menghabiskan banyak waktu untuk membaca bacaan yang biasa-biasa saja, lebih baik (ke depan) dengan waktu yang sama membaca buku bacaan yang berkualitas. Misalnya saja buku karya Pram, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, dan sastrawan lainnya. Dan setiap orang tentu punya selera dan standar buku yang berbeda-beda. Jika tahu sejak awal, untuk apa menghabiskan durasi waktu yang sama jika tidak menemukan sensasi membaca yang berbeda. Untuk ke depannya, membaca buku pun harus memilih. Bagaimana bisa menyenangkan jika tema buku tidak sesuai dengan selera atau tidak menemukan sesuatu yang berbeda (baca: unik) dari buku lainnya. Bukankah lebih baik beralih ke buku lainnya yang sudah jelas-jelas mumpuni penulisnya. Memilih buku pun tidak boleh terus coba-coba. Tidak jarang cover buku biasa-biasa saja tetapi isinya justru menarik, tetap relevan dengan kondisi sekarang dan masa depan. Mungkin begitu juga dalam memilih jodoh. Jika hanya mempertimbangkan cover dan komentar orang lain, mungkin yang terjadi tidak jauh beda dari apa yang dialaminya. Bisa jadi memutuskan sejak membuka halaman pertama, di tengah atau tetap membaca sampai akhir meski tidak menemukan makna. Dan membaca sampai akhir adalah pilihannya. Solo, 16 september 2013