Minggu, 29 September 2013

Semoga (Menyusul) Jadi Haji Mabrur

Jum’at, 27 September 2013. Pagi hari saya mendapatkan pesan singkat (sms) dari om Din. Ia menawarkan jalan-jalan ke Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Tujuannya tidak lain adalah untuk berpamitan dengan anggota keluarga yang tahun ini berkesempatan berangkat ke Tanah Suci. Ajakan menjadi sesuatu yang perlu diprioritaskan mengingat menjelang keberangkatan saya tidak pulang ke Jepara. Jadi hukumnya ‘wajib’ bagi saya ikut untuk mengantarkan. Sekaligus juga meminta do’a (spesial) agar dapat segera menyusul ke Baitullah. Setelah semuanya siap, kami berdua berangkat menuju asrama haji yang sebenarnya berlokasi di Boyolali, bukan Solo. Sesampainya di sana, terlihat beberapa pedagang mulai membuka dagangannya. Terlihat pula ratusan pengatar jama’ah haji dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Di musim haji seperti saat ini, suasana asrama haji tidak pernah sepi. Ada puluhan pedagang yang siap memenuhi kebutuhan calon jama’ah haji maupun para pengantarnya. Berbagai barang dagangaan dijual, mulai dari kurma, sajadah, mainan anak-anak, dan aneka makanan lainnya. Tetapi yang perlu disadari harganya selangit. Orang Jawa biasanya menyebut “meremo.” Istilah ini untuk menjelaskan kegiatan jual beli yang bersifat momentum alias tidak setiap hari. Misalnya saat musim haji seperti saat ini, atau event besar lainnya. Menunggu kedatangan bulekku, kami menyempatkan untuk sarapan soto di depan pintu gerbang Asrama Haji. Meski sudah lama di Solo, kami tetap berhati-hati dengan harga yang ditetapkan penjual. Pasalnya, tidak ada dicantumkan daftar harga makanan. Di tengah sarapan, saya sempat melihat ada sekelompok pengantar jama’ah haji yang mencoba menawar jajan dodol. Akan tetapi setelah diberitahu harga oleh penjualnya, langsung saja calon pembeli itu pergi tanpa menawar. Bayangkan saja, harga per enam dodol dibandrol Rp 14.000. Begitu juga dengan kami. Sarapan dengan menu soto dan minum teh hangat plus lima kerupuk menghabiskan sekitar Rp 20.000. Tidak lama setelah sarapan dan obrolan ringan, suara peluit terdengar di dekat pintu gerbang. Para petugas keamanan pun bersiap menyambut puluhan bis untuk masuk ke asrama haji. Rombongan itu adalah jama’ah haji kelompok terbang (Kloter) dari Kabupaten Kudus yang tidak lain adalah rombongan bulekku. Langsung saja para pengantar rombongan yang sejak pagi menunggu mendekati bis yang masuk asrama. Akan tetapi di depan gerbang sudah ada petugas keamanan yang berjaga dan melarang para pengantar jama’ah haji masuk. Dengan sabar, mereka pun kembali menunggu. Oleh-Oleh Haji Tahun ini ada dua anggota keluarga besar Bani Ali Hamim yang berangkat ke Tanah Suci. Mereka adalah Iffahdurati (bulek Atik) dan Abdul Khalik (om Khalik). Mereka ikut Kloter kabupaten Kudus, bukan Kabupaten Jepara. Tentu ada banyak alasan mengapa ikut dari kota lain. Kami yang masih duduk di warung makan, harus segera beranjak karena orang yang kami tunggu sudah datang. Kami pun segera mendekat ke pintu gerbang dan mengucapkan salam perpisahan. Sebagaimana para pengantar jama’ah lainnya, kami pun tidak bisa masuk ke asrama. Kami hanya dipersilahkan berbicara di dekat pos jaga. Saya yang kebetulan membawa ID card jurnalis di dalam tas mencoba masuk ke asrama haji. Tanpa curiga, petugas keamanan mempersilahkan saya masuk. Betapa beruntungnya di hari itu. Dari obrolan ringan ada begitu banyak cerita di rumah, mulai dari acara persiapan, banyaknya tamu, sampai acara mengantarkan sampai Kota Kretek. Sesuai jadwal, Kloter dari Kudus akan berangkat Selasa (28/9) pukul 01.30 WIB dini hari. Tidak kalah serunya adalah ribetnya persiapan menjelang dan kepulangan haji nanti. Urusan oleh-oleh bagi masyarakat pun menjadi sesuatu yang ‘wajib’ sebagaimana ibadah haji itu sendiri. Sudah menjadi tradisi bahwa setiap tamu yang datang, baik sebelum berangkat ke Tanah Suci maupun pulang dari sana, para tamu akan pulang membawa oleh-oleh. Tidak jarang para calon jama’ah haji justru disibukkan dengan urusan ini. Apa yang akan disuguhkan kepada tamu, jenisnya apa, nominalnya berapa, sudah dipertimbangkan jauh-jauh hari. Definisi mampu pun tidak sekadar sanggup berangkat, tetapi juga mampu menyuguhkan oleh-oleh para tamu. Sebenarnya begitu banyak juga do’a yang ingin saya titipkan kepada bulekku ini. Dengan singkatnya saya meminta agar keluarga seluruhnya dapat segera berziarah ke Makkah dan Madinah secepatnya. Nanti biarlah berdo’a sendiri di sana sepuasnya. Saya pun yakin bahwa seluruh keluarga Bani Ali Hamim dapat segera menyempurnakan rukun Islam dengan menunaikan Ibadah Haji yang mabrur. Ya, semoga menjadi haji mabrur… Asrama Haji Donohudan, 27 September 2013

Oleh-Oleh Khas Semarang

Pagi itu, aktivitas yang dilakukan berbeda dengan biasanya. Menjadi sesuatu yang spesial karena sebelum pukul 09.00 WIB saya harus sampai di Semarang. Konon, ada perubahan besar dari Cempaka sehingga perlu menghadirkan teman-teman (jurnalis) kontributor di Jawa Tengah. Sebagaimana dalam bayangan, Semarang adalah kota yang panas, macet, dan tidak ramah lingkungan. Sekan semuanya serba semrawut. Beginilah sebuah kota yang selalu menampilkan dua sisi dan dinamika yang berbeda. Sebagai kota tua, Semarang mempunyai banyak cerita yang menarik untuk dibaca ulang untuk membandingkan perkembangan sebuah kota. Tahun 1405 diberitakan Laksamana Cheng Ho mendarat dan mendirikan kelenteng dan masjid yang sampai sekarang masih dikunjungi. Kelenteng itu kemudian dikenal Sam Po Kong. Tahun 1705 kota ini pernah dihadiahkan oleh Pakubuwono (PB) I kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1906 dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Walikota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda berakhir pada tahun 1942 dengan datangya pemerintahan pendudukan Jepang. Hari itu adalah kesempatan pertama saya masuk kantor Cempaka. Meski hampir satu tahun menjadi keluarga besar Suara Merdeka Group, tetapi belum pernah sekalipun tahu di mana dan seperti apa kantornya. Dulu sewaktu bergabung hanya bermodalkan sms dengan kordinator liputan. Setelah oke, saya pun melakukan liputan dengan berbagai pengalaman menjadi jurnalis yang dimiliki. Alhasil, beberapa tulisanku dimuat dan honor dikirimkan lewat rekening. Kantor Cempaka berada di Jalan Merak 11 A, tepat berada di depan Stasiun Tawang Semarang. Sebuah kebanggaan karena mendapatkan tambahan keluarga baru di Kota Atlas ini. Belum lagi jaringan (networking) teman-teman kontributor dari wilayah Jawa Tengah. Lumayan, tambah investasi kalau ingin ‘nyalon’ di masa depan. Acara utama acara siang itu adalah penegasan bahwa Cempaka adalah tabloid wanita Jawa Tengah, bukan lagi tabloid keluarga. Di usianya yang ke-24, media cetak dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Ketika media semacam ini tidak bisa memberikan sesuatu yang berbeda dengan lainnya, secara otomatis, media cetak akan tergeser. Dan perubahan ini adalah sebagai salah satu ikhtiar dari perusahaan untuk tetap mewarnai (wanita) Jawa Tengah. Terlebih lagi begitu banyaknya media online yang begitu menjanjikan dengan biaya yang lebih murah. Bisnis media massa menjadi menjanjikan karena dunia informasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Terlebih lagi jika dapat memberikan sesuatu yang berbeda, unik dan menarik. Ada banyak segmen yang bisa diambil dan dikembangkan. Prinsipnya, jika konten berita banyak digemari masyarakat, dengan sendirinya iklan atau sponsor akan datang dengan sendirinya. Mungkin itu sudah menjadi prinsip dalam dunia bisnis. Oleh karena itu menjadi dikenal bahkan ada di hati masyarakat luas menjadi perhatian utama perusahaan. Lebih Feminim Konsekuensi menjadi tabloid wanita berarti akan sedikit banyak mengubah tampilan dan juga gaya penulisan berita. Begitu pula dengan konten beritanya. Tentu ini memerlukan proses karena tidak bisa serta merta perubahan dilakukan dalam waktu sekejap. Semuanya memerlukan proses. Dan proses sangat berkaitan erat dengan waktu. Yang menjadi tantangan adalah di tingkat basis. Para jurnalis yang 90 persen adalah laki-laki diminta untuk lebih peka dan tahu tentang apa yang menjadi kebutuhan wanita. Dari situlah akan diketahui mana yang layak untuk ditulis dan mana yang tidak. Apapun tema yang diangkat, semuanya ditujukan untuk kepentingan wanita. “Bolehlah tampilan macho, tapi perasaan tetap kalem.” Cerita ini mungkin bisa dijadikan cerita (baca: oleh-oleh) selama seharian mengunjungi Kota Provinsi Jawa Tengah ini. Yang menjadikan khas, karena Semarang dengan segala kelebihan dan kekurangannya akan memberikan kesan yang berbeda bagi siapa saja yang mengunjunginya. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pulang dengan membawa spirit untuk terus menulis dan menulis. Ya, menulis dapat dilakukan oleh siapa saja, tak terkecuali seorang jurnalis. Semarang, 26 September 2013

Retribusi Pacaran

Suatu malam saya diajak teman untuk menikmati jajan bakso bakar di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Beberapa tahun belakangan pedagang kaki lima menjamur di sepanjang jalan kampus seni ini. Bakso bakar menjadi salah satu makanan primadona, tidak hanya bagi anak-anak tetapi juga mahasiswa dan orang dewasa. Ada yang menarik ketika kami sedang membeli bakso bakar. Berbeda dengan kampus lainnya, di ISI khusus setiap malam terdapat juru parkir yang memungut biaya keamanan bagi siapa saja yang nongkrong di sana. Jajan atau tidak, setiap kendaraan yang berhenti (baca: parkir) akan dikenakan biaya Rp 1000. Tak terkecuali dengan kami. Sebagian besar pembeli di tempat ini adalah anak-anak muda yang kemungkinan adalah mahasiswa. Suasana kampus yang nyaman dan asyik di malam hari menjadikan mereka menjadikan tempat ini sebagai pilihan untuk bersantai, apalagi dengan pacar. Umumnya setelah membeli jajanan, pembeli akan meninggalkan motornya dan nongkrong di arena panggung terbuka. Ketika kendaraan ditinggal itulah juru parkir datang dan meminta uang parkir atau lebih tepatnya retribusi pacaran. Tak terkecuali dengan kami. Setelah meninggalkan motor, juru parkir yang berada di jauh mulai mendekat. Ia kemudian menata kendaraan. Padahal ya sebenarnya tidak ada masalah dengan posisi parkir kami. Akan tetapi untuk menunjukkan perhatiannya, ia menata motor. Setelah itu ia mendekat dan memberikan karcis parkir. Tertulis dalam karcis itu parkir Zona E dengan tarif Rp 1000. Setelah kami memberi uang keamanan, juru parkir itu pergi meninggalkan kami, terkesan membiarkan saja. Juru parkir itu kemudian beralih kepada pembeli lainnya. Yang dilakukan sama, menata kendaraan kemudian meminta jatah. Lumayan sebenarnya jika halaman kampus cukup begitu luas dan ramai kemudian dijadikan kawasan parkir semua. Tentunya hasilnya cukup untuk mendapatkan nafkah yang layak. Menurut temanku, parkir semacam ini adalah “seni mengemis.” Aturan Parkir Di Kota Solo sejak tahun 2012 telah mencanangkan zona parkir yang berbeda di setiap lokasi. Penerapan tarif yang berbeda ini dimaksudkan pengendali lalu lintas atau lebih tepatnya mengurangi kemacetan yang tidak dapat dihindarkan lagi. Aturan ini kemudian diatur dalam Perda No. 9/2011 tentang Retribusi Daerah. Terdapat lima jenis tarif parkir di Solo, yaitu zona A, B, C, D, dan E. akan tetapi dua zona pertama (A dan B) belum dapat direalisasikan karena masih menunggu perbaikan infrastuktur dan perbaikan zona parkir yang sudah ditetapkan. Sebelum tarif parkir Zona A dan B ditetapkan, tarif parkir paling mahal ada di Zona C diberlakukan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo. Di jalur ini tarif yang ditetapkan untuk sepeda, andong, atau becak sebesar Rp 500, sepeda motor Rp 2000, mobil Rp 3.000, bus sedang Rp 5000, dan bus besar Rp 7000. Sedangkan tarif di Zona D dan E relatif lebih murah. Berdasarkan APBD 2013 target pendapatan UPTD Perparkiran adalah Rp 3,125 miliar. Namun target itu direvisi menjadi Rp 3,225 miliar berdasarkan APBD Perubahan (Solopos, 29/9/2013). adanya kebijakan ini diharapkan dapat menekan angka kemacetan di Kota Bengawan yang beberapa tahun terahir sangat padat kendaraan. Selain itu, dengan aturan ini juga diharapkan dapat memacu masyarakat untuk beralih ke angkutan umum. Ironis dengan apa yang menjadi kebijakan Pemkot Solo. Pasalnya pemerintah pusat belum lama ini pemerintah pusat membuat kebijakan yang kontradiktif dengan menerbitkan PP No. 41/2013 tentang mobil murah yang konon ramah lingkungan atau low cost and green car (LCGC). Pemerintah pusat seharusnya justru mendukung apa yang dilakukan pemerintah daerah yaitu dengan mempercepat pengadaan sistem transportasi massal yang murah dan (mungkin) juga ramah lingkungan. Banyak yang memsan mobil murah dengan harga di bawah Rp 100 juta ini indikator nyata dan menjadi ancaman kemacetan bukan lagi omong kosong. Entahlah... Solo, 30 September 2013

Sabtu, 28 September 2013

Semacam Kesempatan

Setiap orang diberikan kesempatan yang sama untuk hidup 24 jam setiap hari. Akan tetapi dalam memanfaatkannya, masing-masing orang berbeda. Perbedaan itu tidak lepas dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki tentang waktu. Dalam kehidupan ini, semua aktivitas manusia tidak dapat dilepaskan dari dimensi waktu. Setiap orang bergerak dan hidup bersama dengan waktu. Disadari atau tidak, semuanya membutuhkan waktu. Kejayaan, kekayaan, ketampanan, kecantikan, jabatan, dan semuanya membutuhkan waktu. Tanpa waktu yang tepat semuanya tidak memiliki arti apa-apa. Kemarin, tadi adalah ungkapan untuk menyebut masa lalu dan itu sudah tidak dapat diulang, apalagi diharapkan kembali lagi. Yang bisa dilakukan dari masa lalu adalah dengan mengubah persepsi saja, bukan masuk untuk kembali. Sedangkan nanti atau besok adalah ungkapan yang menyatakan kesempatan yang belum dapat digapai. Masa depan bersifat abstrak dan hanya dapat direncanakan bukan dijalani. Kita tidak bisa masuk sebelum waktunya tiba. Yang dimiliki manusia adalah sekarang, saat ini. Sudah berapa kali kita mengatakan “Begitu cepatnya waktu.” Jangankan sehari, tanpa orientasi yang jelas, waktu satu tahun dapat berjalan begitu cepatnya seakan tidak terasa. Waktu akan terus berjalan maju meninggalkan semua yang dilewatinya, termasuk kita. Waktu tidak peduli dengan apa yang dilakukan manusia, ia hanya berjalan lurus tak kenal kompromi. Semuanya hanya sekali terjadi. Ketika harus dikatakan berulang, itu hanya kemiripan pola saja, bukan waktu. Pagi hari ini berbeda dengan pagi kemarin, begitu juga seterusnya. Dulu kita pernah mengenal berbagai kejayaan dan peradaban besar di masa lalu, tetapi semuanya kini tinggal cerita dan ditinggalkan oleh waktu. Masih beruntung ada sesuatu yang ditinggalkan berupa karya sehingga masih dapat dikenang dan kembali diceritakan bahkan sampai sekarang. Begitu juga dengan kita kelak. Menembus Batas Satu hal lain yang senantiasa hadir bersama waktu adalah tempat. Antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Di mana ada tempat di situ ada waktu, begitu pula sebaliknya. Keduanya adalah sebuah kesempatan. Apa yang kita jalani sekarang sebenarnya adalah satu di antara dua dunia yang ada. Kehidupan di dunia bersifat sementara saja, tidak kekal. Sehingga apapun yang dimiliki dan dirasakan akan hilang. Sedangkan kehidupan setelah dunia (baca: akherat) bersifat kekal, termasuk apa saja yang ada bersamanya. Manusia tinggal di dunia memiliki batasan waktu tertentu, yang berbeda dengan kehidupan setelahnya. Waktu lagi-lagi hadir bersama, menembus batas dua dunia. Sekali lagi, ia tidak dapat kembali, tetapi terus maju dan kekal. Di dalam kehadiran waktu yang bersifat kekal terdapat banyak pelajaran dan kesempatan yang dapat kita ambil untuk menjadikan hidup selalu menjadi lebih baik. Tidak hanya di satu kehidupan saja, tetapi pada kedua-duanya. Solo, 29 September 2013

Jumat, 20 September 2013

Antara Kerja dan Belajar

Waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB. Ia belum dapat memejamkan mata. Entah mengapa di malam itu ada motivasi besar di dalam dirinya untuk segera menyelesaikan malam dan melakukan apa yang dapat dikerjakan esok hari. Antara kerja dan belajar. Ada begitu banyak rencana yang akan dilakukan esok hari. Semuanya menumpuk di dalam kepala. Tidak ingin semangat itu menguap dan hilang, ia pun memutuskan untuk sekadar menuliskan di netbook agar semuanya tidak menumpuk di dalam kepala. Akan tetapi yang masih mengganggu adalah antara pekerjaan dan kegiatan belajarnya. Selesai kuliah (S1) bukan berati minat untuk belajar sudah terhenti dan putus. Yang ia rasakan justru sebaliknya. Meski sudah menyandang gelar sebagai seorang sarjana, akan tetapi pemahaman tentang sastra masih sangat minim, bahkan minus. Ia pun ingin belajar lebih lanjut tentang sastra, tentang aksara, membaca dan menulis. Tidak hanya itu, bahasa asing (English) juga ingin dipelajarinya kembali. Ia berfikir, belajar bahasa ini sejak sekolah dasar sampai di bangku kuliah, tetapi belum bisa juga berkomunikasi dengan baik. Apakah selama ini belajar hanya untuk mengejar nilai dan lulus ujian saja? Entahlah. Yang dia rasakan, semakin banyak belajar semakin menunjukkan betapa bodohnya manusia, tak terkecuali dirinya. Apakah wajar jika seseorang itu membanggakan ilmu yang dimiliki padahal di luar sana masih ada samudera ilmu yang lebih luas. Dan apakah kepandaian dan keberuntungan yang didapatkan adalah murni jerih payahnya, tentu bukan. Pikirannya pun kembali pada pekerjaan yang belum lama ini ditawarkan pada dirinya. Kebetulan saja waktunya bersamaan dengan rencana kegiatan belajar bahasa asing. Baginya, keduanya memiliki manfaat strategis. Di satu sisi, pekerjaan yang ditawarkan cukup menjanjikan karena menjadi Litbang di salah satu media lokal di Kota Solo. Dari pekerjaan itu ia dapat belajar banyak tentang dunia penelitian. Di sisi lain, bahasa asing adalah ilmu alat yang dapat menjadi salah satu kunci menjelajahi dunia. Terlebih lagi, ia sudah merencanakan sampai akhir tahun 2013 orientasi kegiatannya adalah belajar. Tidak ingin larut dalam kebingungan itu, ia pun lebih memilih untuk membaca buku dengan harapan rasa kantuk segera datang dan tidur. Semua pilihan akan memberikan konsekuensi yang berbeda. Tentunya Tuhan juga akan memberikan petunjuk dan banyak tanda yang akan mengarahkan apakah tetap melanjutkan rencana awal atau sebaliknya. Dijalani saja dengan ikhlas. Semoga diberikan pilihan yang terbaik. Bukankah hidup ini tidak hanya hitam dan putih saja, masih banyak alternatif lainnya. Solo, 18 September 2013

Rabu, 18 September 2013

PNS Pilih Orang-Orang Bejo

Bulan September ini banyak orang mencari informasi seputar penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Lowongan ini selalu ramai dan menjadi favorit waktu ke waktu. Kehidupan yang mapan dan adanya tunjangan dana pensiun menjadikan daya tarik tersendiri sehingga kesempatan ini banyak ditunggu-tunggu. Tahun ini ada begitu banyak instansi pemerintahan maupun kementerian yang membuka kesempatan menjadi abdi negara. Lulusan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta menjadi peminat terbesar lowongan bursa kerja ini. Dengan modal ijasah dan pas photo, seorang sarjana dari berbagai tingkatan dapat mendaftarkan diri secara online. Ada juga beberapa instansi yang sekaligus menyaratkan untuk melampirkan (upload) surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) dan Kartu Kuning dari Disnaker. Mendadak dua instansi tersebut ramai dikunjungi para calon pelamar untuk meminta surat-surat yang diperlukan. Buku-buku seputar sukses CPNS pun laris manis di pasaran. Cukup mencengangkan, karena dari waktu ke waktu lowongan yang ditawarkan selalu tidak sebanding dengan jumlah peminat yang ada. Misalnya saja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Total CPNS yang ditawarkan adalah 250 dengan berbagai jabatan. Akan tetapi di awal bulan jumlah pelamar sudah mencapai ribuan orang. Jumlah tersebut masih berpotensi untuk terus meningkat sampai pendaftaran ditutup pada pertengahan bulan ini. Berdasarkan formasi yang tersedia di setiap instansi, rata-rata yang dibutuhkan hanya satu CPNS saja. Ada beberapa yang membutuhkan lebih dari itu, tapi tidak sampai hitungan sepuluh. Persaingan di antara pelamar pun sangat ketat. Tentunya seorang pelamar harus berjuang keras agar dapat ‘mengalahkan’ pelamar lainnya. Persaingannya pun lebih ketat daripada memperebutkan kursi di dewan dalam bursa pemilihan umum. Berdasarkan survei yang dikutip dari keuntungan menjadi pns. html menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan. Sebanyak 60% para peserta tes CPNS adalah orang yang berniat mencoba-coba peruntungannya, atau mungkin mereka sudah penya pekerjaan tetapi tetap mencoba tes karena siapa tahu dapat lolos tes CPNS dan mampu memperbaiki taraf hidup. Sebanyak 20% peserta tes CPNS adalah mereka yang baru lulus kuliah (fresh graduate) dan tentunya ingatan serta semangatnya masih sangat segar. Harapan yang masih besar menatap masa depan inilah yang menjadikan mereka bersemangat untuk mencobanya. Sebanyak 10% peserta tes CPNS adalah orang yang merasa dirinya pasti lulus dan menganggap tes ini hanya formalitas saja. Misalnya karena dia sudah lama menjadi honorer yang memang sudah ada tempat untuknya atau karena hal lainnya. Dan kurang dari 10% orang yang memang bersungguh-sungguh belajar dan mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan tempat menjadi abdi negara. Fakta di atas memang bisa dibenarkan karena di LIPI saja dari total pelamar 8.188 per 12 September 2013 hanya ada 65 pelamar yang lolos verifikasi berkas. Artinya seluruh datanya lengkap. Sedangkan jumlah tersebut hanya ada 46 pelamar yang berkesempatan mengikuti tes CPNS. Kesempatan ini tentunya diberikan bagi mereka yang memenuhi persyaratan sebagaimana yang tercantum dalam formasi pendaftaran. Dapat disimpulkan bahwa ribuan calon pendaftar sebagian besar adalah coba-coba. Hal semacam ini juga terjadi pada depatemen lain seperti BKKBN, Kemensos, dan mungkin semua lembaga yang membuka CPNS. Wiraswasta Siapa yang tidak tergur menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dengan beragam fasilitas yang diberikan negara. PNS banyak diburu karena ada anggapan bahwa dengan menjadi abdi negara akan mendapatkan jaminan hidup, utamanya dalam bidang ekonomi. Beberapa (lagi) keuntungan menjadi PNS, di antaranya, mempunyai posisi yang kuat dan jaminan keamanan kerja karena diangkat dengan SK meneteri, gubernur, bupati atau walikota; kepastian gaji dan standar gaji tinggi ditmabah dengan berbagai tunjangan, baik tunjangan fungsional maupun jabatan; tidak ada PHK; jenjang kepangkatan yang jelas dan diatur oleh Undang-undang; peluang yang besar untuk berbagai promosi jabatan; peluang untuk mengikuti peningkatan SDM baik training maupun pendidika yang tinggi; dan adanya dana pensiunan yang dijam oleh pemerintah. Tidak mengherankan jika aneka fasilitas yang diberikan menjadikan dari waktu ke waktu lowongan menjadi pegawai negeri tidak pernah sepi peminat. Bahkan tidak jarang kesempatan ini menjadikan sebagian pelamar rela membayar ‘mahar’ terlebih dahulu untuk mendapatkan posisi yang diinginkan. Dan menjadi sebuah keprihatinan tersendiri karena kehidupan abdi negara lebih terjamin dan mapan daripada kelompok yang dilayani, yakni masyarakat. Ada yang berpendapat kehidupan PNS lebih terjamin daripada wiraswasta. Menurut penulis, PNS atau wiraswasta adalah sebuah pilihan. Dan masing-masing pilihan mempunyai alasan dan konsekuensi berbeda. Sebagian orang dengan menjadi PNS hidup akan terjamin kesejahteraannya dari segi ekonomi. Setiap hari mereka berangkat kerja dengan pakaian rapi dan jam yang tetap. Semuanya terkesan teratur. Meski demikian ada juga pegawai yang melepas status kepegawaiannya karena lebih ingin meneruskan kariernya. Sebagian lagi memilih wiraswasta karena menganggap PNS adalah pekerjaan yang mengekang kebebasan seseorang. Setiap hari para abdi negara bergerak, berkerja sebagaimana robot. Hanya rutinitas yang dijalankan, minim sesuatu yang baru. Tentunya pilihan ini tidak lepas dari sudut pandang dan pengalaman setiap orang yang berbeda-beda. Sekali lagi, ini adalah pilihan dan masing-masing mempunyai konsekuensi berbeda. Menyikapi perbedaan pendapat ini, penulis berpendapat, entah itu PNS atau masyarakat biasa, antara keduanya mempunyai tugas yang sama, yaitu sama-sama menjadi warga negara yang baik. Ketika menjadi pegawai, jadilah pelayan yang baik bagi masyarakat. Karena berbagai fasilitas yang diberikan termasuk dana pensiunan adalah himpunan uang dari masyarakat. Begitu juga masyarakat sebagai pengguna layanan setidaknya juga tahu kewajiban dan hak-haknya sebagai warga negara. Ketimpangan status semacam ini dapat dilihat dari instansi pemerintahan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ketika warga mengurus keperluan di instansi yang bersangkutan masih sering terdengar bisik-bisik bahwa pelayanannya lambat, dipersulit dan lain sebagainya. Tentunya sebagai pelayan masyarakat para pegawai juga tahu dan sadar bahwa masyarakat yang mereka layani memiliki berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Jadi tidak bisa dipukul rata. Memang ada yang butuh pelayanan khusus dan biasa. Layanilah masyarakat dengan mudah dan cepat. Toh, berbagai berbagai tunjangan yang diterima adalah uang masyarakat juga. Kalau bisa dipercepat mengapa harus dipersulit. Prinsip “orang pintar kalah dengan orang bejo” mungkin yang menjadi spirit dari mereka yang mendaftar sebagai CPNS. Banyaknya pesaing tidak menjadi penghalang untuk maju terus memperjuangkan impian, menjadi pelayan masyarakat. Memang, tidak ada salahnya untuk mencoba, apalagi tanpa ada pungutan biaya alias gratis. Dan pelamar tidak tahu hasilnya, lolos seleksi atau tidak kalau tidak dicoba. Sudah selayaknya jika perjuangan panjang menuju kursi PNS juga dibayar setimpal. Bukan dengan korupsi atau memperkaya diri, tetapi dengan menjadi orang bejo yang melayani masyarakat atau kepentingan bangsa ini dengan baik dan bertanggung jawab. Selamat mencoba, semoga menjadi orang-orang yang Bejo. Dimuat di Joglosemar, Kamis 19 September 2013

Minggu, 15 September 2013

Mari Kembali Pada Buku

Sejak kapan mulai mengoleksi buku, saya lupa tepatnya kapan. Yang jelas sebelum kuliah hampir tidak pernah saya memiliki buku bacaan, apalagi membacanya. Ketika kuliah di jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UNS tahun 2007 perlahan-lahan saya mulai mencintai buku bacaan. Sewaktu kuliah, membeli buku menjadi bagian dari aktivitas rutin. Setiap bulan diagendakan untuk membeli buku. Tidak lupa buku-buku yang dimiliki disampul dengan plastik mika. Bagiku, menyampul buku adalah salah satu bentuk penghormatan pada buku. Selain itu masih banyak, misalnya membaca sampai selesai, meresensinya, mendiskusikannya, dan masih banyak lainnya. Pertimbanganku, ketika belum bisa menghormati buku sepenuhnya, bukan berate lantas tidak mau membeli buku. Selain membeli buku setiap bulan, ada juga momentum yang tepat untuk belaja buku dalam jumlah banyak. Momentum itu tidak lain adalah “Pameran Buku.” Setiap ada pameran buku murah di Solo, hampir saya tidak pernah absen mengunjunginya. Dan membeli buku tentunya. Sebagai peminat buku yang masih awam, kualitas buku atau siapa penulisnya belum menjadi pertimbangan utama. Yang terpenting adalah buku tebal dan banyak serta harganya terjangkau. Bahkan sampai sekarang terkdang pertimbangan itu masih dipakai ketika membeli buku. Sudah cukup lama mempunyai koleksi buku, tetapi hanya beberapa buku saja yang mampu saya sampai tuntas. Sisanya hanya tertata di rak buku sampai banyak ditumpuki debu. Di tengah kesibukan yang cukup padat menjadikan aktivitas (baca: tradisi) membaca buku berkurang, bahkan hilang. Padahal membaca adalah jendelanya ilmu. Artinya, semakin banyak buku yang dibaca, apapun itu, akan menambah wawasan seseorang. Kondisi itu berlangsung cukup lama. Pelan tapi pasti, bulan demi bulan tak satu pun buku yang rampung dibaca. Padahal dulu sempat ada komitmen untuk (selalu) membaca buku utamanya koleksi pribadi. Di waktu luang hanya mampu membaca buku beberapa halaman saja dan itu sering berganti-ganti. Ibaratnya saya hanya menjadi penjaga perpustakaan. Mari Baca Lagi..! Ada sebuah motivasi dalam diriku untuk kembali menyambangi buku-buku yang tertata rapi di rak, minimal membersihkannya dari debu. Tumbuhnya semangat untuk membaca buku-buku yang belum terbaca ini ketika salah seorang teman memberikan tiga buah buku sebagai kado ulang tahun. Dari tiga buku itu, saya menemukan jawaban pentingnya membaca dan mengapa harus membaca. Tidak butuh waktu lama, tiga buku saya lahap dalam waktu singkat, tidak sampai sepekan. Entah mengapa setelah membaca tiga buku di atas, tumbuh kembali di dalam hati untuk meniru jejak sang penulis. Mungkin karena ada sedikit kesamaan dengannya yaitu sebagai jurnalis dan pernah bergiat di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Memang masih banyak kurang darinya, dua di antaranya adalah tradisi membaca buku (sastra) dan kemampuan menulisnya. Akan tetapi jika mau bukan berarti saya tidak bisa seperti dia. Saya pun punya kesempatan untuk meniru dan mengejar ketertinggalan ini. Membaca buku, utamanya adalah sastra mempu memberikan ruh dalam kehidupan ini. Sastra tidak memberikan hasil berupa materi, tetapi rasa yang menjadi spirit untuk menjadikan hidup lebih berwarna. Membaca buku adalah rekreasi di dunia kata-kata yang penuh makna. Buku berisi teks yang dapat membawa pembacanya menemukan kenikmatan. Sebagai pembaca bebas menikmati teks sesuka hati. Buku membentangkan sebuah kisah panjang, menjadi teman dialog, menumbuhkan semangat, mengundang kepiluan, menertawakan hidup, mempertanyakan makna masa depan, dan entah apa lagi. Mari membiasakan diri membaca buku dan juga menulis catatan. Solo, 6 September 2013